Pemuda Idealis yang Dirindukan Umat Islam 

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Pemuda Idealis yang Dirindukan Umat Islam 

Oleh Hamsina Ummu Ghaziyah

(Pegiat Literasi)

 

Peran pemuda telah digariskan sebagai sosok pelopor kebangkitan bangsa. Di tangan pemuda kebangkitan akan lebih mudah diraih dalam membangun peradaban yang gemilang. Sosok pemuda yang digariskan adalah mereka yang berfikir idealis dalam membangkitkan kepekaan berpikirnya lewat ide-ide cemerlang yang menghasilkan solusi tersistematis.

Pada hakikatnya, setiap manusia dibekali qiyadah fikriyah (kepemimpinan berpikir) oleh Allah Swt. Inilah yang mempengaruhi aqliyah dan nafsiyah seseorang dalam kehidupan sehari-harinya. Alasan mengapa Allah Swt. membekali manusia qiyadah fikriyah berupa aqliyah dan nafsiyah, karena manusia dipandang sebagai makhluk istimewa yang mampu membawa perubahan dan kebangkitan pada dirinya.

Namun, dibalik anugerah tersebut, Allah pun menetapkan aturan-aturan yang harus dipatuhi oleh setiap manusia, dimana setiap perbuatannya akan dimintai pertanggung jawaban. Oleh karena itu, penting untuk mengolah kepemimpinan berpikir pada manusia dengan akidah Islamiyah agar tercipta pemuda-pemuda yang dirindukan Islam sebagaimana para pemuda semasa dan setelah kepemimpinan Rasulullah saw.

Pemuda merupakan tonggak penting suatu peradaban, kapan dan di mana pun. Demikian pula pada zaman Rasulullah saw., para sahabat Nabi yang kebanyakan mereka berusia muda, memiliki tingkat emosional yang tinggi terhadap Islam serta berperan penting dalam mengawal suksesnya dakwah Islam. Secara historis, Islam telah melahirkan sosok-sosok kepemimpinan para pemuda yang menjadi tonggak peradaban Islam. Dengan aksi heroiknya, mereka mampu menaklukkan musuh-musuh Islam.

Usamah bin Zaid misalnya, diusianya yang baru beranjak 18 tahun, dia telah dipercaya oleh Rasulullah saw. untuk memimpin pasukan yang anggotanya adalah para pembesar sahabat seperti Abu Bakar dan Umar, untuk menghadapi pasukan terbesar dan terkuat di masa itu.

Tak kalah heroik, Al Arqam bin Abi Arqam (16 tahun), menjadikan rumahnya sebagai markas dakwah Rasul Shallallahu’alahi wasallam selama 13 tahun berturut-turut. Kemudian, ada Zubair bin Awwam (15 tahun) yang pertama kali menghunuskan pedang di jalan Allah. Diakui oleh Rasul Shallallahu’alaihi wasallam sebagai hawari-nya. Ada pula Zaid bin Tsabit yang tak kalah hebatnya. Meskipun usianya masih sangat muda, yakni 13 tahun, ia dijadikan sebagai penulis wahyu dalam 17 malam dan mampu menguasai bahasa Suryani, sehingga menjadi penerjemah Rasul Shallallu’alalihi wasallam. Tak hanya itu, ia pun menghafal kitabullah dan ikut serta dalam kodifikasi Al Qur’an.

Sungguh luar biasa kepemimpinan para pemuda di masa itu. Mereka sama sekali tidak terpengaruh dengan kehidupan dan terpenjara oleh belenggu duniawi. Diusia mereka yang begitu muda, mampu menghunuskan pedang dan melontarkan anak panah ke hadapan musuh-musuh Islam. Semua itu, tak lain karena keimanan dan rasa cinta mereka terhadap Islam.

Beda halnya kehidupan pemuda di era sekularisme saat ini. Pemuda bagaikan sosok melankolis yang gampang terpengaruh oleh kehidupan dan kultur Barat. Pemuda di era digital saat ini mudah terbawa arus perkembangan zaman. Seks bebas, narkoba, hingga melakukan tindak kriminal dianggap sebagai hal biasa. Sungguh miris nasib pemuda yang tak mampu mengcounter akalnya dan berpikir akan kemana kehidupan setelahnya.

Sosok pemuda seperti ini sangat tidak layak dijadikan pemimpin. Alih-alih memimpin masyarakat, memimpin dirinya saja ia tak mampu. Lemahnya taraf berpikir serta rusaknya moral dan aqidah, serta penerapan sistem sekularisme, telah menyebabkan peran pemuda terbahak dan salah arah. Padahal, telah digariskan bahwasanya peran pemuda adalah sebagai ujung tombak pelopor kebangkitan bangsa dan pengukir peradaban.

Oleh karena itu, untuk membetuk pemuda yang berkepribadian Islam, harus dimulai dengan membentuk qiyadah fikriyahnya (kepemimpinan berpikir) sesuai dengan Islam. Qiyadah fikriyah yang terasah lewat proses berpikir dengan keimanan yang kokoh, akan melahirkan kepribadian Islam yang tercermin dari aqliyah Islamiyah dan nafsiyah Islamiyah.

Sebagaimana dalam kitab yang berjudul Peraturan Hidup dalam Islam karangan Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani menjelaskan, setiap muslim wajib menjadikan imannya betul-betul muncul dari proses berfikir, selalu meneliti dan memperhatikan serta senantiasa merujuk kepada akalnya secara mutlak. Sehingga, keimanan sejati lahir dari proses berfikir yang cemerlang, dimana manusia menggunakan akalnya dalam mencapai keimanan yang mendalam kepada Allah Swt. dengan memperhatikan tiga aspek yaitu kehidupan, manusia, dan alam semesta.

Olehnya, aspek penting yang harus diperhatikan oleh pemuda masa kini agar terbentuk kepemimpinan berpikir serta kepribadian dirinya sesuai dengan Islam, hendaklah menjadikan keimanannya betul-betul muncul dari proses berpikir. Dengan demikian, untuk pencapaian tersebut sudah seharusnya pemuda masa kini kembali pada penerapan Al Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman hidup yang membawa pada ketentraman jiwa dan ketenangan hati.

Dengan penerapan Al Qur’an dan Sunnah, para pemuda akan semakin dekat kepada Allah Swt. dan senantiasa merasa takut ketika berbuat dosa. Hidup merasa diatur sesuai dengan tuntutan syari’at Islam, sehingga menjadikan diri layaknya seorang pemimpin yang mampu membaur dengan masyarakat luas serta mampu memberikan manfaat dengan tsaqofah Islam yang dimiliki.

Karakter pemuda seperti inilah yang sangat dirindukan oleh umat. Mereka yang yang mampu mengolah keimanan mereka lewat proses berpikir, sehingga menjadikan diri mereka layaknya generasi terdahulu, yang mampu mewujudkan perubahan di tengah umat dengan tegaknya Khilafah dan mampu menjadikan Khilafah sebagai mercusuar peradaban dunia.

Wallahu A’lam Bishshawwab.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *