Sistem Tak Berkasih Sayang, Membuat Nyawa Gampang Melayang

Oleh :Dewi Fitratul Hasanah (Pendidik Generasi dan Pemerhati Sosial)

Lagi, jagad media kembali dibuat heboh oleh sebuah kasus pembunuhan. Tak sama dengan rentetan kasus pembunuhan yang sudah-sudah, kasus pembunuhan yang satu ini begitu dinilai sadis mengejutkan sekaligus membuat miris. Pasalnya, sang pelaku pembunuhan adalah seorang pelajar belia berusia 15 tahun yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Korbannya adalah seorang bocah kecil berusia 6 tahun yang tak lain adalah teman bermain adik pelaku sekaligus tetangganya. Korban dicekik, dicelupkan kedalam bak mandi berkali-kali dengan tubuh yang terikat dan mulut yang disumpal kain sampai tak bernyawa. Mayat korban disimpan/disembunyikan dalam lemari pakaian di kamar pelaku.

Diberitakan oleh medan.tribunnews.com (07/03/2020) bahwa pasca membunuh, pelaku secara sengaja membolos sekolah untuk kemudian melaporkan diri ke kantor polisi. Ia menceritakan ihwal pembunuhan yang dilakukannya dengan rasa puas dan tanpa penyesalan, lantaran inspirasi yang diperoleh melalui film-film horor yang suka ditontonnya telah berhasil disalurkan.

Maraknya kasus pembunuhan yang terjadi di berbagai negeri, termasuk negeri yang kita cintai ini senakin tak terelakkan. Kasus pembunuhan terus meningkat tanpa pandang status dan usia. Modus yang dilakukan pun selalu berbeda-beda dan tak kehabisan cara. Mulai dari meracuni, menyewa jasa, sampai dengan
penyiksaan sadis yang nyata dilakukan didepan mata dengan terencana seperti yang dilakukan pelajar belia ini.

Ngeri, ngilu perih dan miris menyaksikannya. Seorang pelajar yang seharusnya pada tangan-tangan merekalah sekerumpun prestasi tergenggam, seharusnya pada pundak-pundak merekalah nantinya masa depan bangsa ini bertopang. Namun, justru predikat laku biadab yang disandang. Krisis moral dan juga miskin arahan.

Menyaksikan peristiwa pembunuhan yang dilakoni pelajar tersebut, membuat kita merekam ulang kasus-kasus pembunuhan yang lain. Sekaligus mempertanyakan mengapa manusia bahkan manusia yang belum dewasa dengan mudahnya melakukan pembunuhan?

Salah satu faktor yang mempengaruhi seseorang untuk melakukan pembunuhan adalah pengaruh dari sesuatu yang terindra di disekitarnya, baik itu dalam ruang virtual (tayangan film atau games) maupun dalam ruang nyata (perlakuan kekerasan yang dialami, ketiadaan kepedulian dan perhatian serta kasih sayang dari keluarga terutama orangtua dalam lingkup lingkungan dll) yang keduanya tanpa disadari akan terekam dalam kepala dan perlahan membentuk karakter yang memicu untuk bertindak brutal. Adapun faktor yang tak kalah paling dominan adalah sebuah aturan negara yang menjunjung kebebasan. Dalam hal ini pelajar/remaja berusia tentunya membutuhkan bimbingan dan arahan dari keluarga, sekolah bahkan negara tentang hakikat hidup di dunia, yaitu untuk menjadi hamba yang taat pada penciptanya. Remaja perlu digiring untuk menjalankan kewajibannya dalam seluruh aspek kehidupan sehingga terarah, tidak bebas liar. Mereka harus memiliki pemahaman, kesadaran dan memiliki tujuan hidup dengan mengisi hari-harinya dengan aktivitas-aktivitas yang bernilai pahala sehingga kelak dapat menjejakkan kaki dijannah-Nya.

Jika menilik pada aturan atau sistem yang sedang diberlakukan di negeri ini, tak lain dan tak bukan adalah sistem demokrasi-kapitalis yang berasaskan liberalisme dan sekularisme. Sistem ini menjunjung nilai kebebasan sekaligus menolak keras aturan agama dalam kehidupan. Manusia tidak boleh menjadikan standart aturan agamanya sebagai standard kehidupannya. Sehingga, manusia membuat aturan sendiri sesuai hawa nafsunya. Padahal, mengeliminasi aturan beragama dari berkehidupan telah nyata membawa kesesatan dan kemudharatan. Manusia akan kehilangan tujuan hidup , tak peduli dengan kampung akhirat yang abadi. Melainkan hidup dengan orientasi kesenangan dan materi yang melenakan, namun sejatinya menjerumuskan.

Telah kita dapati bahwasanya tontonan-tontonan dan game-game produk luar negeri yang tidak layak dan membahayakan untuk ditonton generasi selama ini beredar bebas, mudah diakses dan dinikmati oleh siapapun. Sepanjang itu mendatangkan keuntungan materi, maka negara pun tak segan membiarkan.
Ini adalah cerminan negara yang abai dan teledor dalam mengurusi rakyatnya. Maka, wajar jika kasus pembunuhan acap terjadi. Pemerintah/negaralah yang secara tidak langsung mengkontruksi. Negara yang menganut sekularisme dalam sistem kapitalisme ini tidak akan bisa berperan sebagai penanggung jawab atas rakyatnya, apalagi memberikan jaminan pemenuhan kebutuhan pokok bagi rakyat. Termasuk jaminan akan keamanan, pendidikan dan kesehatan pada setiap individu rakyat. Negara lebih cenderung menyokong pihak pengusaha/pebisnis semata demi pemenuhan hasrat materi dengan menuding bahwa kasus-kasus pembunuhan yang terjadi ini semata karena kesalahan rakyat itu sendiri yang tak becus mendidik anak dan keluarga. Lempar batu sembunyi tangan, negara bak pecundang dalam singgasana kekuasaan.

Padahal dalam presfektif Islam, negara adalah peri’ayah (pelayan) dan perisai (pelindung) bagi rakyatnya, keberadaannya menjamin semua urusan dan kebutuhan ummat termasuk menjamin keamanan dari segala hal yang dapat mencederai akal dan badan. Salah satunya dengan membatasi/memfilter tontonan atau game-game dari berbagai media, jika ditengarai bertentangan dengan hukum syara’ secara tegas tanpa tergiur iming-iming materi yang nista. Undang-Undang dan peraturan yang diberlakukan dalam sistem negara Islam hanya berbasis pada akidah dan nash-nash syara, bukan berbasis dari undang-undang yang manusia rancang. Hukumnya berasal dari wahyu, bukan dari hawa nafsu.

Allah Swt, berfirman : “Bukankah Allah adalah sebaik-baik pemberi ketetapan hukum?” (QS. At-Tiin: 8).

Sudah selayaknya mereka (remaja) menerima perlindungan dari negara secara optimal. Hanya dengan kembali kepada sistem negara Islam secara kaffah, maka insyaalah remaja akan mendapatkan hak-haknya secara optimal dan mampu menjadi pengampuh peradaban ummat yang jaya gemilang. Sistem yang mendatangkan rahmat pada segenap alam. Sistem yang penuh akan kasih sayang dan tak mudah membuat nyawa gampang melayang.
Wallahua’lam bishshawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *