Setelah Konstantinopel, Khilafah adalah Bisyarah Selanjutnya

Oleh: Yani Ummu Farras Abiyyu, S.Pd.I

Peristiwa besar kaum muslimin dalam sejarah peradabannya tak lepas dari peristiwa penaklukan Kekaisaran Romawi Timur, yaitu kota Konstantinopel. Penaklukan kota Konstantinopel merupakan kabar gembira (bisyarah) dari Nabi Saw.

Baginda Nabi Saw bersabda: “Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pasukan.” (HR. Ahmad bin Hambal dalam Al-Musnad 4/335)

Dari Abu Qubail berkata, Ketika Nabi Saw ditanya tentang kota manakah yang dibuka terlebih dahulu: Konstantinopel atau Rumiyah? Nabi saw menjawab: “Kota Heraklius (konstantinopel) dibuka lebih dahulu.” (HR. Ad-Darimi dan Al-Hakim)

Rasulullah Saw mengucapkan kata-kata itu 850 tahun sebelum pembebasan Konstantinopel. Benteng Konstantinopel sudah berusaha ditaklukkan dimulai dari Zaid bin Muawiyah. Dan perjuangan pembebasan terus dilanjutkan oleh para Khalifah sesudahnya. Lebih dari 800 tahun umat Islam menantikan terwujudnya bisyarah (kabar gembira) Nabi Saw tersebut. Telah gugur banyak pemimpin-pemimpin kaum muslimin yang ingin meraih kemuliaan menjadi pemimpin terbaik, hingga akhirnya Allah Swt izinkan terwujud bisyarah itu ditangan seorang pemuda, Sultan Mehmed II, Khalifah Kekhilafahan Utsmaniyah, yang kemudian masyhur dikenal dengan nama Muhammad Al-Fatih.

Al-Fatih memimpin penaklukan Konstantinopel dan melakukan pengepungan sejak 6 April 1453, hingga 29 Mei 1453. Al-Fatih sangat meyakini bisyarah dari Nabi Saw dan terus melayakkan dirinya untuk menjadi sebaik-baik pemimpin. Di siang hari al-Fatih mengatur strategi penaklukan, di malam hari ia ber-taqarrub kepada Allah Swt Sang Pemberi Kemenangan, memohon agar kemenangan diberikan kepadanya dan pasukannya.

Keyakinan al-Fatih akan kebenaran janji Allah Swt dan bisyarah Nabi Saw membuatnya terus memaksimalkan upaya perjuangan. Mulai dari membuat Meriam raksasa untuk menembus benteng kokoh Konstantinopel. Tak hanya melakukan serangan darat, al-Fatih juga melakukan serangan laut agar bisa masuk ke pusat kota walau gagal karena terhalang oleh rantai raksasa. Rantai raksasa di Laut Marmara itu menyulitkan pasukan Al-Fatih melakukan serangan.

Hingga akhirnya, Sang Pemimpin terbaik ini, karena keyakinan kuatnya akan janji Allah Swt memikirkan sesuatu yang tak pernah dipikirkan oleh orang lain. Gagal menembus tembok dan menaklukkan rantai raksasa, al-Fatih lalu memerintahkan pasukannya untuk memindahkan 70 kapal melewati bukit agar sampai ke Selat Bosporus, pertahanan terlemah Konstantinopel. Proses pemindahan kapal itu hanya dalam waktu satu malam. Tepat di tanggal 29 Mei 1453 Al-Fatih berhasil menaklukkan Kota Konstantinopel sekaligus membuktikan kebenaran bisyarah Nabi Saw.

Cita-cita besar dan keyakinan yang kuat kepada Allah dan Rasul-Nya menjadikan Konstantinopel senantiasa berada di mata Al-Fatih. Ke mana pun ia memandang, di sanalah ia melihat Penaklukan Konstantinopel. Dan bersungguh-sungguh mempersiapkan diri menyambut kemenangan tersebut.
Keyakinan dan kesungguhan al-Fatih hendaknya dijadikan contoh bagi kaum muslimin yang merindukan kembalinya kehidupan Islam dengan tegaknya Khilafah Islamiyah tsaniyah (Khilafah yang ke dua). Sebab hadirnya Kembali Khilafah merupakan janji Allah Swt sekaligus bisyarah dari Rasulullah Saw.
Allah Swt berfirman: “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal shaleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apapun. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nuur: 55)

Dalam ayat ini Allah Swt menjanjikan kekuasaan di muka bumi kepada orang-orang beriman dan beramal shaleh. Dengan kekuasaan itu kokohlah Islam sebagai satu-satunya agama yang tak hanya menjadi agama yang diyakini oleh kaum muslimin, tapi juga menjadi sebuah ideologi (sistem kehidupan). Islam dengan seluruh hukum-hukumnya yang terpancar dari Akidah Islam akan ditegakkan secara menyeluruh. Sebab Islam takkan tegak tanpa adanya kekuasaan.

Imam al-Ghazali berkata: “Agama dan kekuasaan seperti saudara kembar. Agama adalah pondasi, sedang kekuasaan adalah penjaga. Sesuatu yang tidak punya asas akan runtuh, dan sesuatu yang tidak punya penjaga akan hilang dan lenyap.”
Kekuasaan itu adalah Khilafah. khilafah menurut Syekh Rasyid Ridha dalam kitabnya Al-Khilafah menyebutkan :

الْخلَافَة، والإمامة الْعُظْمَى، وإمارة الْمُؤمنِينَ، ثَلَاث كَلِمَات مَعْنَاهَا وَاحِد، وَهُوَ رئاسة الْحُكُومَة الإسلامية الجامعة لمصَالح الدّين وَالدُّنْيَا

Al-Khilafah dan Al-Imamah Al-Udzmaa, dan Imarotul Mukminin, adalah tiga kata yang memiliki kesamaan makna; yaitu kepemimpinan pemerintahan Islam secara keseluruhan untuk kemaslahatan agama dan keduniaan.

Al-Mawardi juga menyebutkan dalam kitabnya Al-Ahkam As-Sulthoniyah bahwa Khilafah adalah :

الْإِمَامَة مَوْضُوعَة لخلافة النُّبُوَّة فِي حراسة الدّين وسياسة الدُّنْيَا

Al-Imamah/Pemimpin adalah sebuah kedudukan untuk mengganti kenabian dalam hal peramutan agama dan mengatur politik keduniaan.

Khilafah merupakan sistem pemerintahan Islam, yang menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai sumber hukum-hukumnya. Serta akidah Islam sebagai asas negaranya. Khilafah telah menjadi Ijma’ para shahabat dan menjadi perkara yang disepakati oleh alhul ‘ilm.

Sejak hijrahnya Nabi Saw ke Madinah, beliau Saw mendirikan Daulah Islam, lalu beliau Saw wafat, Abu Bakar radhiallahu ‘anhu menggantikan beliau. Bukan menggantikan Nabi Saw sebagai Nabi dan Rasul, melainkan menggantikan Nabi Saw sebagai pengatur urusan agama dan dunia. Abu Bakar radhiallahu ‘anhu kemudian digelar khalifah Rasulullah (pengganti Rasulullah Saw) dalam memimpin kaum muslimin dan mengatur urusan mereka sesuai dengan aturan Islam.

Terus berlangsung kekuasaan di tangan orang-orang beriman dalam naungan Khilafah Islamiyah hingga runtuh pada tahun 1924 M ditandai dengan runtuhnya kekhilafahan Utsmaniyah yang merupakan Khilafah Islamiyah ditangan kafir penjajah. Sejak saat itu lenyaplah eksistensi Khilafah Islamiyah hingga kini kaum muslimin tak lagi hidup dalam naungan Khilafah. Kini kaum muslimin harus hidup dalam cengkraman kafir penjajah, dan memaksa kaum muslimin menerima ideologi kapitalisme yang sangat bertentangan dengan Islam.

Kaum Muslimin selama 96 tahun hidup tanpa seorang pemimpin yang melindungi mereka. Tanpa Khilafah kaum muslimin mengalami penindasan, penjajahan, bahkan mereka tak bisa hidup dalam ketenangan dan ketentraman. Mereka menjalani kehidupan yang diatur dengan hukum-hukum buatan manusia. Dalam kekuasaan penjajah, kaum muslimin hidup dalam kesengsaraan dan keresahan yang terus menerus. Kapitalisme menciptakan kondisi masyarakat yang jauh dari Islam, tatanan akhlak, Islam dan kaum muslimin dimusuhi. Satu-satunya kekuasaan yang mampu mengantarkan kaum muslimin pada kesejahteraan dan kehidupan aman sentausa hanyalah kekuasaan Islam yakni Khilafah, sebagaimana Allah Swt janjikan.

Ditengah kesulitan hidup yang diciptakan oleh ideologi kapitalisme, hendaklah kaum muslimin bersabar serta terus berjuang mempertahankan keimanan sekaligus bersungguh-sungguh menyambut janji Allah dengan mewujudkan tegaknya kembali Khilafah. Karena Nabi Saw telah menyampaikan kabar gembira akan tegaknya kembali Khilafah setelah masa keruntuhannya. Rasulullah Saw bersabda:

“Ditengah-tengah kalian terdapat masa kenabian, atas izin Allah ia tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian aka nada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian aka nada kekuasaan yang dzalim, ia akan tetap ada. Lalu Dia mengangkatnya jika berhendak mengangkatnya. Kemudian aka nada kekuasaan diktator yang menyengsarakan, ia juga ada atas izin Allah dan akan tetap ada. Selanjutnya aka nada Kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.” (HR. Ahmad, dalam Musnad-nya, Abu Dawud dalam Musnad-nya)

Hadits shahih (menurut al-Hafidz al-‘Iraqi dalam kitab Muhajjat al-Qurb ila Mahabbat al-‘Arab) ini merupakan bisyarah akan hadirnya kembali masa Khilafah yang mengikuti metode kenabian, setelah sebelumnya lenyap (runtuh). Rasulullah Saw menyampaikan bisyarah kembalinya masa Khilafah, sebagaimana menyampaikan bisyarah akan ditaklukannya kota Konstantinopel. Dan sungguh akan terwujud kehadiran Khilafah sebagaimana terwujud penaklukan Konstantinopel.

Al-Fatih menjadikan penaklukan Konstantinopel sebagai perkara utama dalam kehidupannya, lalu Allah membuktikan janji-Nya dengan memberikan kemenangan kepadanya dibarengi dengan persiapan yang menjadikan al-Fatih layak mendapatkan kemenangan itu. Lantas bagaimana dengan kaum muslimin? Sudahkah mereka menjadikan Khilafah sebagai perkara utama dalam kehidupan? Sudahkah mempersiapkan berbagai perjuangan dan memantaskan diri agar layak mendapat kemenangan itu? Sudahkah menempuh segala cara mewujudkan hadirnya Kembali Khilafah sebagaimana segala cara ditempuh al-Fatih demi mewujudkan janji Allah? Sudahkah mencurahkan segala daya dan upaya dalam menyambut bisyarah Nabi Saw?

Jika al-Fatih mendapat gelar sebaik-baik Pemimpin, maka kaum muslimin yang teguh dalam dakwahnya, terus menerus berjuang demi mewujudkan janji Allah, gelar sebagai sebaik-baik Umat akan diraih. Allah Swt berfirman:
“Kalian adalah umat yang terbaik, yang dihadirkan ditengah-tengah manusia, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah daru yang mungkar dan beriman kepada Allah.” (QS. Al-Imran: 110)

Khilafah akan mengantarkan kaum muslimin menjadi pemimpin seluruh bangsa dan seluruh umat, menjadikan mereka umat yang mulia. Khilafah juga akan melakukan dakwah dalam rangka menyebarkan rahmat Islam ke seluruh dunia, dan membawa cahaya dan petunjuk Islam kepada seluruh manusia.
Hendaklah kaum muslimin meyakini kebenaran janji Allah dan membuktikan kebenaran bisyarah Nabi Saw akan hadirnya kembali kekuasaan orang-orang mukmin dalam bingkai Khilafah dengan bersungguh-sungguh berjuang mewujudkannya. Seberat apapun medan yang dihadapi, sesulit apapun rintangan yang dilalui, keimanan yang kokoh akan membuat kaum muslimin melihat apa yang mereka yakini, tidak meyakini apa yang mereka lihat. Dipadangannya yang nampak hanyalah kemenangan Islam, dan mereka meyakini kemenangan itu.

Setiap menemukan kesulitan, mereka akan memandang kesulitan itu perkara kecil, sedangkan Allah itu Maha Besar, dan janji-Nya itu pasti, dan setiap yang pasti itu dekat, janji Allah itu sudah sangat dekat. Itulah bekal al-Fatih meraih kemenangan. Dan itu pulalah bekal kaum muslimin mewujudkan kembalinya khilafah ‘ala minhajin nubuwwah. InsyaAllah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *