MENIKAH DINI? KENAPA TAKUT?

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

MENIKAH DINI? KENAPA TAKUT?
Oleh Iin Indrawati

Hari Kebersihan Menstruasi Sedunia atau Menstrual Hygiene Day (MHD) diperingati setiap tanggal 28 Mei, sejak 2014 hingga saat ini, diprakarsai oleh Lembaga Swadaya Masyarakat Water Sanitation and Hygiene United yang berbasis di Jerman. Dalam pelaksanaannya, organisasi ini ingin mengajak organisasi-organisasi nonprofit, agen pemerintah, sektor swasta, media, maupun individu untuk menyerukan Menstrual Hygiene Management (MHM) atau manajemen kebersihan menstruasi. Beberapa negara sudah mulai menyediakan produk menstruasi gratis di sekolah dan tempat kerja, serta memasukkan pendidikan menstruasi ke dalam kurikulum sekolah. Kampanye ini terus berlanjut dengan tujuan untuk memastikan setiap orang dapat menikmati menstruasi mereka dengan aman dan tanpa rasa malu pada tahun 2030 (cnnindonesia.com, 28/5/2024).

Sedangkan di Indonesia sendiri, pemerintah Kabupaten Bandung salah satunya, bersama sejumlah Organisasi Perangkat Daerah, lembaga pendidikan, kesehatan, dan pihak lainnya melaksanakan kampanye bersama dalam rangka Menstrual Hygiene Day (MHD) dengan tema edukasi pubertas dan Manajemen Kebersihan Kenstruasi (MKM). Menurut Bupati Dadang Supriatna, MKM penting juga untuk laki-laki karena berdampak pada meningkatnya pengetahuan tentang kesehatan sistem reproduksi manusia. Ia berharap melalui kampanye itu, jangan sampai terjadi pernikahan dini (bandungraya.inews.id, 28/5/2024).

Dari sini terlihat bahwa MHD dijadikan sarana bagi pemerintah untuk mencegah pernikahan dini. Mencuatnya trend perkawinan anak di Indonesia tidak hanya akibat kurangnya pemahaman anak dan orang tua akan bahaya dan ancaman dari perkawinan anak, melainkan juga dampak pergaulan bebas di kalangan anak dan remaja yang berisiko pada kehamilan tidak diinginkan (KtD) (Situs Kemen PPPA).

Prinsip pernikahan, menurut mereka, harus kembali kepada tujuan pernikahan, yaitu untuk membangun keluarga sakinah, mawadah, dan rahmah yang tidak mungkin diwujudkan oleh anak-anak. Alasannya, mereka memang belum siap berumah tangga, sedangkan media dan lingkungan menjadi pendorong nafsu seks anak menjadi tidak terkendali.

Secara fakta, maraknya pornografi-pornoaksi meningkatkan rangsangan seksual bagi anak remaja. Di antara dampaknya adalah sebagian remaja terlibat yang pergaulan bebas, bahkan sampai hamil di luar nikah (KtD). Dari sini, sebagian berakhir dengan pernikahan, padahal mereka belum siap secara mental untuk memikul tanggung jawab sebagai suami istri. Sebagian ada yang aborsi, bahkan, tidak sedikit yang setelah aborsi, ibunya meregang nyawa. Namun ada juga sebagian remaja menikah dini karena memang ingin menjaga agamanya dan sudah siap bertanggung tanggung jawab sebagai suami istri.

Jadi yang harus dilakukan adalah kurikulum di sekolah dan pendidikan keluarga harus mampu menyiapkan anak yang sudah baligh agar mampu menanggung taklif/beban hukum yang menjadi tanggung jawabnya.

Kurikulum PAI (dari SD, SMP, SMA) harus membahas tentang pernikahan dan aturan pergaulan sesuai Islam. Dengan demikian, pemerintah wajib menyiapkan kematangan anak agar siap menikah, bahkan seharusnya memberi kemudahan menikah.

Berkaitan dengan sistem pergaulan laki-laki dan perempuan, ajaran Islam mewajibkan menutup aurat, melarang khalwat, melarang komunikasi yang tidak ada kebutuhan syar’i antara keduanya, juga mewajibkan untuk menundukkan pandangan, atau dengan kata lain melarang pacaran dan pergaulan bebas (Taqiyuddin an-Nabhani, Nizham Ijtima’i fil Islam).

Dalam Islam, tidak ada batasan umur pernikahan. Artinya, berapa pun usia calon suami istri, tidak menghalangi sahnya pernikahan, bahkan usia belum baligh sekalipun. Tidak tercapainya keluarga sakinah, mawadah, dan rahmah bukan karena umur mereka yang masih dini, melainkan karena mereka tidak disiapkan secara matang untuk memasuki pernikahan.

Mengenai media sosial, seharusnya media menjadi sarana edukasi bagi masyarakat. Di sinilah peran negara dibutuhkan untuk mengatur tayangan-tayangan di media. Media porno akan berdampak pada liberalisasi seks yang makin merajalela. Hal ini jelas merupakan masa depan yang suram bagi generasi. Maka harapan terhadap generasi emas masa depan yang sehat dan berkualitas mustahil terwujud. Padahal pepatah mengatakan, “Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan.” Inilah akibatnya bila negara masih menganut sistem sekulerisme, di mana aturan agama terpisah dari aturan kehidupan.

Sedangkan Islam tegas mengharamkan pergaulan bebas, perzinaan, dan hal-hal yang mendekatinya. Negara yang disebut khilafah akan mengeluarkan aturan pergaulan dan pelarangan perzinaan beserta pemberlakuan sanksi-sanksinya.

Sanksi bagi pezina yang belum menikah adalah didera 100 kali cambuk dan diasingkan selama setahun. Lalu bagi pezina yang sudah menikah, maka harus dirajam hingga mati. Adapun sanksi orang yang memfasilitasi orang lain untuk berzina dengan sarana dan cara apa pun, baik oleh dirinya sendiri maupun orang lain, juga akan dikenakan sanksi. Menurut Islam, sanksi bagi mereka adalah penjara lima tahun dan hukum cambuk. Jika orang tersebut suami atau mahramnya, sanksinya diperberat menjadi 10 tahun (Abdurrahman al-Maliki, Sistem Sanksi dalam Islam, 2002, hlm. 238).

Sudah seharusnya pemerintah bersikap adil dan menyeluruh melihat masalah ini. Bukan hanya melihat dari satu sisi. Pernikahan dini adalah hal yang tak perlu ditakuti, apalagi dicegah. Seharusnya dibimbing, diedukasi, dan difasilitasi, bukan malah dituduh dan dilarang.

Demikian solusi untuk menyelamatkan generasi muda di negeri ini. Bukan dengan solusi lain. Yaitu kembali merujuk pada penerapan syariat Islam kafah, agar bisa membangun dan menghasilkan generasi emas masa depan yang sehat dan berkualitas.

Wallahu a’lam bish-shawwab

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *