Sertifikasi Umat Terbaik, Tak Perlu dari Manusia

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh Rumaisha 1453 (Aktivis BMI-Community Kota Kupang)

 

“ Aku lebih menyukai malam yang sangat dingin dan bersalju, di tengah-tengah pasukan yang akan menyerang musuh pada pagi hari, daripada malam saat aku mendapat pengantin yang aku cintai atau saat aku diberi kabar kelahiran anak laki-laki.” Beliau adalah lelaki yang telah mengguncangkan Kisra di Persia dan Kaisar Romawi. Lantas bagaimana dengan Pengemban Islam saat ini di tengah arus moderasi?

Masifnya moderasi Islam saat ini, membuat para pendengki Islam semakin menggunakan berbagai cara. Dari cara yang masuk akal, sampai cara tak masuk akal pun dicoba. Diberitakan dari hasil Rapat Kerja Komisi VIII DPR, Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil mengatakan akan melakukan sertifikasi para dai. Dai dan penceramah akan disertifikasi wawasan kebangsaan. Hal ini dilakukan dalam rangka menguatkan moderasi beragama. (https://www.republika.co.id, 04/06/2021).

Pernyataan Menteri Agama (Menag) menuai polemik. Sekretaris Jenderal (Sekjen) MUI Dr. Amirsyah menolak rencana tersebut dengan alasan tidak jelas manfaatnya bagi para dai dan penceramah. Selain MUI Ketua Umum Ikatan Dai Seluruh Indonesia (Ikadi) KH Ahmad Satori juga menilai jangan sampai ada syawat-syawat dari golongan tertentu dalam sertifikasi ini, seharusnya sertifikasi dai ini harus bertujuan hanya karena Allah Swt. (https://ayobandung.com, 04/06/2021).

Di negeri yang mayoritasnya adalah kaum muslimin, arus moderasi sangatlah masif. Program dai bersertifikat pun sudah ada di masa Menteri Agama (Menag) sebelumnya. Padahal, dakwah adalah kewajiban untuk setiap muslim. Kaum muslim wajib mempertanyakan alasan yang masuk akal akan program pemerintah dalam hal ini Menag. Program yang sudah banyak menyudutkan umat Islam sendiri, terutama dai.

Di tengah persoalan bangsa yang belum terselesaikan. Korupsi yang merajalela, pandemi covid-19 yang belum terselesaikan dengan baik. Seakan-akan semua problematika di negeri ini sudah terselesaikan. Sehingga yang diperhatikan pun kemudian adalah persoalan dai bersertifikat. Seharusnya pemerintah patut bersyukur, di tengah banyak persoalan di negeri ini, masih banyak penyebar kebaikan. Karena dengan adanya para dai dan penceramah akan memberikan dampak yang baik, karena menyeru kepada kebaikan.

Hakikat dari kebaikan akan selalu bertolak belakang dengan kebatilan. Adanya program ini bukan untuk meningkatkan kompetensi dan kualitas dari pengemban dakwah. Melainkan dibalik dari program ini ujung-ujungnya atas dasar kepentingan. Kepentingan siapa lagi, kalau bukan kepentingan penguasa. Itulah hakikat negara yang mau tunduk dan patuh pada sistem demokrasi. Semua atas dasar kepentingan, jika yang diserukan bertentangan dengan kepentingan, siap-siap akan ditumbangkan.

Hal ini mengakibatkan akan ada intervensi pemerintah yang hari ini nyata-nyata membenci Islam. Yakni terhadap konten para penceramah untuk menutupi kebenaran Islam yang sesungguhnya. Dan kemudian melanggengkan kekuasaan rezim anti-Islam, sebab konten dan penceramah yang ada di tengah umat hanya yang prorezim.

Para pengemban dakwah diaruskan agar mendakwahkan Islam searah dengan kepentingan rezim. Sehingga dakwah diarahkan pada moderasi, toleransi, hingga pluralisme versi rezim. Di lain sisi, akan membungkam sikap kritis dari seorang pengemban dakwah. Mendakwahkan Islam kafah dan memberikan muhasabah kepada para penguasa. Inilah serba-serbi di negeri yang menganut sistem demokrasi-sekuler. Demikianlah, dalam sistem kufur para pengemban dakwah mendapatkan penentangan yang luar biasa.

Berbeda jauh dengan Islam dalam memperlakukan para dai dan penceramah. Karena dalam Islam, dakwah adalah kewajiban dan amalan yang sangat mulia. Dan dinyatakan dalam berbagai ayat yaitu QS Ali Imran: 104, QS Al Ashr: 3, dan masih banyak kalam Allah Swt yang mengabarkan tentang hakikat dakwah. Dakwah pun pada akhirnya akan dijamin oleh negara yang menerapkan sistem Islam bukan sistem sekulerisme.

Negara Islam akan menjamin tertunaikannya kewajiban dakwah dan akan melindungi para pengemban dakwah dari berbagai ancaman dan tekanan. Bahkan negara Islam akan memfasilitasi dakwah, dengan membuka masjid untuk kajian keislaman. Memberikan kesempatan para dai untuk menyampaikan Islam kaffah di semua media massa. Negara akan mengarahkan dan mengontrol kontenya agar yang disampaikan adalah ajaran Islam secara menyeluruh.

Negara Islam juga akan membiayai dakwah dan memastikan dakwah sampai ke pelosok. Karena salah satu misi dari negara Islam adalah mendakwahkan Islam ke seluruh alam. Selain itu, dakwah juga merupakan salah satu ciri dari umat terbaik. Sebagaimana firman Allah Swt yang artinya, “ kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah…”

Untuk itu mari persiapkan diri menjadi pengemban dakwah Islam tangguh. Mengembalikan predikat umat terbaik dengan bersama berjuang menegakan kembali ‘ izzul Islam wal Muslimin . Tirulah kegigihan Rasulullah saw dan para sahabat dalam menyebarluaskan Islam. Bersiaplah menjadi pemenang dalam pertarungan sengit antarperadaban. Hanya ada satu peradaban yang memimpin dunia. It is time for Khilafah to lead the world, the greatest ages ever . InsyaAllah .

WalLahu a’lam bi ash-shawab

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.