Reopen Objek Wisata ditengah Wabah?

Oleh: Nahdoh Fikriyyyah Islam (Dosen dan Pengamat Politik)

SOLO–Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo menyatakan berencana membuka sejumlah objek wisata di Kota Solo secara bertahap. Pembukaan dilakukan sesuai perkembangan kasus Covid-19. Menurutnya, objek wisata yang akan dibuka lebih awal terutama wisata luar ruangan atau outdoor. Di antaranya Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ), Taman Balekambang serta sejumlah taman kota. Pembukan lokasi wisata tersebut dibarengi dengan aturan ketat protokol kesehatan.

Wali Kota menambahkan, khusus Taman Jurug, dia meminta manajemen memprioritaskan pengunjung yang telah memberi donasi dengan membeli tiket di muka. Manajemen diminta mengatur jadwal untuk masyarakat yang sudah membeli tiket tersebut. Sementara untuk pembukaan objek wisata indoor, seperti wayang orang masih akan dipertimbangkan lagi. Sebelumnya, TSTJ telah melakukan penjualan tiket di muka seharga Rp 20 ribu per tiket untuk keperluan operasional terutama memenuhi pakan satwa. Tiket tersebut dapat digunakan sampai 31 Desember 2021. Sampai saat ini, tiket di muka sudah terjual sampai 50 ribu lembar.

Pemberlakuan fase New Normal tahap 1 sudah dimulai dan beberapa fasilitas publik telah mulai beroperasi. Mulai dari pasar-pasar hingga pusat perbelanjaan modern seperti swalayan, mall dan supermarket. Meski disaat PSBB tetap banyak swalayan yang buka, tetapi ada juga yang tutup. Dengan pemberlakuan new normal, aktifitas ekonomi akan berangsur-angsur kembali ke kondisi sedia kala alias bebas berdagang, dan hilir-mudik.
Ternyata bukan hanya pasar yang di buka. Melainkan objek wisata juga segera menyusul secepatnya. Dengan alasan pariwisata adalah salah satu sektor pemasukan yang sangat banyak memberikan keuntungan.

Pertanyaannya adalah keuntungan bagi siapa? Reopen objek wisata yang masih ditengah pandemi yang terus meningkat sharusnya tidak dilakukan. Namun tetap saja pemerintah ngotot melakukannya. Dan hal tersebut disebabkan beberapa alasan berikut.

Pertama, sejak terjadi pandemi hingga hari ini, para tourist memang tidak distop masuk ke Indonesia. Hanya dibatasi beberapa penerbangan. Indonesia tidak mungkin mampu melakukan lockdown total dan menutup serta melarang warga asing masuk. Alasannya juga tidak lepas dari transaksi politik ekonomi yang telah dijalin antarnegara dengan Indonesia. Pengerjaan mega proyek infrastruktur misalnya atau karena tekanan utang luar negeri.

Kedua, kota wisata yang akan dibukan juga bukan cuma Solo. Bali dan lainnya juga sudah dianjurkan agar segera memberlakukan new normal. Tetapi bagusnya, tidak semua Pemda mengindahkan. Misalnya Bali. Tetapi Batam, Sumatera Barat dan lainnya sudah ditarget untuk reopen new normal. Tempat-tempat yang banyak objek wisatanya kelihatannya menjadi prioritas new normal putaran pertama.

Ketiga, bukan rahasia umum jika pemilik objek wisata adalah korporat atau kaum kapital. Permintaan mereka untuk segera diizinkan beroperasi kembali tentu sulit ditolak pemerintah.

Ditambah agenda new normal adalah arahan negara-negara kapitalis demi menyelamatkan ekonomi. Tetapi sayangnya, berujung abai pada nyawa manusia. Pemilik dan pengelola pariwisata tentu tidak ingin bangkrut di masa pandemi. Oleh karena itu, kebijakan reopen pariwisata jadi prioritas.

Keempat, meskipun alasan reopen objek pariwisata seperti yang disampaikan oleh walikota Solo karena mempertimbangkan para pengunjung yang sudah bayar tiket masuk sebelumnya dan dibatasi jumlah pengunjung, tetap saja yang dipikirkan adalah untung. Andaikan pengusaha pariwisata atau pengelola baik swasta maupun pemerintah, bukankah lebih baik tiket dikembalikan dan objek pariwisatanya ditutup dulu selama wabah?

Tetapi seperti biasa, hitung kerugian mengembalikan dana tiket pengunjung lebih besar dibandingkan keuntungan yang diraih jika objek wisata dibuka kembali. Bukan hanya yang sudah pesan tiket yang akan datang, tetapi akan menjadi promosi dan menambah jumlah pengunjung berikutnya.

Keuntungan terus menjadi perkara yang diburu dalam kehidupan kapitalisme. Objek wisata apakah dari indoor atau outdoor, secara penularan (transmission) virus covid-19 sangat rentan berpeluang tertular jika mengikuti saran WHO. Sebab WHO telah banyak mengeluarkan publikasi bagaimana cara penularan virus yang bisa dipahami hampir tidak ada ruang yang bebas Covid. Bahkan sampai ke udara pun dikabarkan bisa menyebabkan penularan. Meskipun hal tersebut bertentangan dengan teori kelimuan virologi dan para dokter ahli selama ini. So, dimana lagi tempat yang bebas corona? Kenapa begitu berani membuka tempat keramaian yang bersesak-desakan dan segala model manusia akan datang kesana?

Intinya, pembukaan objek pariwisata adalah demi menyelamatkan usaha atau bisnis para pemodal bukan murni peduli pada visitor yang sudah bayar tiket. Ogah mengembalikan dana, tapi berani bermain dengan keselamatan nyawa manusia. Beginilah kapitalisme memperlakukan manusia dalam situasi genting wabha sekalipun. Nyawa tidak ada harganya dibandingkan materi yang harus diraih.

Saatnya kapitalisme dijadikan musuh bersama dan mencampakkannya dari negeri ini. Sehingga pengurusan manusia, baik nyawa maupun kesehatannya tidak lagi abai. Dan sudah saatnya sistem kapitalisme yang didopsi Indonesia diganti dengan sistem Islam kaffah yang memuliakan manusia, menjaga nyawa, kesehatan dan juga ekonomi masyarakat tanpa mengorbankan salah satunya. Dan insyaallah semua itu akan terwujud jika Islam menjadi pilihan solusi untuk negeri. Wallahu a’lam bissawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *