Sistem Sekuler Sumber Penyakit, Islam Solusi Hakiki

Oleh : Vikhabie Yolanda Muslim, S.Tr.Keb

 

Wajah Indonesia baru-baru ini kembali menjadi sorotan dunia internasional. Kali ini bersumber dari seorang mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan S3 dan kini namanya sontak membuat terenyuh dan menjadi perbincangan seluruh kalangan. Bukan tentang prestasi, tapi tentang kasus asusila yang mencoreng wajah NKRI.

Pria asal Indonesia, Reynhard Sinaga dihukum seumur hidup oleh Pengadilan Manchester, Inggris dalam 159 kasus pemerkosaan dan serangan seksual terhadap 48 korban pria, selama rentang waktu dua setengah tahun dari 1 Januari 2015 sampai 2 Juni 2017. BBC News Indonesia melaporkan, di antara 159 kasus tersebut terdapat 136 perkosaan, di mana sejumlah korban diperkosa berkali-kali.

Media Internasional menyebutkan bahwa kasus ini menjadi kasus pemerkosaan terbesar dalam sejarah Inggris hingga menyematkan predikat “predator seksual setan” kepada calon doktor ini. Predikat yang bukan isapan jempol belaka bahkan siapapun yang mendengarnya menjadi bergidik ngeri. Lebih daripada itu, dibalik kasus ini, lagi-lagi permasalahan orientasi seksual menyimpang yakni homoseksual atau yang lebih populer disebut sebagai LGBT mencuat dan semakin menimbulkan bau tak sedap. Ditinjau dari kacamata aktivis LGBT tentu mereka berteriak bahwa ini harus diperjuangkan dan tak boleh di diskriminasi. Disisi lain, teriakan kontra terhadap LGBT pun santer terdengar dari berbagai tokoh. Berbagai statement pun muncul baik dari kacamata budaya hingga kesehatan. Lantas bagaimana sebenarnya fenomena LGBT ini ditinjau dari aspek kesehatan?

LGBT dan HIV-AIDS

Abdul Hamid El-Qudah, Seorang Dokter Spesialis Penyakit Kelamin menular dan AIDS di Asosiasi Kedokteran Islam Dunia (FIMA) menjelaskan dampak yang ditimbulkan dari LGBT di antaranya adalah 78% pelaku homo seksual terjangkit penyakit kelamin menular. Rata-rata usia kaum gay adalah 42 tahun dan menurun menjadi 39 tahun jika korban AIDS dari golongan gay dimasukkan ke dalamnya. Sedangkan rata-rata usia lelaki yang menikah dan normal adalah 75 tahun. Lalu mengapa hubungan sesama jenis menjadikan seseorang lebih beresiko terkena HIV-AIDS?

Jawabnya tidak lain dan tidak bukan ialah karena seks anal. Seks anal menjadi pilihan yang umum bagi pasangan gay. Sebuah penelitian yang dimuat dalam International Journal of Epidemiology mengungkapkan bahwa tingkat risiko penularan HIV lewat seks anal lebih besar 18% dari penetrasi vagina. Pasalnya, jaringan dan lubrikan alamiah pada anus dan vagina sangat berbeda. Vagina memiliki banyak lapisan yang bisa menahan infeksi virus, sementara anus hanya memiliki satu lapisan tipis saja. Selain itu, anus juga tidak memproduksi lubrikan alami seperti vagina sehingga kemungkinan terjadinya luka atau lecet ketika penetrasi anal dilakukan pun lebih tinggi. Luka inilah yang bisa menyebarkan infeksi HIV.

Infeksi HIV juga bisa terjadi jika ada kontak dengan cairan rektal pada anus. Cairan rektal sangat kaya akan sel imun, sehingga virus HIV mudah melakukan replikasi atau penggandaan diri. Cairan rektal pun menjadi sarang bagi HIV. Maka, jika pasangan yang melakukan penetrasi telah positif mengidap HIV, virus ini akan dengan cepat berpindah pada pasangannya lewat cairan rektal pada anus. Tak seperti vagina, anus tidak memiliki sistem pembersih alami sehingga pencegahan infeksi virus lebih sulit dilakukan oleh tubuh.

Namun disamping itu timbul pula sanggahan lain. Lalu bagaimana dengan penggunaan kondom? Bukankah kondom mampu mencegah dari penularan penyakit menular seksual? Lalu seberapa efektif kah penggunaan kondom termasuk bagi para kaum LGBT?

Ada beberapa teori yang mendukung kurang efektifnya kondom dalam mencegah penularan HIV, salah satunya dari Amerika Serikat yang melihat pori-pori pada kondom yang lebih besar daripada ukuran virus HIV. Peneliti dari National Institutes of Health menguji butiran polystyrene bercahaya yang berukuran 110 nano meter (seukuran virus HIV) untuk dilewatkan pada kondom. Hasilnya terdeteksi adanya bocoran-bocoran yang bisa dilalui butiran tersebut pada 29 dari 89 kondom yang diuji. Ini adalah kasus kebocoran kondom yang bisa menimbulkan masalah kesehatan karena lolosnya partikel seukuran virus HIV.

Islam dan Kesehatan

Kesehatan dan Islam adalah dua konsep yang tidak dapat dipisahkan antara keduanya, karena sesuatu yang tidak dibolehkan dan terlarang dalam agama, tentu mempunyai efek bagi kesehatan individu. Allah telah menurunkan seperangkat aturannya yang tertuang dalam Qur’an dan hadits sebagai pedoman untuk menjalankan kehidupan.

Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) jika dipandang dari sudut pandang Islam merupakan masalah besar yang dampaknya sangat membahayakan bagi umat manusia. Sistem sekuler yang dianut dunia kini telah menumbuh suburkan LGBT hingga turut menjadi penyebar virus HIV-AIDS. Ajaran Islam melarang tegas perilaku menyimpang ini karena tidak sesuai dengan fitrah manusia. Allah SWT berfirman:

“Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan istri-istri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas” (QS. Asy-Syu’arâ: 165-166).

Islam sebagai Solusi Permasalahan Umat

Islam mengatasi permasalahan LGBT ini hingga ke akar-akarnya, dengan cara mengharamkan semua penyebab-penyebab penyakit ini, sehingga diharamkan perzinaan, homo seksual dan semua hal yang bisa menyebabkan keduanya. Hal inilah yang dapat memberikan perlindungan hakiki dari terserang penyakit kelamin dan mematikan.

Metode Islam dalam Melawan Penyakit AIDS terdiri dari sekumpulan aqidah dan falsafah yang lurus di masyarakat, karakteristik usia dan hubungan-hubungan sosial serta sekumpulan aqidah yang baku dalam memandang tiga pilar utama: manusia, alam semesta dan kehidupan. Dasar-dasar itu ditentukan oleh Allah melalui syariatnya yang sempurna melalui hukum syara’ dan batasan-batasannya yang benar dengan pola hubungan sosial antar manusia yang sesuai fitrahnya. Hal itu hanya bisa diwujudkan dalam sistem yang telah diwariskan oleh Rasulullah saw, lalu dilanjutkan oleh para Khulafaur Rasyidin hingga generasi selanjutnya.

Maka ketiadaan perisai ummat hari ini dan diterapkannya sistem buatan manusia, menyebabkan penyakit, kekacauan dan kerusakan terjadi dimana-mana. Maka solusinya ialah hanya kembali pada sistem dan hukum Allah yang diwariskan kepada Rasulullah Saw dalam naungan Khilafah Rasyidah yang sesuai manhaj kenabian yang harus diperjuangkan sekaligus menjadi tanggung jawab seluruh ummat Islam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *