Saatnya Pemuda Melek Politik

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh: Muthmainnah Ilham, S.Pd. (Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

 

Bertolt Brecht (Penyair dan Dramawan Jerman) mengungkapkan bahwa:

“Buta terburuk adalah buta politik. Orang yang buta politk tak sadar bahwa biaya hidup, harga makanan, harga rumah, harga obat, semuanya bergantung pada keputusan politik. Dia membanggakan sikap anti politiknya, membusungkan dada dan berkoar “AKU BENCI POLITIK”. Sungguh bodoh dia yang tak mengetahui bahwa karena dia tidak mau tahu politik, akibatnya adalah pelacuran, anak terlantar, perampokan, dan yang terburuk, korupsi dan perusahaan multinasional yang menguras kekayaan negeri”.

 

Sejatinya manusia hidup tidak lepas dari aktivitas politik, baik yang terjadi di dalam maupun luar negeri. Meskipun seseorang tidak terlibat langsung dalam politik praktis, namun tentu mereka akan terpengaruh dengan kebijakan yang diambil para pemegang kekuasaan. Karenanya, penting bagi masyarakat terkhusus pemuda untuk melek politik apalagi politik Islam.

 

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi dalam rilis survei secara daring, Minggu (21/3), mengatakan berdasarkan hasil survei Indikator Politik Indonesia menunjukkan, sebanyak 64,7 persen anak muda menilai partai politik atau politisi di Indonesia tidak terlalu baik dalam mewakili aspirasi masyarakat. Sebanyak 25,7 persen anak muda yang menilai para politisi sudah cukup baik mendengarkan aspirasi. Hal ini menunjukkan sikap mereka tidak begitu yakin bahwa politisi mewakili aspirasi masyarakat (Merdeka.com, 21 Maret 2021).

 

Selain itu, Burhanuddin Muhtadi menambahkan, masih banyak anak muda yang tidak toleran dalam hal politik, dibandingkan intoleransi pada praktik ritual sosial keagamaan. Hal ini menjadi temuan dalam hasil survei suara anak muda tentang isu-isu sosial politik bangsa pada Maret 2021 (Republika.co.id, 21 Maret 2021).

 

Berdasarkan hasil survei tersebut menunjukkan bahwa para pemuda saat ini masih bimbang antara melihat perlunya perubahan politik dan tidak pahamnya mereka terhadap sistem politik alternatif. Walaupun menganggap politisi dan partai tidak mampu mengatasi persoalan, namun masih berharap penyempurnaan praktik demokrasi menjadi solusi.

 

Inilah fakta pemuda masa kini. Pemuda yang memiliki peran besar untuk perubahan yang hakiki justru mereka tak memiliki idealisme menentukan arah perjuangan dan perubahan. Hal ini mengakibatkan mereka abai terhadap nasib bangsa ke depannya. Inilah buah dari sistem demokrasi yang menjadikan aktivitas politik sebatas perebutan kekuasaan dan tanpa edukasi di tengah-tengah masyarakat apalagi pemuda.  Akibatnya tidak mampu mengantarkan pada perubahan yang hakiki.

 

Sikap pemuda yang sebagian anti politik dan masih mengandalkan sistem demokrasi saat ini, tentu tidak akan mampu memberi solusi atas berbagai problematika yang terjadi. Mereka masih mengandalkan pergantian rezim semata. Padahal, akar persoalan saat ini bukan sebatas rezim yang berganti, namun perlu perubahan mendasar yaitu perubahan sistem. Apalagi penerapan demokrasi sudah terbukti gagal.

 

Pemuda sebagai harapan bangsa, sejatinya harus memahami apa itu politik dan akar kerusakan yang terjadi saat ini. Karena merekalah harapan masyarakat. Oleh sebab itu, para pemuda tidak boleh cuek dengan permasalahan politik yang ada. Mereka harusnya melek politik dan menjadi garda terdepan memperjuangkan nasib rakyat dan melakukan perubahan.

 

Pertanyaannya, Perubahan seperti apa yang harus diperjuangkan? Masihkah berharap pada sistem demokrasi yang telah terbukti gagal?

 

Saatnya pemuda melek politik. Memahami makna politik yang benar. Bukan sebatas urusan kekuasaan ala demokrasi. Apalagi masih mengandalkan slogan demokrasi sebagai sistem yang dipersembahkan dari, oleh, dan untuk rakyat. Faktanya,  rakyat siapa? Rakyat yang mana? Jangan sampai tertipu oleh topeng demokrasi yang bertentangan dengan Islam.

 

Islam memandang bahwa politik adalah aktivitas pengaturan urusan umat, baik untuk urusan dalam maupun luar negeri sesuai aturan pencipta. Maka politik bukanlah sesuatu yang kotor sebatas perebutan kekuasaan. Karenanya sangat penting untuk memahami dan terlibat dalam aktivitas politik. Sebab tidak akan tegak kehidupan manusia tanpa politik. Namun, semua harus dibangun berdasarkan politik Islam.

 

Karena itu, pemuda sebagai harapan bangsa harusnya melek politik Islam  agar tidak menjadi korban politik. Hal itu dapat dilakukan dengan mempelajari Islam dan memahami bahwa Islam sebagai sebuah ideologi bukan sebatas agama yang mengatur aktivitas ibadah ritual dan seremonial belaka.

 

Islam adalah ideologi atau pandangan hidup sempurna yang mencakup pemikiran dan aturan bagi kehidupan. Pemahaman Islam yang cemerlang mampu menganalisa semua permasalahan umat dengan sudut pandang spesifik yakni Islam. Maka saatnya kembali kepada aturan Allah yang menciptakan manusia dan menerapkannya dalam semua lini kehidupan. Dengan diterapkannya kembali syariat Islam, maka Allah Swt. sendiri yang menjanjikan keberkahannya.

Allah Swt. berfirman,

 

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan-Ku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS An Nur [24] : 55). Wallahu a’lam bishshawab.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.