Resesi Kian Menjadi Perlu Solusi Hakiki

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh : Tia Yulian

Menteri keuangan Sri Mulyani mengatakan pada sambutan Peringatan Hari Oeang Republik Indonesia atau HORI secara virtual “Perekonomian kita hancur akibat perang dan warisan dari penjajah dan kas negara dalam situasi yang tiada”. Ia pun menyebutkan bahwa pandemi covid-19 semakin menghantam kondisi perekonomian indonesia (okezone.com, 1/11/2020).

Terpuruknya kondisi ekonomi hari ini tentunya bukan tanpa sebab, setidaknya jika diamati ada lima faktor penyebab kehancuran ekonomi suatu bangsa. Pertama, adanya simpanan perbankan dan suku bunga berbasis ribawi yang diharamkan oleh Allah swt. Kedua, berkembangnya sektor non riil sehingga melahirkan kepemilikan perseroan terbatas. Ketiga, pembiayaan pembangunan bertumpu pada utang luar negeri. Keempat, privatisasi sumber daya alam yang merupakan barang milik dan kebutuhan publik. Dan kelima, penggunaan sistem moneter pada uang kertas yang rapuh dan rentan terhadap krisis sehingga berujung kepada resesi.

Resesi atau kemerosotan adalah kondisi ketika produk domestik bruto menurun atau ketika produk ekonomi non riil bernilai negatif selama dua kuartal atau lebih dalam satu tahun (sumber wikipedia).

Lebih jauhnya, kehancuran ekonomi Indonesia bahkan dunia adalah akibat dari penerapan ekonomi berbasis kapitalisme dan noeliberalisme  yang menjadikan para pemilik modal berkuasa, sehingga menyebabkan ketimpangan harga di tengah masyarakat. Memang benar, pemerintah terus mencari solusi dalam mewujudkan kesejahteraan bagi rakyat serta menghadapi  krisis ekonomi dalam situasi extra ordinary  terhantam pandemi. Namun, solusi itu sulit diharapkan, telah berulang kali gagal dan hanya sekedar ilusi.

Sebenarnya Indonesia adalah negara dengan jumlah muslim terbanyak di dunia. Dalam Islam, Allah swt telah membuat aturan yang terperinci untuk manusia menyelesaikan berbagai problematika yang terjadi ditengah manusia. Termasuk dalam menyejahterakan dan menangkal resesi akibat bencana alam maupun pandemi.

Pertama, Islam mengharamkan ekonomi berbasis ribawi. Alasannya, tidaklain terciptanya kedzaliman ditengah masyarakat. Pasalnya, pemilik modal, baik institusi bank maupun individu mendapat keuntungan secara pasti. Sementara, kreditor harus membayar bunga meskipun mendapat kerugian dari uang pinjamannya. Sementara itu dalam sistem Islam, baitul mal menyediakan pos khusus yang berfungsi memberi bantuan kepada yang membutuhkan seperti petani ataupun pengusaha.

Kedua, Islam mengharamkan pasar modal. Alasannya, transaksi penjualan komoditas dipasar modal dapat dengan mudah berpindah tangan dalam waktu singkat bahkan sebelum dimiliki oleh penjual tersebut.

Ketiga, Islam mengharamkan memperdagangkan surat-surat berharga seperti obligasi berbunga atau produk keuangan multi akad atau saham-saham yang diterbitkan oleh perseroan terbatas. Dan mengharamkan segala bentuk perjudian dan manipulasi keuangan

Keempat, Islam mewajibkan kepada negara untuk menjamin hak-hak kebutuhan masyarakat seperti kebutuhan makanan, pakaian dan perumahan. Termasuk negara wajib menyediakan layanan pendidikan, kesehatan, keamanan dan menyediakan lapangan pekerjaan yang pembiayaannya diambil dari pengelolaan sumber daya alam oleh  negara.

Kelima, islam menstandarkan nilai tukar mata uang kepada emas dan perak dengan nilai tukar ini tentunya nilai tukar akan stabil.

Maka dengan demikian. Ketika terjadi kontraksi ekonomi akibat bencana alam atau bahkan pandemi ekonomi negara akan senantiasa kokoh jauh dari kata resesi. Dan tentunya, harapan negara kokoh jauh dari kata resesi tidak bisa diharapkan dari sistem kapitalisme noeliberalisme yang menstandarkan kebebasan atas segala sesuatu.

Wallahua’lam bishshawab.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.