SHOLAWAT dan SHOLAWATan

Oleh: Galih Maulana

Biar ndak dibilang “ndalil tok tapi gatau sholawatan yo kecut lur”
Biar ndak dibilang anti sholawatan.
_
Sholawat : mendoakan atau memohonkan berkah kepada Allah untuk nabi dengan ucapan, pernyataan serta pengharapan, semoga dia sejahtera
Sholawatan : seperti pada gambar
.
Memang.. sering sholawatan, sering hadir majelis sholawat adalah salah satu bentuk kecintaan kita kepada Rasulullah. Yang ingin saya sampaikan di sini adalah, bukan berarti yang jarang sholawatan itu tidak cinta pada Rasul kan ? Bukan berarti yang jarang hadir majelis sholawat itu tidak pernah sama sekali bersholawat kepada nabi bukan ?
.
Bukankah taat kepada perintah dan larangan Allah dan RasulNya merupakan bukti cinta kepada Allah dan RasulNya juga ?
Bagaimana jadinya jika sering bersholawat kepada Nabi namun masih sering juga bermaksiat kepada Allah dan Nabi ? Masih naracap misal, dan lain sebagainya..
Apa yang akan kita katakan kepada nabi nanti, jika nabi bertanya kepada kita di padang mahsyar dan hendak memberi kita syafaatnya kelak, aamiin. “Kamu umatku?” Kita jawab “iya ya Rasul, saya umatmu, sering bersholawat kepadamu dulu”, lalu dengan sedih beliau menjawab “tapi kenapa kamu dulu masih sering juga bermaksiat kepadaku?” Ya Allah.. apa yang akan kita jawab :(( ya, mungkin saja beliau tidak bertanya seperti itu dan langsung memberi kita syafaat karena saking begitu baiknya beliau, namun jika iya.. apa yang akan kita jawab 🙁
.
Bukankah berbeda itu fitrah ?
ada yang mendekat kepada al-Quran, ada yang sering bersholawat kepada nabi, ada yang mendekat ke hukum hukum Allah, ada yang belum maksimal melakukan itu semua ia cari teman yang sholih yang bisa menunjukkan kepada kebaikan-kebaikan.
_
Jika tolak ukur kecintaan kepada Rasulullah adalah seberapa sering datang ke majelis sholawat, maka maafkan aku yang belum bisa seistiqomah dirimu saudaraku.
.
Kita mungkin sedikit berbeda, namun kau tetap saudaraku. Barokallahu fiikum, yuk jaga ukhuwah. 🙂 semoga setiap sholawat yang kita lantunkan menambah kecintaan kita kepada Rasul, bukan menjadikan kita merasa lebih baik dari orang lain.
_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *