Refleksi Idul Adha di Tengah Pandemi Covid-19

Oleh : Tutik Indayani (Komunitas Majelis Muslimah Rindu Jannah)

Hari Raya Idul Adha adalah hari untuk memperingati sejarah penyembelihan hewan qurban yang berasal dari kisah Nabi Ibrahim as bersama putranya Ismail as.

Dikisahkan pada waktu itu Nabi Ibrahim as diperintahkan untuk menyembelih putranya Ismail as.

Padahal Ismail adalah buah hati yang selama ini beliau dambakan. Namun karena Nabi Ibrahim adalah orang yang patuh, maka beliau mendahulukan perintah Allah Swt dengan cara mentaatinya.

Perintah dari Allah tersebut mendapat dukungan dari putranya Ismail as, untuk segera melaksanakan perintah tersebut.

Melihat ketaatan dan kesetiaan Nabi Ibrahim, Allah Swt lalu mengganti Ismail as dengan hewan domba sebagai qurban.

~~~~

Sebagai umat Islam, kita seharusnya dapat mengambil ibrah dari peristiwa tersebut, terlebih lagi kondisi saat ini yang sudah terpuruk akibat adanya pandemi Covid-19.

Ketidak siapan pemerintah menangani penyebaran virus ini, semakin memperparah keadaan

Dalam dunia kesehatan yang berhubungan langsung dengan penyebaran virus ini, sampai saat ini pihak rumah sakit kewalahan menangani melonjaknya jumlah pasien yang terpapar Covid-19 akibat minimnya APD dan belum ditemukannya vaksin untuk virus ini.

Masalah ekonomi juga terdampak, dengan kebijakan PSBB dan new normal yang membatasi aktivitas, tidak mampu menjadi solusi, malah semakin membawa keterpurukan pada masyarakat ekonomi menengah kebawah.

Mereka adalah pekerja, warung, toko kecil, pedagang asongan, pedagang di pasar hingga pekerja lain yang penghasilannya harian, termasuk juga pengemudi kendaraan umum maupun ojek online.

Penghasilan mereka merosot, bahkan sampai ada yang kehilangan pekerjaanya karena daya beli masyarakat menurun.

Tidak khayal lagi semua itu berdampak pada ketahanan keluarga. Angka perceraian meningkat karena ketidak stabilan ekonomi akibat kehilangan pendapatan rumah tangga secara tiba-tiba.

Bukan itu saja, dalam dunia pendidikan juga terdampak kebijakan ini. Keputusan pemerintah yang meliburkan anak-anak sekolah dan merubah proses pembelajaran dengan cara online, bukan mengatasi masalah, tetapi menimbulkan masalah baru.

Tidak siapnya guru, siswa dan orang tua dengan cara online membuat kelimpungan diberbagai pihak dan semakin kacaunya program ini.

Banyak keluhan dalam masyarakat akibat diterapkannya sistem online ini. Pengeluaran untuk membeli kuota meningkat, terbatasnya sarana dan prasarana yang terbatas.

Anak-anak semakin kecanduan dengan gedget, yang seharusnya mereka mengurangi aktifitas dengan alat ini, malahan mereka semakin bergantung dengan ponselnya.

Inilah sebagian contoh kecil dampak akibat penerapan kebijakan yang salah yaitu kebijakan dalam sistem kapitalis yang merusak. Penerapan aturan yang hanya mendatangkan masalah bukan memberikan solusi.

~~~~

Ketaatan dan kepatuhan Nabi Ibrahim kepada Rab-Nya, patut kita jadikan tauladan bagi umat Islam.

Bahwa dalam ketaatan itu tanpa syarat, tanpa memikirkan untung dan rugi karena sebagai makhluknya wajib yakin apa yang diperintahkan Allah pasti benar tidak ada sedikit pun keraguan didalamnya. Dan apa yang dilarang pasti akan mendatangkan kemudhorotan bagi hambanya. Dan Allah berfirman :
Katakanlah : “Ta’atlah kepada Allah dan ta’atlah kepada Rasul, dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu ta’at kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (TQS An Nur : 54)

Ketaatan dan kepatuhan terhadap semua perintah dan larangan Allah Swt dapat realisasikan jika ada institusi negara yang mau menerapkan syariat Islam secara kafah.

Hanya dengan dibawah naungan Daulah Islam, semua aturan yang ada dalam Al Qur’an dan As Sunnah dapat diterapkan secara utuh dan pastinya dengan umat yang beriman dan bertakwa.

Kebutuhan untuk mendapatkan solusi atas krisis akibat pandemi, semestinya menguatkan kesadaran seluruh komponen umat untuk taat sempurna pada semua aturan Sang Pengatur Allah Swt dan menguatkan tekad untuk berkorban seluruh daya upaya untuk menegakkan aturan Allah Swt dalam kehidupan.

Wallahua’lam bishshawab.

~~~~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *