Sengatan Tarif Listrik Masa Pandemi

Oleh: Ayu Ningrum (Aktivis Mahasiswa Kota Kupang)

Listrik merupakan hal vital untuk menunjang kehidupan masyarakat dewasa ini. Mulai dari aspek penerangan sampai kebutuhan akan air semuanya butuh listrik. Wabah Covid 19 yang sekarang terjadi jelas berdampak pada masyarakat, khususnya dalam memenuhi kebutuhan hidup termasuk biaya akan listrik perbulannya menjadi hal yang dipikirkan sebagai penunjang aktivitas sehari-hari.

Bebicara kenaikan tarik listrik akhir-akhir ini, Pihak PLN (Persero) mengaku tidak menaikkan tarif Listrik melainkan menyampaikan bahwa lonjakan pada sebagian pelanggan tersebut semata-mata disebabkan kenaikan konsumsi listrik saat Work From Home (WFH) atau kerja dari rumah. (jabar.sindonews.com,07/06/202)

Merespon keluhan-keluhan dari masyarakat, PT PLN (Persero) angkat suara, “Pada ininya PLN itu tidak melakukan kenaikan tarif karena tariff itu adalah domain pemerintah…” (detik.com,07/06/2020). Dari pernyataan pihak PLN kita dapat melihat bahwasannya kenaikan tarif listrik dilakukan langsung oleh pemerintah.

Dengan berbagai kebijakan yang diambil pemerintah untuk menangani wabah ini, terlihat sangat plin-plan. Diatas mimbar mereka menyuarakan keadilan dan kesejateraan untuk masyarakat. Setelah turun dari mimbar, mulailah dirancang berbagai kebijakan yang rakyat sendiri tidak merasa kalau sedang dipermainkan. Anggaran listrik yang dijanjikan untuk digratiskan selama pandemi bagi masyarakat menengah ke bawah, nyatanya hanya buakan belaka. Sebulan, dua bulan listrik digratiskan, masyarakat bahagia dan terlena.

Setelah bulan berikutnya penghidupan semakin susah karena pandemi yang tak usai. Ditambah lagi biaya listrik yang melonjak naik, dengan peningkatan sampai berjuta-juta. Kesulitan yang dirasakan masyarakat tidak jelas kapan akan berakhir. Rakyat sudah kesulitan memenuhi penghidupan sehari-hari, baik dalam memenuhi kebutuhan pangan dan keperluan tambahan di tengah wabah ini. Ditambah lagi disengat dengan kenaikan tarif listrik.

Kebijakan-kebijakan seperti ini diambil hanya menguntungkan pihak pemilik modal semata. Negeri ini memang dibanjiri oleh para pengusaha, yang pada akhirnya menjadi lintah darat bagi masyarakat. Masyrakat diisap darahnya sampai habis, sampai banyak juga yang menjadi korban. Akan tetapi pengusaha ini berlagak seperti pahlawan kesiangan didepan para penguasa. Karena kerjasama yang sangat langgeng, saling menguntungkan, dan lagi-lagi masyarakat yang menjadi korban atas semua ini.

Listrik memang sangat dibutuhkan masyarakat saat ini, apalagi disaat pandemi. Mau tidak mau, masyarakat harus siap menyerahkan darahnya secara gratis untuk lintah darat ini. Ditambah lagi mereka memalak rakyat dengan berbagai iuran-iuran. Kenaikan tagihan listrik ini bukan hanya mempengaruh masyarakat atas saja akan tetapi sangat berpengaruh dengan masyarakat bawah. Melihat berbagai komentar dari kalangan masyarakat, yaitu kalangan masyarakat sekelas sultan saja berkomentar keberatan tentang kenaikan tagihan listrik ini. Apalagi masyarakat bawah, sudah tentu lebih keberatan lagi. Kebutuhan masyarakat bawah akan listrik lebih minim, tetapi mereka harus bersedia membayar mahal, tanpa tahu siapa yang diuntungkan.

Sudah saatnya kita sebagai pemuda menyadarkan masyarakat akan kebobrokan sistem yang sekarang diterapkan. Yaitu, sistem kapitalis yang orentasinya pada kepentingan elit dan pemilik modal semata. Selama semua kebijakan bisa menyenyangkan dan membesarkan perut-perut penguasa maka kebijakan tersebut akan segera diketok palu dan disahkan. Lain dengan kebijakan yang tidak mengutungkan untuk mereka, tetapi sebenarnya menguntungkan untuk masyarakat. Maka jangan berharap kalau kebijakan tersebut disahkan dan dijalankan.

Memang berharap disistem seperti ini ibarat mimpi indah disiang bolong. Hanya bermimpi, akan tetapi tidak akan terwujud. Karena dizaman seperti ini umat dipimpin oleh pemimpin-pemimpin yang plin-plan seperti sabda Rasulullah Saw, “Akan datang sesudahku penguasa-penguasa yang memerintahmu. Diatas mimbar mereka memberi petunjuk dan ajaran dengan bijaksana, tetapi bila turun dari mimbar mereka melakukan tipu daya dan pencurian. Hati mereka lebih busuk dari bangakai.” (HR ath-Thabrani).

Dan saat ini pandangan Rasulullah Saw empat belas tahun yang lalu tentang pemimpin suatu kaum benar-benar terealisasi didepan mata. Apakah kita ingin terus bertahan dalam kepemimpinan seperti ini? Setiap manusia, pasti fitrahnya menolak untuk diperlakukan seperti ini. Oleh karena itu kita harus sama-sama berjuang mewujudkan kepemimpinan Islam yang akan menadi perisai dan pelindung umat. InsyaAllah akan terwujud dalam waktu dekat, bakda pandemi korona. Allahu Akbar.

WalLahu a’lam bi ash-shawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *