Sejuta Rindu Untukmu, Ibu

Oleh: Eviyanti

Ibu, ketika aku menulis ini, aku bukan hanya tak lagi bersamamu tetapi juga sangat jauh dari rumah dimana ibu selalu memanjakanku. Aku membayangkan wajahmu ibu. Seandainya ibu membacanya, akankah ibu tersenyum? Atau menitikan air mata? Atau menepuk bahuku dan tersenyum bangga? Ah, entahlah.
Ibu, kini aku semakin tua, tapi entah apakah aku telah dewasa atau akan tetap menjadi gadis kecilmu yang manja. Dua puluh delapan tahun, ibu. Sudah tua, bukan? Tapi tahukah ibu bahwa di usia ini, aku masih sering menangis. Aku menangis ketika aku merindukanmu. Pula, saat ada masalah atau cobaan dalam hidupku. Itu karena aku berharap ada ibu disampingku.
Mungkin kalau masih ada ibu, ketika aku ada masalah, ibu akan memberikan nasehat dan mendengarkan masalahku ini. Kini, aku sangat merindukan semua nasehat, ceramah bahkan omelanmu, ibu.

Lima tahun yang lalu, saat Om Yadi menjemputku dari tempatku bekerja dan memberitahukan kepadaku kalau keadaan ibu semakin kritis. Aku terus menepis fikiran-fikiran negatif yang semakin membuat diri menahan tangis.
Pasca operasi dokter mengatakan kalau keadaan ibu pasti lebih baik tapi kenyataannya, ibu semakin lemah dan keadaan ibu sekarang kritis. Tak lama aku datang menemui ibu, yang berbaring lemah di tempat tidur rumah sakit dengan banyakna alat yang menempel pada tubuhnya yang kian hari semakin kurus.

“Ibuuuu… bangun ibu, ibu harus kuat! Aku tau ibu pasti bisa bertahan. Kita akan pergi ke taman tempat biasa kita bermanja-manja, tempat kita dulu ibu…”, ucapku dengan isak tangis.

Seolah ibu menunggu kedatanganku untuk melihatnya yang terakhir kali. Ibu menjawab ucapanku tadi dengan meneteskan air mata yang keluar dari ujung kelopak matanya. Tidak lama ibu menghembuskan nafasnya.

“Innalilahi wainnailahi rojiuun”, ucap Om Yadi dan dokter yang sedang memeriksa keadaan ibu waktu itu.
“Ibuuuu..Ibuuuu…jangan tinggalkan Rani!”, teriakku histeris memecah keheningan kamar rumah sakit waktu itu.

Aku masih tidak percaya, kejadian itu sudah berlangsung lima tahun yang silam, tapi masih lekat di ingatanku. Bagaimana sedihnya aku waktu itu, aku merasa seolah dunia akan runtuh, lalu menjadi gelap dan badanku terasa lemah.

“Dimana aku Om?”, tanyaku pada Om Yadi yang berada di hadapanku.
“Masih di rumah sakit Ran, tadi kamu tiba-tiba pingsan”, jawab Om Yadi. Tidak lama aku langsung menangis tersedu, teringat ibu yang sudah meninggalkanku untuk selama-lamanya.

“Sudah jangan menangis lagi kasihan ibumu, ayo kita bergegas untuk membereskan administrasi dan cepat-cepat membawa janazah ibumu ke Bandung untuk di makamkan!”, kata Om Yadi sambil memberikan sapu tangan miliknya dan jaket untuk aku pakai.

Bandung adalah tempat kelahiran ibu, maka kami memilih jenazah ibu di makamkan di Bandung. Bersebelahan dengan makam nenek dan ayahku.
Ayahku telah meninggal dunia sejak usiaku lima belas tahun. Lalu kami, aku dan ibuku hijrah ke Bogor. Karena saudara ibu ada yang tinggal di Bogor, ya Om Yadi dia satu-satunya adik ibu. Dan sekarang setelah kepergian ibuku, aku terpaksa tinggal menumpang sementara di rumah Om Yadi dan Bi Yeni, karena sekarang hanya mereka berdualah yang aku miliki.

“Ibu sekarang aku telah menikah dengan seorang laki-laki yang sholeh, dia sangat menyayangiku. Dan kami telah mempunyai dua orang anak, putra dan putri yang masih kecil-kecil”, gumamku dalam hati sembari menatap wajah ibu dalam foto.

Doaku selalu menyertaimu ibu. Terima kasih kau telah membesarkanku dan mendidikku dengan penuh kasih sayang, tanpa lelah dan penuh kesabaran. Ibu semoga engkau tenang disana, semoga engkau ditempatkan di tempat yang indah, yaitu syurga.
Aamiin Yaa Rabbal’alamiin.

“Suatu ketika saya sedang duduk-duduk bersama Rasulullah ﷺ. Tiba-tiba ada seorang laki-laki dari sahabat Anshar sowan. Ia bertanya kepada Rasul, ‘Ya Rasul, apakah saya bisa berbaik budi kepada kedua orang tua saya yang sudah meninggal?’ Rasul lalu menjawab, ‘Iya, ada empat hal, yaitu (1) mendoakan mereka, (2) memohonkan ampunan untuk keduanya, (3) menunaikan janji mereka dan memuliakan teman mereka, dan (4) menjalin silaturahim dengan orang-orang yang tidak akan menjadi saudaramu kecuali melalui perantara ayah-ibumu. Itulah budi baik yang harus kamu lakukan setelah mereka meninggal’.” (Musnad Ahmad: 16059)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *