Runtuhnya Khilafah: Umat Terjajah, Negeri Islam Terjarah

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh: Khaulah (Aktivis BMI Kota Kupang)

 

“Agama dan kekuasaan ibarat saudara kembar. Agama adalah fondasi dan kekuasaan adalah penjaga. Sesuatu yang tanpa fondasi niscaya runtuh dan sesuatu tanpa penjaga niscaya lenyap.” (Al-Ghazali, Al-Iqtisha fi al-I’tiqad).

Ungkapan Imam Ghazali selaras dengan yang terjadi hari ini. Yakni tatkala kekuasaan terhempas dari tangan umat, syariat Islam pun turut lenyap. Tampak pada kejadian mengerikan pada perjalanan umat Islam, yaitu runtuhnya Khilafah Islamiyah pada 28 Rajab 1342 H/3 Maret 1924.

Malapetaka demi malapetaka menghampiri umat, tak surut hingga hari ini. Tentu saja, karena umat menghadapi problematik kehidupan tanpa solusi sahih. Umat berjalan sendiri tanpa pelindung, tanpa perisai.

Malapetaka yang terjadi sangat kompleks. Mulai dari negeri-negeri kaum muslim yang terpecah, yang berdampak pada kikisnya kekuatan kaum muslim. Ya, kaum muslim yang jumlahnya 1,5 miliar jiwa selaras dengan yang diibaratkan Rasulullah saw. yaitu bak buih di lautan. Terpecahnya daulah Islam menjadi 50-an negara bagian layaknya sapu lidi yang terlepas ikatannya, yang berserakan tanpa kekuatan.

Ketika dunia Islam terpecah, tentu tak terelakkan hadirnya penindasan. Lihat saja kondisi Kashmir, Palestina, Suriah, Yaman, Irak, Rohingya dan umat di belahan bumi lainnya yang menjadi santapan empuk kafir penjajah. Air mata mereka bahkan tak berhenti hingga detik ini. Begitu pula isak tangis pada saudara seiman yang kukuh pada “kekuatan” nation-state. Anak-anak hingga dewasa menjadi sasaran aksi kejam nan brutal para penjajah. Begitulah, nyawa kaum muslim hilang tanpa alasan. Tak lupa, kaum perempuan kehilangan kehormatannya setelah suami dan anak-anaknya diberangus kejam.

Kekayaan alam negeri-negeri kaum muslim pun dijarah oleh penjajah yang bahkan bekerjasama dengan penguasa negeri muslim. Penguasa yang nihil kapabilitas memimpin, yang menghempas ajaran yang dibawa Rasulullah saw. Rasulullah saw. bersabda, “Akan tiba pada manusia tahun-tahun penuh kebohongan. Saat itu para pendusta dianggap jujur. Orang jujur dianggap pendusta. Pengkhianat dianggap amanah. Orang amanah dianggap pengkhianat. Ketika itu yang banyak bicara adalah ruwaibidhah.” Ada yang bertanya, “Siapa ruwaibidhah itu? Nabi Saw. menjawab, “Orang bodoh yang mengurusi urusan orang banyak.” (HR al-Hakim).

Sebaliknya, kaum muslim hidup dalam kemelaratan, bahkan untuk sesuap nasi pun susah didapat. Jangankan sesuap nasi, untuk lapangan pekerjaan pun susah ditemui. Sungguh menyedihkan kondisi kaum muslim di kehidupan tanpa adanya daulah Islam.

Selain itu, tempat suci umat Islam dinodai. Prahara yang sungguh menyesakkan dada. Lihat saja masjid Al-Aqsha, kiblat pertama umat Islam. Salah satu di antara tiga masjid yang dianjurkan Rasulullah saw. untuk dikunjungi. Hari ini, ia dinodai, ditutup aksesnya bagi kaum muslim. Dan tentu saja, tanpa perlawanan sedikitpun bahkan oleh penguasa negeri kaum muslim.

Penguasa negeri kaum muslim bungkam, bisu. Sudah disusupi pemikiran-pemikiran sekuler, sudah menjadi kawan karib penjajah negeri dan agamanya sendiri. Bahkan tatkala Alquran dan Rasullullah saw. dihina berulangkali, mereka hanya berbusa mengecam. Padahal potensi kaum muslim untuk melakukan gerakan militer sangat besar. Tetapi kembali lagi, umat tak sadar akan kekuatan tersebut. Dan tentu saja, tak bisa dijalankn jika berada di sistem hari ini.

Nestapa yang terjadi dalam dunia Islam pun kaum muslim tak sebatas itu. Yang paling mengerikan ialah umat Islam terasing dari Islam yang bahkan parahnya memusuhi Islam. Di pikiran mereka bahkan tak memuat kata “khilafah, Islam kafah, syariat Islam, dan semisalnya”. Tatkala terdengar kata-kata itu, mereka tegas menolak, alergi, benci, dan sederetan sikap penolakan lainnya.

Singkatnya, dengan runtuhnya daulah Islam, umat tak lagi dipimpin oleh satu pemimpin. Umat kehilangan rasa aman dan jaminan keamanan karena lenyapnya sang perisai dan sang pelindung. Terlebih, karena tak ada lagi persatuan umat, tak ada lagi komando yang satu, maka hilang pula kekuatan jihad. Hal ini tentu saja berdampak pada leluasanya para kafir penjajah menjarah dunia Islam.

Begitulah serentetan prahara yang menimpa umat pasca runtuhnya daulah Islam. Walhasil, tegaknya daulah Islam yang merupakan Taj al-Furudh (Mahkota Kewajiban), membawa kemuliaan dan kebaikan bagi Islam dan kaum muslim.

Maka dari itu, mari kita senantiasa teguh bersumbangsih memulihkan kesadaran politik umat, menanamkan akidah sahih pada diri umat. Semua itu tentu saja demi tegaknya Khilafah Islamiyah.

Wallahu a’lam bishshawab.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.