Segenggam Rasa Untuk Uighur

Oleh : Nur Aisyah (Aktivis Muslimah dari Bogor)

Tagar #WeStandWithUyghur menjadi tranding topik selama sepekan terakhir. Berawal dari cuitan twitter pesepak bola terkenal yaitu Mesut Ozil yang viral di dunia maya. Dalam cuitanya Ozil menulis :

“Al-Qur’an dibakar, masjid ditutup, sekolah-sekolah teologi Islam, madrasah dilarang, cendekiawan Muslim dibunuh satu per satu, meskipun demikian, umat Islam tetap diam, tidakkah mereka tahu bahwa memberikan persetujuan untuk penganiayaan merupakan penganiayaan itu sendiri.”

Seketika publik dunia langsung ramai menanggapi dengan memberi berbagai macam komentar. Ada yang membenarkan bahwa yang dialami suku Uighur sudah berlangsung cukup lama tapi tak sedikit pula yang berkomentar bahwa itu hanyalah hoax belaka. Di Indonesia pun pro kontra tak terelakkan.

Bahkan masih banyak yang menganggap itu hanyalah isu belaka. Salah satu ustad pun buka suara mengatakan bahwa suku Uighur baik-baik saja. Bahkan disana ada pesantren yang santrinya sampai 1200 orang. Tapi pernyataan tersebut di bantah oleh CEO dan Founder AMI GRUP And AMI Foundation, Azzam M Izzulhaq yang langsung pergi cina dan menyaksikan bahwa mereka tidak dalam keadaan yang baik-baik saja. Belakangan ustad tersebut meminta maaf bahwa memang belum pernah ke sana.

Uighur adalah sebuah suku (etnis) yang mayoritas memeluk Islam. Mereka bermukim di provinsi Xinjiang. Mereka termasuk minoritas karena cina menganut paham komunis. Apa yang dikatakan Ozil terkait kondisi disana memang benar adanya. Warga muslim Uighur mendapatkan persekusi dan diskriminasi dari pemerintahnya sendiri hanya karena mereka mereka menjalankan nilai-nilai agamanya. Mereka hanya ingin taat kepada Tuhannya tapi harus mengalami penindasan dan penganiayaan.

Ada lebih dari satu juta warga Uighur ditahan dikamp khusus tanpa sebab yang jelas dan tanpa peradilan. Selama 4 tahun terakhir pemerintah cina mengetatkan keamanan terhadap warga Xinjiang menggunakan teknologi skala besar, seperti memasang kamera pengenal wajah, perangkat pemantauan yang mampu membaca isi ponsel serta pengumpulan data biometrik secara masal. Tak hanya itu sanksi hukum diterapkan bagi mereka yang muslim dengan dilarangnya penggunaan hijab, janggut panjang, pengajaran keagamaan untuk anak-anak, melarang nama islami bahkan melarang berpuasa pada bulan Ramadhan. ( www.bbc.com/indonesia/dunia-45962686 ).
Ini hanyalah secuil duka yang menimpa Uighur karena ada lebih banyak derita yang sangat menyayat hati, bagaimana seorang anak harus di pisahkan karena orang tua mereka ditangkap dan tak pernah pulang kembali. Ada seorang perempuan yang diperkosa. Ada juga ulama yang ditahan dan disiksa hingga mati. Kebiadaban cina terhadap warganya sendiri mendapat kecaman keras oleh dunia internasional. Cina berdalih tidak melakukan kesalahan apapun.

Kecaman dari berbagai negara menunjukkan tak butuh iman untuk peduli terhadap kondisi yang dialami Muslim Uighur. Hanya butuh segenggam rasa kepedulian karena ini adalah masalah kemanusiaan. Cina telah melanggar hak asasi manusia. Seharusnya manusia bebas menjalankan keyakinannya dan manusia bebas memiliki hak hidup. Tapi Cina telah merenggut kebebasan hidup dengan menyiksa dan menahan mereka di penjara bahkan mencuci otak mereka melalui program “pembinaan disekolah” agar mereka murtad dari Islam.

Kejahatan kemanusiaan harus ditindak bukan didiamkan. Islam sangat menghargai sebuah nyawa, Allah berfirman:

“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya”. (QS. Al Maidah : 32)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *