S. U. I. C. I. D. E

Oleh: Fath Astri Damayanti, S.Si (Pemerhati Lingkungan dan Politik)

Para penikmat K-Pop digemparkan dengan salah satu artis K-Pop ditemukan tewas di rumahnya di Seongnam, Seoul. Kematian sang artis menjadi trending topic di Twitter setelah manajernya menemukannya meninggal di lantai dua. Penyanyi dan juga artis K-Pop ini dikenal dengan panggilan Sulli pada saat memulai debutnya sebagai penyanyi K-pop f(x) pada 2009 (kompasiana.com, 15/10/2019). Kabar ini menambah deretan daftar artis K-Pop yang melakukan bunuh diri, sebelumnya di Desember 2017 Kim Jong-Hyun, penyanyi utama boyband Korea Selatan SHINee yang sangat populer bunuh diri dengan menghirup karbon-dioksida, ia meninggal pada usia 27 tahun di puncak popularitas.

Tingkat Bunuh Diri

Data WHO dalam worldpopulationreview.com menunjukkan, Korea Selatan berada di peringkat empat yang memiliki angka bunuh diri tertinggi di dunia. Tercatat rasio bunuh diri per 100.000 penduduk di Korea Selatan sebesar 26,9. Rasio bunuh diri tertinggi terjadi pada laki-laki sebesar 38,4, sedangkan rasio bunuh diri pada perempuan sebesar 15,4 (katadata.co.id, 15/10/2019). Tak hanya Korea, artis sekelas Hollywood pun tak sedikit yang melakukan bunuh diri, seperti artis terkenal Marylin Monroe yang ditemukan tewas dikarenakan overdosis obat karena depresi, sama halnya dengan Robin Williams memutuskan mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri karena depresi akibat sejumlah penyakit yang bersarang ditubuhnya. Aktor Isaac Kappy harus tewas mengenaskan setelah melakukan percobaan bunuh diri dengan terjun dari sebuah jembatan di Arizona, sebelumnya ia meninggalkan satu unggahan berisi curahan hatinya yang bernada amat depresif.

Kasus bunuh diri juga menjadi masalah di India. Setiap tahunnya, ada sekitar 800 ribu warga India yang bunuh diri. Rasio kasus bunuh diri terus memburuk, dari 7,9 kasus per 100 ribu warga pada 1987 menjadi 10,3 kasus pada 2007. Menurut data WHO, rasio bunuh diri di India adalah 16,4 kasus tiap 100 ribu wanita dan 25,8 kasus tiap 100 ribu laki-laki. Menurut sebuah studi yang dilakukan di Hong Kong, bunuh diri selebriti meningkatkan risiko ide bunuh diri dalam jangka pendek maupun panjang. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, lebih dari 800.000 orang melakukan bunuh diri setiap tahun, dan masih banyak lagi usaha untuk menjalani hidup mereka sendiri. Bunuh diri adalah fenomena global yang memengaruhi individu dari semua lapisan masyarakat, terlepas dari negara, agama, kasta, etnisitas, kepercayaan atau gender (brilio.net, 24/7/2017). Bunuh diri adalah penyebab utama kedua kematian di kalangan pemuda yang berusia antara 15 dan 29 tahun, setelah kecelakaan di jalan, dan di kalangan remaja putri yang berusia 15 sampai 19 tahun itu adalah pembunuh terbesar kedua setelah saat kelahiran. Pada remaja lelaki, bunuh diri menempati posisi ketiga di belakang luka di jalan dan kekerasan antar-manusia. Laporan tersebut juga menyebut di negara kaya, angka bunuh diri laki-laki lebih tinggi tiga kali dibandingkan perempuan. Sedangkan di negara yang berpenghasilan rendah dan menengah, angka keduanya sama (cnnindonesia.com, 10/9/2019).

Indonesia sendiri berdasarkan data Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) dalam ourworldindata.org menunjukkan tingkat kematian karena bunuh diri per 100 ribu penduduk di Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir cenderung menurun. Namun, data 2015 hingga 2017 menunjukkan tingkat bunuh diri di Indonesia stabil di angka 3,07 orang per 100 ribu penduduk. IHME mengelompokkan angka bunuh diri berdasarkan usia. Tingkat bunuh diri tertinggi di Indonesia terjadi pada penduduk berusia 70 tahun ke atas. Kendati demikian, tingkat bunuh diri pada usia 70 tahun ke atas pada 2017 menunjukkan penurunan untuk pertama kalinya selama sepuluh tahun terakhir. Pada 2017 angka bunuh diri di usia tersebut menjadi 8,09 orang per 100 ribu penduduk dari 2016 yang sebanyak 8,11 orang per 100 ribu penduduk. Adapun tingkat kematian terendah selama sepuluh tahun terakhir terdapat pada penduduk usia 5-14 tahun di angka 0,18-0,19 orang per 100 ribu penduduk (katadata.co.id, 11/9/2019).

Solusi Pemerintah dan WHO

Sebagai orang awam banyak yang berpikir apa yang kurang dari kehidupan para artis tersebut, wajah cantik dan tampan, harta berlimpah, popularitas, pengaruh dan kekuatan yang besar, segala yang mereka inginkan bisa terpenuhi. Tak sedikit yang tergiur terjun menjadi seperti artis-artis tersebut. Namun nyatanya harta dan popularitas tak menjamin kebahagiaan, mereka hanyalah manusia biasa yang juga didera dengan berbagai permasalahan dan tuntutan. Peliknya permasalahan yang dihadapi ditambah lagi kondisi mereka yang sebagian besar memiliki gangguan mental, seperti depresi dan kecemasan, juga karena bullying, kesepian, dan tekanan karir. Kondisi tersebut akhirnya menjadi beban, tanpa ada solusi yang pasti sehingga akhirnya mengambil jalan pintas yang dianggap akan menyelesaikan masalah yang ada dengan jalan bunuh diri, untuk melepaskan beban berat yang dirasakan.

Kendati demikian, WHO menilai kematian akibat bunuh diri masih sangat mungkin dicegah melalui metode tertentu. Intervensi utama yang telah menunjukkan keberhasilan dalam mengurangi bunuh diri adalah membatasi akses ke sarana, mendidik media tentang pelaporan bunuh diri yang bertanggung jawab. Selain itu, melaksanakan program-program di antara kaum muda untuk membangun keterampilan yang memungkinkan mereka mengatasi tekanan hidup. Juga tak kalah penting adalah identifikasi awal, manajemen dan tindak lanjut orang yang berisiko bunuh diri. Menyusul temuannya, WHO bekerja sama dengan mitra global, Federasi Dunia untuk Kesehatan Mental (WFMH), Asosiasi Internasional untuk Pencegahan Bunuh Diri, serta Persatuan Kesehatan Mental Global, meluncurkan kampanye aksi 40 detik. Kampanye tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang skala bunuh diri di seluruh dunia dan peran yang dapat dilakukan setiap orang dalam mencegahnya (kompas.com, 11/9/2019).

Solusi Islam

Sejatinya permasalahan itu selalu ada, tidak ada satupun manusia di dunia ini yang tidak mempunyai masalah. Tinggal bagaimana caranya dalam mengatasi permasalahan tersebut. Dalam Islam, bunuh diri tidak dibenarkan dan Allah SWT sudah menerangkan bahwa Allah SWT tidak akan membebani manusia dengan apa yang ada di luar batas kemampuannya, artinya semua hal yang terjadi pada diri kita sanggup kita kerjakan dan selesaikan. Hanya saja hasil akhirnya tentu akan berbeda, jika dalam menyelesaikan permasalahan hanya menggunakan hawa nafsu maka solusi yang diambil tidak akan mampu menyelesaikan permasalahan yang ada bahkan bisa mengarah kepada hilangnya nyawa. Tetapi jika solusi yang diambil mengikuti aturan dari Allah SWT maka solusinya pun akan tuntas dan akan selalu bersikap tawakkal atas segala sesuatu yang menimpa dirinya. Karena yakin bahwa Allah SWT akan memudahkan urusan kita ketika hukumNya menjadi asas untuk menyelesaikan segala sesuatu.

Selain itu perlu adanya sinergi antara individu, masyarakat dan negara sebagai benteng dari banyaknya kasus bunuh diri. Dari segi individu maka haruskah dibangun ketakwaan individu dimana aqidah menjadi dasar atas segala sesuatu sehingga akan melahirkan pola pikir yang benar terhadap semua permasalahan dalam kehidupan. Jika pola pikirnya Islami maka tingkah lakunya pun akan Islami dan terbentuklah kepribadian Islam (Shaksiyah Islamiyah). Kemudian dari masyarakat, karena sudah mempunyai Shaksiyah Islamiyah tadi maka masyarakat tidak akan bersikap individualistis atau cuek terhadap lingkungan sekitarnya sehingga aktivitas amar ma’ruf nahi munkar akan berjalan. Dengan begitu masyarakat akan tanggap terhadap permasalahan di lingkungannya dan mampu memberi solusi yang tepat.

Kemudian yang terakhir adalah dari segi negara, yang akan menerapkan aturan sekaligus sebagai perisai bagi masyarakatnya. Negara akan melindungi nyawa dan harta warganya. Segala sesuatu yang meresahkan dan dapat merusak msyarakat akan dihilangkan oleh Negara, penerapan sanksi juga sesuai dengan hukum syara’ dan menimbulkan efek jera sehingga tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Hak masyarakat akan dipenuhi dan masyarakat pun akan melakukan kewajibannya tanpa harus diingatkan. Masyarakat akan sejahtera dan saling mendukung satu sama lain.

Kesemuanya itu akan terwujud ketika sistem yang diterapkan adalah sistem yang berasal dari Sang Pencipta yaitu sistem Islam. Sistem Islam akan mewujudkan sinergi tersebut, maka sebagai kaum muslim sudah selayaknya terus berjuang agar sistem Islam dapat diterapkan secara kaffah dalam semua aspek kehidupan. Sehingga tidak akan lagi kasus-kasus bunuh diri, justru yang ada adalah mati mulia di bawah naungan Islam. Wallahu a’lam bish-shawwab [*].

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *