Rasakan Getaran Akselerasi Islamic Leadership Dalam Buku Muhammad Al Fatih 1453 Karya Ustadz Felix Y. Siauw

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh: Abu Mush’ab Al Fatih Bala (Penulis Nasional dan Pemerhati Politik Asal NTT)

 

“Sungguh Konstantinopel akan ditaklukkan oleh kalian. Maka sebaik-baiknya pemimpin adalah pemimpinnya dan sebaik-baiknya pasukan adalah pasukan yang menaklukkannya” (HR. Ahmad). In the old times the west attacked to the east but these days the world has changed so I will invade the west from the east to form a single empire, a single religion and a single rule over the world (Fatih Sultan Mehmed II).

Artinya dalam bahasa Indonesia, “pada zaman dulu, Barat menyerang Timur tetapi sekarang dunia telah berubah jadi aku akan menyerang Barat dari Timur untuk membentuk satu kesultanan, satu agama dan satu aturan untuk seluruh dunia (Sultan Muhammad Al Fatih). Kutipan hadis Rasulullah SAW dan ucapan agung dari Sang Sultan berasal dari buku karya Ustadz Felix Siauw.

Judul buku itu Muhammad Al Fatih 1453. Bukan sekedar buku, banyak nilai yang terkandung di dalamnya. Nilai perjuangan dalam mewujudkan janji Allah SWT dan sabda kekasih-Nya Rasulullah Muhammad SAW bahwa Konstantinopel sebagai lambang kekuasaan Barat kala itu bisa ditaklukkan Kekhilafahan Islam.

Sultan Muhammad Al Fatih mampu mengakselerasi penaklukkan Konstantinopel. Hanya memerlukan waktu beberapa tahun setelah Beliau menjabat menjadi Sultan Ustmani menggantikan Ayahnya Sultan Murad II.

Jadi tidak ada radikalisme dalam buku ini. Jika yang dimaksud radikalisme dalam hal penjajahan, maka tidak ada catatan sejarah yang menyatakan Sang Sultan adalah penjajah Eropa.

Sultan ketika menguasai Eropa (wa bil khusus Konstantinopel) tidak pernah menumpahkan darah warga di sana. Sangat berbeda ketika pasukan Salib menguasai Palestina dan Pasukan Ratu Isabela dari Kastilia dan Ferdinand dari Aragon menginkuisisi Andalusia (Spanyol dan Portugis) banjir darah tak bisa dihindari. Terjadi proses pemurtadan secara paksa kala itu (nyawa sebagai taruhannya).

Sultan Muhammad Al Fatih selalu melanjutkan kebiasaan para Khalifah sebelumnya, yakni menawarkan tiga pilihan. Masuk Islam, membayar jizyah atau diperangi.

Jika opsi pertama dan kedua yang dipilih tentu tak akan ada peperangan. Contoh pengamalan aksi ini adalah Mesir dan Yaman yang masuk Islam dengan sukarela.

Warga Mesir malah meminta Khilafah Islam pada masa Khalifah Umar bin Khattab ra untuk mengusir penjajah Romawi Timur. Membaca buku karya Ustadz Felix Siauw sebenarnya sangat baik bagi setiap Muslim yang mendambakan kemenangan Islam.

Yaitu dengan bersatunya Kaum Muslimin dalam satu Sistem Kepemimpinan dan takluknya kota Roma sesuai Bisyarah Rasulullah SAW. Selain itu, dengan membaca buku tersebut umat akan merasakan akselerasi Islamic Leadership (Kepemimpinan Islam).

Sultan Muhammad Al Fatih adalah seorang pemimpin yang peduli dengan urusan rakyatnya. Beliau mampu melatih tentaranya dalam ketakwaan.

Seleksi tentara elit dilakukan dengan mengeluarkan para pasukan yang pernah alpa shalat berjamaah, puasa Senin Kamis dan shalat tahajud. Sehingga yang masuk Janisarry (Pasukan Elit Ustmani) adalah orang-orang yang paling bertakwa.

Ketika pasukan Ustmani mampu menaklukkan Konstantinopel aturan perang Islam ditegakkan. Tidak boleh membunuh warga baik itu orang tua, kaum wanita dan anak-anak. Dilarang menghancurkan rumah ibadah.

Pasukan Sang Sultan menghormati hak-hak ibadah warga Non Muslim. Menjamin nyawa mereka dan tidak ada pemaksaan pindah agama dari Non Muslim menjadi Muslim (berbeda dengan kisah-kisah penaklukkan dari peradaban di luar Islam yang berdarah-darah).

Sang Sultan tidak merampas rumah ibadah Aya Sofia. Tetapi membeli tanahnya dengan harga yang sangat mahal dan pantas. Kemudian berubahlah rumah ibadah tersebut menjadi Masjid Aya Sofia.

Kemudian sebagian wilayah Eropa diluar Konstantinopel dibawah kekuasan Islam via Sang Sultan. Inilah gambaran seorang Pemimpin yang wajib ditiru oleh setiap Muslim.

Kepemimpinan Sultan sebenarnya mengulang gaya kepemimpinan Rasulullah SAW yang ingin menebar rahmat Islam ke seluruh dunia. Kepemimpinan yang membebaskan penghampenghambaan sesama makhluk (penjajahan imperialisme, kapitalisme dan komunisme) kepada penghambaan kepada Allah SWT saja. Semoga kepemimpinan Islam itu segera terwujud.

Bumi Allah SWT, 5 Oktober 2020

#DenganPenaMembelahDunia
#SeranganPertamaKeRomaAdalahTulisan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.