Rasisme Menyeruak, Amerika Seperti Kehilangan Cermin

Oleh: Sarah Adilah Wandansari

Gelombang massa yang tak terbendung memenuhi jalanan Amerika beberapa hari lalu. Kurang lebih sekitar 30 negara bagian di Amerika Serikat kompak melakukan demonstrasi besar dengan turun ke jalanan. Aksi ini merupakan reaksi atas kasus meninggalnya seorang warga AS berkulit hitam keturunan Afrika-Amerika bernama George Floyd (46 tahun). Kejadian ini bermula saat Floyd diduga telah menggunakan uang palsu untuk membeli rokok di salah satu toko yang terletak di daerah Minneapolis, negara bagian Minnesota, AS pada akhir Mei lalu. Seketika polisi bernama Derek Chauvin berkulit putih kemudian datang untuk menyelesaikan masalah ini, namun Floyd menolak untuk dibawa. Chauvin justru menindih leher Floyd dengan lututnya. Sontak saja Floyd meminta tolong karena dirinya merasa sulit bernapas. Sayangnya, aksi Chauvin menyebabkan Floyd meninggal dunia. Walaupun sempat dibawa ke rumah sakit namun nyawanya tak terselamatkan. Dilansir dari The Guardian, peristiwa yang menimpa Floyd dikategorikan sebagai pembunuhan.

Faktanya bukan hanya di Amerika saja yang mengecam tindakan rasisme ini, namun berbagai massa di beberapa negara seperti Jerman, Irlandia, Inggris, Italia, dan negara lainnya juga melakukan hal yang serupa. #BlackLivesMatter dan #icantbreathe seketika menjadi viral di sosial media menyusul tindakan ini. Beberapa organisasi sepakbola besar juga bahkan memberikan respon sebagai bentuk dukungan dalam gerakan anti-rasisme.

Isu rasisme di Amerika sebenarnya bukan hal yang baru terjadi. Tragedi ini hanya satu dari sekian banyak kasus rasis yang dilakukan oleh kulit putih kepada kulit hitam di AS. Atas asas ini pula para pakar menilai bahwa tindakan rasisme di AS adalah sebuah masalah sistemik. Bahkan banyak ahli menyatakan AS mengalami kemunduran sebagai Champion Human Rights, Champion Demokrasi. Supremasi kulit putih di Amerika pun dianggap bukan hanya sekedar mitos karena masih banyak dianut oleh mayoritas warga negara AS. Beberapa pejuang anti-rasisme juga lahir untuk terus menyuarakan diskriminasi yang menahun di AS.

Sebagai sebuah negara dengan ideologi Kapitalisme, AS sering menggaungkan HAM di tengah-tengah mayarakat dunia. Selama ini HAM sebagai salah satu dari konsep Demokrasi dipahami sebagai kesetaraan antara sesama manusia. Demokrasi sendiri juga lahir dari ideologi Kapitalisme. Diskriminasi merupakan larangan dalam HAM. Setiap manusia tak peduli warna kulit dan gender layak untuk berkarya dan menjalani hidup. Namun AS seperti kehilangan cerminnya sendiri ketika ternyata masih banyak pemikiran diskriminatif berkeliaran dan dianut sebagai paham dalam diri warganya. Sorotan pun dilayangkan kepada Trump yang dianggap seolah mendukung tindakan diskriminasi terhadap warganya sendiri. Hal ini dibuktikan saat Trump memerintahkan aparat yang berwenang mengunakan kekerasan demi mengusir gerakan demonstrasi di Amerika.

Kapitalisme yang selama ini telah “dipercaya” oleh sebagian besar orang sebagai ideologi yang membawa kemajuan nyatanya telah menggerus nilai kemanusiaan. Kemajuan yang tampak bersifat semu. Kemajuan yang selama ini terpatri dalam diri orang-orang yang mengemban pun adalah suatu bentuk kegagalan, alasannya karena menyebabkan kehancuran dan kerusakan dalam isu-isu penting yang menyangkut hidup manusia. Tentu saja sebagai sebuah ideologi yang terlahir dari akal manusia. Kapitalisme hadir hanya menjadi penyelamat bagi segelintir kaum saja, notabene adalah kaum pengusaha. Namun tidak bisa menyelamatkan dan menjaga kehormatan manusia di seluruh dunia tanpa mengenal warna kulit, bola mata, tinggi badan, ataupun jenis kelamin.

Hal ini berbeda dengan islam. Rasulullah mencontohkan kepada kita bahwa setiap manusia layak untuk menerima kebenaran, layak untuk menerima keadilan, layak untuk diperlakukan sebagai manusia sebagaimana mestinya. Bahkan salah satu sahabat nabi berkulit hitam yang terkenal yaitu Bilal bin Rabah selalu digadang-gadang sebagai sahabat penting dalam perluasan islam, inilah bukti dari perlakuan adil islam. Bilal yang berstatus budak saat itu menjadi salah satu sahabat yang berkontribusi besar dalam perjuangan islam. Dirinya juga banyak dicontoh oleh para sahabat lainnya karena semata-mata ketaqwaan yang dimilikinya.

Tidak dapat dipungkiri, bahwa Allah menciptakan manusia dalam keadaan beragam. Keberagaman inilah yang menyebabkan manusia satu sama lain dapat saling mengenal. Sehingga menguatkan jalan untuk memperjuangkan kebenaran. Islam bahkan dapat menyatukan manusia saat masa kejayaannya dimulai dari yang dilakukan oleh Rasulullah, sahabat, dan khalifah-khalifah yang meneruskan perjuangan mereka. Mereka menjaga keadilan di antara sesama manusia. Karena mereka sebagai umat muslim yang mengemban islam dalam seluruh aspek hidup menyakini bahwa perbedaan setiap manusia satu sama lain hanya dilihat berdasarkan ketaqwaannya saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *