Seruan Atas Khilafah dan Respon Rezim Sekuler

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh : Khaulah (Aktivis BMI Kota Kupang)

“Sekarang Hagia Sophia dan Turki bebas. Bersiaplah untuk kekhalifahan. Jika tidak sekarang, lalu kapan? Jika bukan kamu, lalu siapa?”

Pertanyaan yang tercantum dalam sampul Gercek Hayat terbitan 27 Juli ini ditolak mentah-mentah oleh partai berkuasa Turki. Juru bicara Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), Omer Celik mengatakan bahwa Turki adalah negara demokratis dan sekuler berdasarkan aturan hukum. Juga bahwa Republik Turki akan berdiri selamanya di bawah kepemimpinan presiden kita, yang tak lain Presiden Recep Tayyip Erdogan. (wartaekonomi.co.id, Rabu 29 Juli 2020).

Seruan majalah Gercek Hayat perihal kekhalifahan memicu lahirnya kemarahan di media sosial. Majalah ini juga memuji keputusan Presiden yang mengubah Hagia Sophia menjadi masjid. Hal ini seperti yang dilansir dalam laman republika.co.id.

Sudah barang tentu setiap muslim bersuka cita atas perubahan status Hagia Sophia. Apalagi di tengah sistem sekuler. Sungguh mengingatkan mereka akan fenomenalnya perjuangan Muhammad Al-Fatih yang mengubah Hagia Sophia menjadi masjid saat penaklukan kota terbaik waktu itu.

Seruan Gercek Hayat juga tentu membawa angin segar bagi orang-orang yang telah lama menanti hadirnya. Bagaimana tidak, seruan majalah Gercek Hayat setelah pengembalian status Hagia Sophia mendapat sambutan dari umat. Jelas bahwa umat sudah muak atas sistem sekuler hari ini yang telah gagal memberi sumbangsihnya terhadap problematik umat. Umat menginginkan adanya perubahan atas kegagalannya dengan menaruh harapan besar pada sistem Islam.

Namun, seruan ini justru mendapat penolakan dari rezim sekuler. Dengan lugas mengatakan bahwa Turki adalah negara sekuler dan akan berdiri selamanya. Pernyataan penolakan ini menyiratkan begitu kokohnya mereka memegang asas sekularisme serta kuatnya paham nasionalisme yang dianut. Jelas sekali sistem sekuler memusuhi Islam. Berada di garda terdepan, berikhtiar menghalangi tegaknya daulah Islam.

Partai berkuasa Turki juga mengatakan bahwa seruan dari gercek Hayat tak termasuk dalam agenda Turki. Jelas saja, bagaimana mungkin rezim sekuler menjadikan tegaknya daulah Islam sebagai ‘program kerja’ mereka? Di mana tegaknya daulah Islam justru menjadi ancaman bagi sistem sekuler. Karena keduanya punya sekat yang jelas terlihat.

Pertanyaan dalam majalah Gercek Hayat dinilai merujuk kepada Presiden Erdogan. Benarkah umat berharap tegaknya Khilafah di tangannya? Tentu saja. Apalagi sumbangsihnya yang begitu luar biasa merasuk dalam diri umat, yaitu mengembalikan Hagia Sophia menjadi masjid.

Tetapi kembali lagi, bahwa yang menaungi kita hari ini ialah sistem sekuler. Sistem yang memisahkan agama dari kehidupan (fashl ad-din ‘an al-hayah wa ad-dawlah). Oleh karena itu, walau di negara yang kaum Muslimnya mayoritas sekalipun pasti dijumpai adanya keabnormalan. Ialah kaum Muslim sendiri yang menghalangi tegaknya daulah Islam.

Sekularisme menolak syariat Islam dijadikan peraturan dalam hidup, apalagi secara keseluruhan. Padahal pada hakikatnya kaum Muslim yang mengaku beriman seharusnya menaati syariat Islam secara keseluruhan. Allah SWT berfirman dalam QS. al-Baqarah [2] : 208 yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu”.

Di sistem sekuler hari ini marak ditemui kaum Muslim yang bahkan memusuhi ajaran Islam, terkhusus Khilafah. Mengapa? Karena kaum Muslim telah dijejali berbagai paham ajnabi. Mereka lebih nyaman dengan nasionalisme yang merenggut persaudaraan atas dasar keyakinan. Persatuan antar saudara sekeyakinan hanya terlihat tatkala hari-hari besar Islam tiba. Mereka inilah yang sangat lengket dengan rezim sekuler.

Sedangkan kaum Muslim yang sadar akan kewajiban tegaknya daulah Islam justru sebaliknya. Tatkala menyuarakan Khilafah, sudah pasti dikriminalisasi oleh rezim. Dengan kekuasaan di genggaman, tentunya dilakukan dengan ringan tangan.

Sungguh miris fenomena hari ini. Sudah seharusnya kita tak berharap banyak pada rezim sekuler. Karena tidak ada jalan keselamatan dan kesejahteraan serta mendatangkan keridhaan Allah SWT selain sistem Islam. Allah SWT berfirman “Hendaklah kamu menetapkan hukum di antara mereka menurut wahyu yang telah Allah turunkan. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Waspadalah kamu terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian wahyu yang telah Allah turunkan kepadamu. Karena itu jika mereka berpaling, sungguh Allah bakal menimpakan musibah kepada mereka karena sebagian dosa-dosa mereka. Sungguh kebanyakan manusia itu fasik. (QS. al-Maidah [5] : 49).

Oleh karena itu, sudah seharusnya kaum Muslim tetap berjuang. Melakukan amar makruf nahi munkar serta setia memuhasabahi penguasa. Semoga timbul kesadaran bagi umat bahwa sistem hari ini adalah sistem yang cacat sedari lahir. Maka, sudah sepantasnya umat kembali pada pangkuan sistem sahih, sistem Islam.

Wallahu a’lam bishshawab.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.