Resesi Di Depan Mata, Siapkah Solusinya?

Oleh: Desi Wulan Sari (Member of Revowriter)

Dampak pandemi yang terjadi menciptakan daftar panjang problematika kondisi perrkonomian negeri ini. Tak urung, rakyatpun terkena dampak dari berbagai sisi. Terlebih pada kondisi ekonomi yang semakin menurun dan sulit untuk masyarakat. Bahkan dipercaya masa ini akan sampai pada posisi resesi ekonomi.

Resesi sebenarnya adalah hal yang biasa dan kerap terjadi dalam sebuah siklus perekonomian, tetapi dampak yang diberikan ketika terjadi resesi cukup buruk. Seperti yang kita alami, karena ketika PSBB diterapkan masyarakat diminta untuk tetap di rumah, sehingga konsumsi pun menurun drastis.

Melansir The Balance, ada 5 indikator ekonomi yang dijadikan acuan suatu negara mengalami resesi, yakni PDB riil, pendapatan, tingkat pengangguran, manufaktur, dan penjualan ritel. Suatu negara dikatakan mengalami resesi jika produk domestic bruto (PDB) mengalami kontraksi atau minus dalam 2 kuartal beruntun secara tahunan atau year-on-year (YoY). Sementara jika PDB minus 2 kuartal beruntun secara kuartalan atau quarter-on-quarter (QoQ) disebut sebagai resesi teknikal. Hal itu juga pernah dijelaskan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Disebutkan, dalam peluncuran laporan Bank Dunia untuk ekonomi Indonesia edisi Juli 2020, tak ada jaminan bagi ekonomi Indonesia terbebas dari resesi. Ekonomi Indonesia bisa mengalami resesi jika infeksi COVID-19 terus bertambah banyak. Terlebih lagi, Presiden Joko Widodo (Jokowi) beberapa kali mengingatkan para menterinya soal ancaman tersebut (detik finance.com, 18/7/2020).

Para pakar ekonomi banyak yang berpendapat bahwa kondisi ini bukan hanya dampak corona semata yang sifatnya temporary saja, pasalnya negara tetangga pun Singapura ikut terkena dampak yang mengakibatkan resesi ekonomi. Bahkan Bank Dunia mengatakan, belum ada jaminan bagi ekonomi Indonesia terbebas dari resesi. Hanya saja banyak juga yang memprediksi kondisi ini mampu menjadi sebuah resesi jika melihat sinyal dari indikator yang bermunculan akhir-akhir ini, antara lain: q
1. produk domestik bruto (PDB) atau pertumbuhan ekonomi suatu negara negatif selama dua kuartal atau lebih dalam satu tahun. 2. Pendapatan yang menurun. 3. Kemiskinan bertambah. 4. Roda perekonomian masyarakat anjlok. 5. PHK massal yang melanda. 6. Kredit macet dalam dunia perbankan, dsb.

Lantas bagaimana nasib rakyat menghadapi resesi ekonomi ini? Banyak ahli yang memberi saran agar masyarakat bersiap menghadapi situasi ini. Para ahli mendorong masyarakat mengantisipasi dengan gaya hidup hemat dan menyiapkan alternatif pekerjaan.

Seperti yang disampikan Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira mengatakan masyarakat harus berhemat mulai dari sekarang untuk menyiapkan dana darurat selama rrsesi. Sebab tidak ada yang mengetahui akan berlangsung sampai kapan jika resesi benar terjadi (detik finance.com, 19/7/2020).

Hingga hari ini masyarakat hanya bisa dihimbau untuk lebih snart dalam melakukan perbelanjaan kebutuhan. Yaitu fokus pada belanja kenutuhan pangan dan kesehatan dan mengurangi belanja yang tidak sesuai dengan kebutuhan. Hidup hemat dimasa pandemi menjadi satu keharusan bagi masyarakat.

Hingga ketahanan pangan di masyarakat mulai di arahkan pada level komunitas seperti tingkat RT, RW, Kelurahan bahkan individu. Dengan menanam berbagai jenis sayur, buah, rempah-rempah, bahkan apotik hidup pada lahan terbatas yang mereka miliki.

Tetapi, cukupkah sampai di situ? Mengapa hanya masyarakat yang terus menerus di tekan untuk mempersiapkan diri. Lalu bagaimana peran negara saat ini? Semestinya dalam kondisi serba sulit bagi rakyat, negara langsung mengambil alih membantu memberikan solusi bagi rakyatnya. Yang jelas-jelas berada dalam kondisi dan posisi yang lemah di masa ini.

Semestinya, tidak cukup hanya mengantisipasi, tapi perlu solusi tuntas atas resesi akibat berlakunya ekonomi kapitalisme yang diusung ini. Perlunya mendorong masyarakat memahami cacat bawaan sistem kapitalisme yang menghasilkan krisis termasuk resesi. Karena sistem kapitalisme hanya menggantungkan ekonominya pada materi, putaran uang, hutang dan riiba semata yang menjadi titik persoalan resesi ini. Perlu dipahami bahwa ekonomi kapitalis membagi aset kepemilikan hanya kepada para pemegang modal dan penguasa saja, bukan atas kepentingan rakyat. Adanya penguasa-an aset oleh kelompok kuat dalam bidang-bidang krusial menyangkut hajat hidup orang banyak (rakyat) pun mereka kantongi. dampaknya ketika kegiatan perekonomian dihantam pandemi, pasti akan terseok karena berhentinya arus perputaran modal mereka.

Maka, saatnya mencari solusi tuntas atas permasalahan ini. Solusi yang ditawarkan oleh Islam sungguh suatu jalan tepat dari persoalan resesi, karena Islam memiliki sistem ekonomi yang mampu menciptakan ekonomi yang stabil dan tidak rentan resesi.

Dalam sistem ekonomi Islam pemenuhan kebutuhan rakyat menjadi tanggung jawab negara. Karena sudah menjadi kewajiban bagi negara dalam memenuhi kebutuhan primer, sekunder dan tersier rakyatnya. Dan seandainya kondisi seperti ini terjadi, tidak akan sampai membuat ambruk seluruh perekonomian negara.

Ekonomi Islam juga membagi kepemilikan menjadi tiga bagian yaitu, kepemilikan individu, kepemilikan umum, dan kepemilikan negara. Dimana masing-masing kepemilikan jika dijalankan sesuai dengan aturan syariah yang telah ditentukan, maka ekonomi negara akan senantiasa stabil, terlebih saat menghadapi situasi pandemi seperti ini.

Tidak akan ada penguasaan sumber daya alam secara pribadi ataupun kelompok. Semua akan dikelola oleh negara tanpa ada campur tangan asing dalam pengelolaannya. Seperti sumber daya gas, minyak, tambang emas, perak, nikel, batu bara, dsb, air, hutan semua itu berada dalam pengelolaan negara yang diperuntukkan untuk pemenuhan kebutuham rakyat. Bahkan kekayaan individu pun memiliki tempat pendistribusian tersendiri yang memperkuat pilar ekonomi Islam dalam sebuah masyarakat dan negara.

Itulah solusi Islam yang ditawarkan dalam mencegah resesi ekonomi yang tengah melanda negeri ini. Hanya Islamlah yang mampu mewujudkan kekuatan dan kestabilan ekonomi secara universal dalam koridor ketaatan. Melalui tangan pemimpin amanah akan tercipta kenyamanan dan kemakmuran rakyat.wallahu a’lam bishawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *