Revisi Kurikulum Madrasah: Bahaya Dibalik Moderasi Ajaran Islam

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh: Dwi Sri Utari, S.Pd

Memasuki tahun ajaran baru di tengah kondisi yang masih dilanda pandemi, para pelajar tak terkecuali siswa-siswi madrasah masih harus melaksanakan proses pembelajaran melalui daring di rumah masing-masing dengan kurikulum yang telah direvisi. Dilansir dari Tribunnews.com, bahwa Kementerian Agama telah melakukan perubahan kurikulum Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab untuk Madrasah. Perubahan kurikulum ini berdasarkan Keputusan Menteri Agama Nomor 183 tahun 2019 tentang Kurikulum Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah. Mirisnya dalam kurikulum terbaru Kemenag telah menghapus materi berkaitan dengan ajaran Islam. Seperti dalam pengakuan Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi telah menghapus konten-konten yang dianggapnya terkait ajaran radikal dalam 155 buku pelajaran agama Islam sebagai bagian dari program penguatan moderasi beragama. (detik.com, 11/7/2020).

Sebelumnya, seluruh materi ujian di madrasah beberapa waktu lalu yang mengandung konten khilafah dan perang atau jihad telah diperintahkan untuk ditarik dan diganti. Hal ini disesuaikan dengan ketentuan regulasi penilaian yang diatur pada SK Dirjen Pendidikan Islam Nomor 3751, Nomor 5162 dan Nomor 5161 Tahun 2018 tentang Juknis Penilaian Hasil Belajar pada MA, MTs, dan MI. (Republika.co.id,07/12/2019). Inilah awal permulaan bagi kemenag untuk menjalankan surat keputusan dari Dirjen Pendidikan Islam dengan berpatokan bahwa saat ini diperlukan adanya moderasi dalam beragama, terutama Islam. (media umat.com, 10/7/2020). Kurikulum moderasi makin kuat mendapat legitimasi dengan beberapa perubahan KMA untuk pelajaran PAI dan Bahasa Arab. Demikian pula, penghapusan materi khilafah dan jihad dari mata pelajaran fiqih dialihkan ke mata pelajaran sejarah dan dibahas dengan perspektif moderasi.

Menanggapi persoalan tersebut, sungguh adanya perubahan kurikulum pelajaran agama Islam ini berakibat pada lahirnya generasi muda yang tidak mengenal ajaran agamanya dan terjauhkan dari ajaran agamanya yang mulia. Terlebih, para pelajar ini sedang berada di fase pencarian jati diri. Dengan kurangnya pemahaman agama memungkinkan generasi muda ini terjerumus pada penyimpangan prilaku. Seperti berita yang baru-baru ini muncul, masyarakat dibuat merinding dan ngeri mendengar kabar terciduknya 37 pasangan anak SMP yang sedang melakukan pesta seks di sebuah hotel di kota Jambi. Berita tersebut layaknya menjadi fakta bahwa kondisi generasi muda saat ini mengalami krisis dan membutuhkan bimbingan khususnya pemahaman agama.

Fakta tersebut juga menghantarkan pada munculnya pertanyaan, mengapa ajaran Islam yang mulia harus direvisi bahkan dihapus? Bukankah pendidikan agama merupakan pondasi yang akan menjadikan manusia memiliki kepribadian yang baik lagi shalih. Sangat berbahaya jika ajaran Islam diubah atau bahkan dihapuskan. Generasi terancam tidak lagi mengenal syariat Islam secara utuh. Bahkan, dengan dihapuskannya ajaran Khilafah, generasi muda akan kehilangan figur-figur yang ideal dijadikan panutan. Seperti sosok Muhammad al-Fatih seorang pemuda yang shalih dan pandai, pada usia mudanya mampu hafal al-Qur’an dan menguasai berbagai ilmu. Disisi lain, saat ini generasi muda justru disuguhkan oleh pribadi-pribadi tak layak dipanuti, seperti melalui film yang mengangkat kisah perzinahan. Maka tidak aneh, apabila keberadaan generasi muda saat ini rusak dan gemar bermaksiat. Apakah ini yang diinginkan oleh pemerintah? Ada apa dibalik moderasi ajaran Islam?

Penting dipahami, bahwa mengadopsi ajaran Islam Moderat dalam kurikulum pendidikan Islam sesungguhnya merupakan tindakan yang berbahaya dan menyesatkan. Sebab gagasan Islam moderat bukan berasal dari pemahaman orisinil Islam dan tidak memiliki historis keilmuan di kalangan para ahli fikih, melainkan berasal dari konstruk ide sekuler Barat. Bahkan gagasan Islam Moderat ini dianggap oleh banyak ulama sebagai pemahaman untuk memukul Islam dan menancapkan penjajahan Barat.

Dalam konteks politik, gagasan Islam moderat ini sesungguhnya merupakan bagian strategi musuh-musuh Islam yang disinyalir bertujuan agar kaum muslimin jauh dari kebangkitan Islam. Dilansir dari mediaumat.com, rekomendasi lama RAND Corporation tahun 2007 menyebutkan bahwa untuk mencegah apa yang mereka sebut sebagai Islam radikal, perlu dibuat jejaring Islam Moderat di dunia Muslim. Adalah laporan penelitian masyhur RAND berjudul “Building Moslem Moderate Network” yang menghasilkan temuan penting bahwa “Amerika Serikat perlu menyediakan dan memberikan dukungan bagi para aktivis Islam moderat dengan membangun jaringan yang luas, serta memberikan dukungan materi dan moral kepada mereka untuk membangun sebuah benteng guna melawan jaringan fundamentalis.” Fakta tersebut menunjukan bahwa jelaslah gagasan Islam Moderat adalah salah satu agenda AS untuk mempertahankan hegemoninya di dunia Islam.

Mengenai penghapusan ajaran Jihad, tentu ironis sekali karena hakikatnya adalah menghilangkan ajaran Islam itu sendiri. Ajaran Jihad telah disampaikan oleh Allah swt dengan banyak ayat dalam Al-Qur’an. Seperti dalam QS. Al Baqarah ayat 218, Lafaz “Al-Jihad” maknanya adalah perang di jalan Allah, sedangkan secara bahasa maknanya mengerahkan segala kemampuan. Namun, pengertian secara syar’i Al-Jihad adalah perang. Sehingga Al-Jihad adalah mengerahkan segala kemampuan dalam perang di jalan Allah, baik secara langsung maupun memberikan bantuan berupa harta, pendapat, memperbanyak logistik, atau yang lainnya. (Taqiyuddin An Nabhani, Al Syakhshiyyah al Islamiyyah jilid 2, 147). Imam Ath Thabari pun memaknai jaahaduu dalam ayat ini, dengan berperang dijalan dan agama Allah. Sehingga tidaklah dibenarkan, dengan alasan moderasi jihad hanya diambil makna bahasanya semata.

Berikutnya bisa kita bayangkan bagaimana nasib generasi mendatang yang tidak lagi mengenal jihad dalam Islam. Generasi semacam ini tidak akan siap untuk memerangi penjajah yang masuk ke dalam negerinya. Apabila generasi semacam ini memimpin sebuah negara, sangat mungkin jika penjajah akan disambut dan dianggapnya sebagai teman, padahal ia tengah merampas kekayaan alam negerinya. Tentu, inilah yang diinginkan para penjajah. Sehingga wajar, apabila mereka menghendaki supaya generasi muda mengadopsi gagasan Islam Moderat. Sebuah gagasan yang akan melanggengkan hegemoninya di dunia Islam.

Sehingga amat keliru dan berbahaya apabila ajaran Islam harus direvisi atau menjadikan moderat ajarannya. Langkah ini sama sekali tidak ada manfaatnya, justru akan membawa umat ini semakin berpikir sekuler dan menjauhkan dari kebangkitan Islam. Sebaliknya, langkah ini akan semakin menancapkan pejajahan. Disamping itu, sudahlah jelas bahwa Allah swt mencela tindakan mengambil sebagian hukum Allah dan membuang sebagiannya yang lainnya. Balasan bagi tindakan tersebut berupa kehinaan hidup baik di dunia maupun di akhirat.

Wallahu’alam bishshawaab.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.