Refleksi Idul Adha 1441 H: Taat Sempurna dan Siap Berkorban Menuju Solusi Pandemi

Oleh : Rohmatullatifah, S.E. (Aktivis Dakwah)

Saat ini dunia tengah menghadapi berbagai permasalahan akibat pandemi covid-19 yang tak kunjung berakhir. Ketidakpastian kapan pandemi ini akan berakhir membuat keadaan semakin memburuk. Berbagai upaya dilakukan oleh berbagai pihak untuk mengatasinya. Pandemi ini secara langsung telah mengacaukan berbagai tatanan, baik ekonomi, kesehatan, sosial, serta pendidikan.

Indonesia dan negara-negara besar dibuat repot oleh makhluk tak kasat mata bernama covid-19. Upaya mereka untuk menanganinya telah memperlihatkan betapa lemah dan rusak tatanan ekonomi dan kesehatan yang selama ini dijalankan.

Rakyat dibiarkan berjuang sendiri di tengah himpitan ekonomi dan situasi bahaya yang ditimbulkan covid-19 sangat terasa. Pandemi covid-19 membuat sektor ini terpuruk dan menghadapi ancaman resesi, termasuk di Indonesia. Hampir semua negara menghentikan sebagian aktivitas perekonomian. Dapat disimpulkan bahwa pendemi ini megakibatkan terjadinya kerusakan pada sejumlah sektor. Sebagai bagian tak terpisah dari perekonomian dunia, Indonesia pasti merasakan dan menerima dampak dari kerusakan itu.

PHK terjadi di mana-mana, pengusaha kecil ada yang terpaksa gulung tikar, pelaku usaha lesu, daya beli masyarakat menurun, omset pun menurun. Imbasnya ekonomi akan tergerus lagi. Pemerintah memprediksi, pandemi akan membuat pertumbuhan ekonomi kuartal II 2020 minus hingga 3,8 persen. Jika pertumbuhan minus itu berlanjut ke kuartal III 2020, Indonesia berpotensi masuk ke jurang resesi. (Kompas.com, 13/7/20).

Sektor kesehatan pun mengalami dampak langsung akibat covid-19. Kebutuhan akan sarana dan prasarana kesehatan untuk penanganan covid-19 yang kurang memadai, seperti minimnya Alat Pelindung Diri (APD) serta masker. Keterbatasan jumlah tenaga kesehatan baik dokter maupun perawat mengakibatkan layanan kesehatan tidak maksimal hingga tumbangnya para tenaga kesehatan. Belum adanya obat atau vaksin covid-19 dan sederet permasalahan lainnya yang muncul selama pendemi. Hal ini menyadarkan kita bahwa sistem kesehatan yang selama ini diadopsi tidak mampu menahan dasyatnya serangan covid-19. Banyaknya korban jiwa akibat virus corona ini disinyalir karena pemerintah di setiap negara tidak siap menghadapinya.

Masalah sosial pun kena dampaknya. Selama pendemi ini masalah ketahanan keluarga mencuat. Pengaduan kekerasan dalam rumah tangga dan perceraian dilaporkan meningkat yang dipicu oleh masalah ekonomi.

Pada bidang pendidikan, sistem belajar daring yang dilakukan semasa pendemi juga memicu kegaduhan. Kesulitan untuk mengakses internet, naiknya pengeluaran keluarga untuk keperluan daring, ketidaksiapan orang tua yang juga harus berperan sebagai guru banyak dikeluhkan. Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti mengatakan, “banyak anak tidak bisa mengakses PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) secara daring, sehingga banyak dari mereka yang tidak naik kelas sampai putus sekolah.”

Dari berbagai fakta di atas, jelas bahwa sistem kapitalis sekuler yang diterapkan sekarang ini tidak mampu mengatasi permasalahan yang ada. Dalam sektor ekonomi, kesehatan, sosial, serta pendidikan, semuanya terpuruk akibat pendemi. Solusi new normal yang ditawarkan untuk menanggulangi covid-19 dan dampaknya pun tidak membawa banyak perubahan. Hal itu menjadi bukti bahwa aturan buatan manusia syarat dengan kekurangan dan kerusakan.

Islam mengajarkan cara mengatasi wabah adalah dengan melakukan lockdown terhadap daerah yang terkena pendemi. Orang tidak boleh keluar maupun masuk wilayah tersebut, sehingga pendemi tidak akan menyebar ke daerah lainnya. Orang yang tinggal di daerah yang dilockdown akan dicukupi kebutuhan hidupnya. Negara akan mengobati orang yang sakit, melakukan penelitian untuk menemukan vaksin. Dengan diberlakukannya lockdown, daerah lain bisa beraktivitas seperti biasa. Roda perkonomian pun tetap berjalan.

Ketika mencari solusi, harus diyakini bahwa solusi dari Allah adalah solusi terbaik atas semua masalah yang menimpa negeri dan dunia. Setelah modal keimanan dan keyakinan, maka siap untuk menerapkan aturan Allah sebagai solusi terbaik dengan ketaatan sempurna. Manusia lemah dan terbatas, sehingga butuh sesuatu yang Maha Hebat dan Kuasa atas segalanya, yaitu Allah. Kemudian seluruh elemen siap berkorban meninggalkan aturan yang penuh kekurangan dan karusakan menuju aturan yang paripurna dari Allah.

Karena itu sudah sepatutnya kita mengambil pelajaran dari ujian ini. Apa yang terjadi adalah salah satu teguran dari Allah kepada manusia yang telah melakukan kerusakan di muka bumi. Berbagai kerusakan dan kemaksiatan telah manusia perbuat, termasuk di Indonesia dengan angka kriminalitas, korupsi, perzinahan dan riba terus meningkat, ditambah utang ribawi semakin menumpuk, SDA juga dikuasai pihak swasta dan asing, ekonomi rakyat semakin tercekik.

Untuk itu melalui momentun Idul Adha 1441 H, marilah kita berkurban. Bukan hanya berkurban dengan penyembelihan unta, sapi atau kambing. Namun pengorbanan harta, waktu, jiwa dan raga kita demi tegaknya agama Allah di muka bumi ini. Berjuang dengan segenap daya dan kemampuan untuk menggapai kemenangan yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya.

Wallahu a’lam bishawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *