Sekularisme Melahirkan Generasi Durhaka

Oleh: Heriani Leli ( Komunitas Pena Ideologi Maros )

 

Setiap orang pasti tidak asing lagi dengan ungkapan “Surga berada dibawah telapak kaki ibu atau biasa diucapkan dalam bahasa Arab dengan kalimat al-jannau tahta aqdam al-ummahat”. Dengan Pernyataan tersebut, pasti akan terlintas pada pikiran kita bahwa setiap anak harus berbakti kepada ibunya.

Tapi sungguh miris di Negeri Indonesia ini, masih ada saja seorang anak yang durhaka kepada ibunya dan tidak mengambil pusing atas perlakuan buruk terhadap ibu kandungnya sendiri. Seperti yang terjadi baru-baru ini, kasus seorang anak yang tega menjebloskan ibu kandungnya kedalam penjara hanya karena perkara remeh yakni materi belaka.

Dikutip dari detik.com. Seorang anak berinisial A(19) melaporkan ibu kandungnya berinisial S (36)  ke polisi di Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Kini sang ibu yang berinisial S (36) mendekam dalam sel tahanan Polsek Demak Kota.”Ditahan sejak kemarin di Polsek (Demak) Kota. Karena berkasnya sudah lengkap atau P21,” ujar kuasa hukum terlapor S (36), Haryanto saat dihubungi detikcom, Sabtu (9/1/2021).

Diketahui bahwa S telah berpisah dengan suaminya dan setelah perpisahannya itu, A lebih memilih ikut tinggal bersama ayahnya. Pada saat itu, A datang kerumah S untuk mencari bajunya namun A tidak menemukan bajunya disebabkan karena S telah membuangnya. Dari disitulah akar percekcokan terjadi antara anak dan ibu hingga berujung pada luka yang tak disengaja di pelipis mata A.

Maka langsung saja A mengeluarkan dalih, dengan luka yang didapatkan dipelipis mata untuk melaporkan ibunya kedalam penjara dengan dugaan penganiayaan dan kekerasan dalam rumah tangga.

Kini rasa kemuliaan dan kasih sayang anak kepada ibu kandungnya memang sudah langka ditemukan dalam sistem demokrasi yang dibumbui dengan liberalisme. Jadi, tak heran kebebasan berprilaku dan berpendapat pun terjadi dimana-mana meskipun itu akan menimbulkan kerusakan.

 

Anak Durhaka Buah Dari Sekularisme

Sejatinya anak adalah buah hati dari orangtuanya, dan ibu adalah makhluk bagaikan malaikat tak bersayap bagi setiap anak. Pengorbanan dan perjuangan ibu mulai dari mengandung, melahirkan, menyusui, merawat sampai besar dan lain-lain, sungguh tidak akan bisa dibayar oleh anak dengan apapun.

Namun dalam Negeri yang menerapkan hukum buatan manusia yakni demokrasi kapitalisme, kasus Kedurhakaan kepada orangtua begitu sudah biasa terjadi. Karena demokrasi yang berasaskan sekularisme melahirkan paham bahwa agama harus dipisahkan dari kehidupan.

Tak sampai disitu, kapitalisme-sekularisme juga menjamin kebebasan perilaku (liberal) yang dibungkus dengan dalih HAM (Hak Asasi Manusia). Jadi, segala perilaku dan perbuatan pun akan diberi jalan tanpa pertimbangan halal maupun haram.

Jadi sudah terbukti bahwa, akar problem anak durhaka kepada orangtuanya tidak hanya berakibat dari sifat per-individu saja akan tetapi juga merupakan buah dari penerapan sistem kapitalisme-sekularisme yang terbukti gagal menjadi pengurus dan penjaga umat. Alhasil, tak sedikit keluarga  mengalami perseteruan dan pertengkaran sampai berujung pada kesengsaraan.

Oleh sebab itu, umat semestinya menyadari akan kejanggalan pada penerapan sistem yang tidak  pernah atau bahkan tidak bisa memberi solusi yang terbaik bagi segala permasalahan umat. Karena justru alih-alih memberi solusi tapi sistem inilah yang terus menerus melahirkan segala aspek permasalahan.

Maka dari itu, Kedurhakaan anak kepada orangtuanya tidak akan bisa tuntas selama hukum buatan manusia yang bersifat lemah masih diterapkan dalam Negeri ini.

Sudah saatnya umat harus meninggalkan dan mencampakkan kapitalisme-sekularisme dengan balutan liberalisme ini, dan sudah saatnya pula umat beralih pada sistem shahih yang mampu memberi solusi alternatif dan senantiasa akan menjaga kemuliaan, serta meninggikan derajat seorang ibu.

 

Islam Menjaga Kemuliaan Seorang Ibu

Dalam sistem Islam segala aspek kehidupan ada aturannya dan yang lebih istimewanya lagi, aturan itu langsung berasal dari sang maha pencipta (Allah SWT). Aturan dalam Islam begitu sangat sempurna, mulai dari mengatur hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan dirinya sendiri, sampai hubungan manusia dengan sesamanya.

Terkait masalah hubungan seorang anak kepada orangtuanya tentu juga ada aturannya. Dalam sistem Islam, Negara akan memantau bagi seorang ibu dalam menjalankan tugas utamanya yaitu menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya.

Begipun bagi setiap anak juga diatur dalam Islam tentang kewajiban berbakti kepada kedua orangtuanya, terutama kepada ibunya karena sosok ibulah yang melahirkan anak dengan susah payah, mulai dari mengandung sampai membesarkannya. Seperti dalam firman Allah SWT.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”. (QS. Al-luqman 14).

Islam begitu sangat memuliakan kedudukan ibu, bahkan sosok ibu pernah disebutkan Rasulullah Saw sebanyak tiga kali sebelum ayah dalam haditsnya; Seorang sahabat bertanya kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, kepada siapakah seharusnya aku harus berbakti pertama kali?”. Nabi memberikan jawaban dengan ucapan “Ibumu” sampai diulangi tiga kali, baru kemudian yang keempat Nabi mengatakan “Ayahmu” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548).

Demikianlah bagaimana indahnya hubungan anak dan orangtua dalam Islam, sungguh sangat mendamaikan dan yang pastinya akan jauh dari perselisihan satu sama lain.

Wallahua’lam bishawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *