Sahabatku

Oleh : Widi Yanti

Kau yang selalu mendengarkan keluh kesahku. Meski tak selalu merespon dengan jelas, tapi setidaknya aku sudah puas menumpahkan rasa sedihku. Tidak hanya itu, saat aku merasakan nikmat yang banyak maka kau lagi tempatku berbagi.

Tidaklah penting kau akan ikut tertawa saat ku bahagia. Atau ikut memaki saat ku kesal. Bukan itu yang kumau. Cukup kau diam dan mendengarkan. Meski harus ku teteskan airmata. Sesenggukan menahan sesak dan tangis, kuharap kau tetap menjaga rahasia diantara kita.

Kau sangat berarti. Meski pada akhirnya kau meninggalkanku. Sedih. Tapi tak apalah. Pasti akan kudapat penggantimu. Bagaimanapun juga kau tetap istimewa. Seandainya aku mendapat penggantimu, aku tak kan pernah melupakan dirimu. Jasanya begitu besar dalam hidupku. Bertahun-tahun kita bersama, melewati panasnya hari dan derasnya hujan.

Sahabat sejatiku tak lepas dari ingatanku, kata lagu lawas. Kau telah sangat berjasa membantu menyelesaikan masalahku. Dengan ikhlas menemaniku, meski kadang rewel. Mungkin karena kecapekan. Ya sudahlah.

Meski berat melepas kepergianmu. Tapi kuyakin kau tahu. Aku juga sahabatmu yang baik. Tapi maaf aku tak setia. Aku tak kuasa sendiri. Aku harus mencari penggantimu.
Maafkan aku jika aku melukaimu.
Maafkan aku jika aku membuatmu kecewa.
Tapi yakinlah kau punya arti tersendiri di hatiku. []

===========

Malang, 1 Oktober 2019

#nubar
#nulisbareng
#level4
#berkreasilewataksara
#menulismengabadikankebaikan
#week1
#RNB6
#rumahmediagrup

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *