Puasa Berkah dalam Daulah Islamiyah

Oleh Rahmatul Aini (Universitas Muhammadiyah Mataram)

 

Puasa tinggal menghitung hari, nuansanya sudah terasa. Memberikan kebahagiaan tersendiri bagi kaum muslimin untuk menyambutnya, Mulai dari mempersiapkan mental, fisik, baged bagi emak2 sampai mempersiapkan stok makanan.

Tak ketinggalan pula peran media memprogramkan serta membuat sponsor barang-barang berupa makanan pakaian dan lain-lain menjelang ramadhan.
Semisal film Para Pencari Tuhan, iklan sirup ABC, iklan marjan, sarung, (yang identik dengan ramadhan)

Namun yang menjadi pusat perhatian akhir-akhir ini adalah adanya kebijakan KPI melarang televisi menyiarkan adegan berpelukan hingga yang mengandung unsur lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Aturan itu tercantum dalam Surat Edaran KPI 2/2021 berdasarkan keputusan pleno 16 Maret 2021. Tujuannya, meningkatkan kekhusyukan menjalankan ibadah puasa.
(Tirto ID)

Indonesia mayoritas muslim terbesar didunia, menimbang dengan adanya program-program yang akan di tampilkan haruslah sesuai dengan norma agama, dan menjadi bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai agama.

Tidak melakukan adegan berpelukan atau bergendongan atau bermesraan dengan lawan jenis pada seluruh program acara baik yang disiarkan secara live (langsung) maupun tapping (rekaman),” bunyi salah satu aturan yang ditandatangani Agung tersebut.

Dan realita bahwa sinetron banyak yang bermuatan islami ketika ramadhan, yang bahkan awalnya tidak ada muatan nilai agama di desain mengandung unsur nilai agama. Karena ada tuntutan serta pelarangan dari KPI sendiri.

Namun amat sangat di sayangkan, kebijakan atau pelarangan ini hanya sebatas ketika di bulan ramadhan saja, setelah itu mereka bebas membuat konten, film, sinetron-sinetron yang bermaksiat, yang jauh dari syariat, masyarakat akan kembali terkontaminasi dengan tontonan unfaedah, serta tidak bisa memfilter konten, filem yang ditayangkan.

Al hasil setelah bulan ramadhan tidak memberikan efek perubahan bagi setiap insan, misal dari segi ketakwaan, karena pondasi takwa yang di desain hanya sebatas pada saat ramadhan selain dari bulan ramadhan ketakwaan itu hilang.

Sistem kapitalisme membuktikan bagaimana kinerja dalam membentuk masyarakat sekuler yakni memisahkan antara kehidupan dengan agama, artinya pembentukan ibadah spiritual hanya di hari atau bulan tertentu saja, selebihnya mereka bisa berbuat dengan kehendak mereka sendiri, tanpa melihat aturan tuhan.

Seharusnya pelarangan penayangan konten maupun perfileman unfaedah selama ramadhan semestinya berlaku pula sepanjang waktu bukan hanya pada momen puasa, dan konten maupun program-program selama ramadhan tidak hanya mendukung tercapainya tujuan puasa namun benar-benar mampu mewujudkan ketakwaan yang hakiki. Karena Media berperan sebagai sarana kebaikan sarana syiar dalam maupun luar negeri, sehingga tercipta ketakwaan

Dalam negara islam upaya untuk mewujudkan ketakwaan tidak hanya ketika ramadhan, diluar dari bulan ramadhan pun harus terbentuk ketakwaan dari setiap insan, adapun pelarang program-program atau konten yang unfaedah akan ditiadakan, situs-situs porno akan di hapus dalam rangka penjagaan syahwat. Akan di berlakukan penjagaan akidah, melalui pemberlakuan hukum syara’. Bagi setiap muslim yang ingin keluar dari agama islam maka di berlakukan hukum syara’ (dibunuh). Hal ini adalah upaya untuk menjaga akidah serta ketakwaan setiap insan. Maka secara sistemik masyarakat akan terbentuk dan tumbuh rasa keimanan serta ketakwaan dalam diri mereka, maka hal ini tidak akan di temukan penjagaan akidah serta ketakwaan pada sistem kapitalisme, melainkan hanya daulah islam atau negara Khilafah lah yang mampu membangun pondasi akidah yang kuat, kokoh mampu menjaga akidah dan ketakwaan kaum muslimin.

Sebagaimana hal nya kita melihat dari sesi sejarah para sahabat, khulafa Rasyidin yang dimana ketakwaan mereka sangat luar biasa, semisal umar bin khatab sebelum mengenal islam ganas nya luar biasa namun setelah mengenal dan berada di dalam daulah islam ia menjadi orang yang loyalitas pengorbanan yang tinggi terhadap islam, apa yang mendorong beliau melakukan hal demikian? kalau bukan dorongan akidah setra ketakwaan yang kuat yang menghujam dari sosok umar bin khotob.

Urgensitas adanya puasa ramadhan memang dalam rangka pembentukan ketakwaan, namun negaralah yang memiliki peran penting dalam tercapainya ketakwaan tersebut, dan ketakwaan yang akan diraih tidak hanya saat momentum ramadhan namun di hari dan bulan-bulan lain masyarakat pun memiliki jika ketakwaan yang kokoh.

Allah SWT berfirman

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183).

Wallahu’alam bissawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *