Sekular- Kapitalisme : Akar Terjadinya Krisis Multidimensi

Oleh : Isti Shofiah, S.Pd

Saat ini, betapa dekadensi moral sudah sedemikian parah memapar generasi. Pergaulan bebas, narkoba, pornografi-pornoaksi, kekerasan, dll seolah menjadi biasa dan wajar dalam kehidupan masyarakat hari ini. Padahal tak bisa dipungkiri, rata-rata pelakunya adalah generasi terdidik.

Kasus viralnya video vulgar saat merayakan kelulusan SMA di Kabupaten Rokan hulu Riau pada senin kemarin, benar-benar mengiris hati siapapun yang melihatnya. Pasalnya, mereka melakukan hal tersebut di tengah kondisi negeri terkena wabah, parahnya lagi terjadi di bulan suci Ramadhan. Bulan yang seharusnya di hormati dan dimuliakan dengan berbagai aktivitas positif dan bernilai ibadah, pun seharusnya menjadi ajang bertaubat seluruhnya agar pandemi ini segera berakhir. Namun, kelakuan generasi terdidik ini sungguh memprihatinkan.

Krisis multidimensi yang merebak di negeri ini menjadi bukti lemahnya negara dalam menjaga generasi penerus bangsa. Segala krisis yang terjadi terkait dengan laku masyarakat sejatinya merupakan output dari sistem pendidikan yang diterapkan hari ini.
Semua yang terjadi cukup memberi gambaran bahwa pendidikan sekularistik yang telah lama di terapkan nyaris gagal membawa nilai-nilai kebaikan. Pendidikan selama ini hanya mampu mengasah skill dan kecerdasan, namun gagal mengasah keluhuran adab dan ketinggian moral. Alhasil, tindakan amoral pada generasi kian tak terkendali.

Di sisi lain, pendidikan karakter yang digadang-gadang mampu menyolusi persoalan merosotnya moral generasi yang mengancam peradaban. Namun, faktanya narasi pendidikan karakter kian lama kian tak jelas wujud dan standarnya.

Apalagi, mengatas namakan membangun daya saing di era disrupsi, pemerintah justru fokus pada proyek-proyek pengembangan SDM yang siap kerja. Seolah-olah pendidikan hanya menjadi pabrik pencetak tenaga kerja (buruh). Alhasil, generasi saat ini menjadikan sekolah bukan ajang mencari ilmu namun mencari kerja. Miris!

Pendidikan di dalam Islam
Sepanjang sejarah peradaban dunia benar-benar telah mencatat kesuksesan sistem Islam dalam mencetak profil generasi terbaik.

Montgomery Watt dalam bukunya membuat sebuah pengakuan tentang peradaban Islam, “Cukup beralasan jika kita menyatakan bahwa peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri. Tanpa dukungan Islam yang menjadi ‘dinamo’-nya, Barat bukanlah apa-apa.”
Betapa di masa Islam kaffah tegak, umat tampil menjadi pioner peradaban. Dan di saat yang sama, generasi mereka tampil sebagai prototipe generasi terbaik sebagaimana yang disebutkan dalam Alquran.

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS Ali ‘Imran: 110)
Bahkan Will Durant, seorang sejarawan barat dalam bukunya Story of Civilization, menggambarkan kehebatan umat Islam.

“Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapa pun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama beradab-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka.”

Oleh karena itu, rasanya hal ini cukup menjadi renungan bahwa sistem Islam merupakan pilihan terbaik untuk mengatasi segala problematika kehidupan saat ini. Bukan saja membentuk output pendidikan yang mumpuni di bidang sains, tetapi juga paham tentang kehidupan sekaligus memiliki kepribadian khas dan kuat yang akan mampu mengubah karakter bangsa menjadi mandiri dan hebat.
Dan ini semua bukanlah perkara mustahil. Karena sejarah keemasan peradaban Islam telah gamblang membuktikannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *