Prediksi yang Melahirkan Friksi

Oleh: RAI Adiatmadja (Founder Komunitas Menulis Buku Antologi)

Perhatian dunia hari ini terfokus pada wabah corona. Tak terkecuali di negeri tercinta, Covid-19 masih menjadi topik yang meraja. Ramadan yang kita jalani tentu menjadi berbeda dari biasanya.

Namun, Islam mengajarkan tentang iman yang senantiasa harus lapang dalam menghadapi ujian, sabar atas qada yang Allah berikan. Tidak boleh panik berlebih, senantiasa berdoa menguatkan tasbih, waspada dalam menjaga segala kemungkinan sebagai upaya dari wujud implementasi ketakwaan yang gigih. Kita belajar dari lahirnya makhluk kecil perkasa yang menjadi bagian tentara Allah dan sanggup membongkar kerusakan Kapitalisme dan kecacatan pemahaman sekulerisme.

Di tengah penanganan yang tidak maksimal, kondisi memang semakin terasa tidak normal. Beberapa kebijakan pemerintah yang mudah berganti haluan, membuat penanganan kasus semakin tidak karuan. Meski ada angin segar beberapa jumlah pasien yang sembuh, tetapi tetap saja angkanya tidak sepadan dengan jumlah yang terjangkit wabah, bahkan deretan daftar korban yang meninggal pun tak membuat setiap kalangan mau belajar, sadar, dan sabar. Pada akhirnya muncullah prediksi yang rentan memancing friksi–pergeseran yang menimbulkan banyak perbedaan pendapat, perpecahan.

Dilansir dari Liputan6.com, Epidemiolog dari Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Padjajaran (Unpad), Bony Wien Lestari menyangsikan pernyataan Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Letjen TNI Doni Munardo soal prediksi pandemi corona akan berakhir pada Juni-Juli.

“Sebagai seorang epidemiolog, saya akan bertanya atas dasar apa kemudian beliau bisa menyatakan bahwa pandemi akan berakhir Juni dan kondisi Indonesia mulai normal Juli. Hingga saat ini, masih menunjukkan tren peningkatan kasus positif, ODP dan PDP disertai perluasan kasus ke hampir seluruh kabupaten kota di mana sekarang 25 sampai 27 kabupaten kota sudah terdampak Covid-19,” kata Bony kepada Liputan6.com, Sabtu (2/5/2020).

Menurut Bony, indikator penurunan semestinya bukan hanya dilihat dari angka yang terinfeksi virus corona di wilayah Jakarta saja. Semestinya di wilayah sekitar, bahkan seluruh Indonesia. Agar target penurunan itu bisa tercapai, Bony meminta Tim Gugus Tugas untuk berkoordinasi cepat dengan semua pihak di berbagai level.

Penanggulangan wabah Covid-19 ini membutuhkan sinergi dan kekompakan antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Daerah.

Sebenarnya wajar saja bagi setiap orang untuk memprediksi, terlebih kapabel di bidangnya. Akan tetapi yang dibutuhkan saat ini bukan sekadar kata tetapi langkah nyata. Terlalu banyak prediksi yang diopinikan secara masif, akan membuat masyarakat semakin tidak teredukasi dan melalaikan banyak hal, sehingga mereka bisa mengabaikan dan bergerak kembali di lingkungan secara aktif. Jalanan kembali macet, pasar-pasar beraktivitas seperti biasa, kerumunan mulai menjamur, tingkat kriminalitas meninggi dan semakin tidak bisa diukur.

Hal ini bisa melahirkan sikap menyepelekan wabah sehingga mengakibatkan tingkat bahaya yang tinggi. Wabah belum usai, tingkat penanganan semakin abai, maka tidak ayal lagi, pandemi akan memiliki umur panjang, deret korban bisa dipastikan sulit berkurang. Ini menjadi problem baru yang bertumpuk. Masalah di atas masalah yang membuat terpuruk.

Menurut Bony, “Garda terdepan itu masyarakat. Sehingga perlu memahamkan kepada masyarakat tentang Covid-19 ini, bagaimana mencegahnya dan sebagainya melalui edukasi masyarakat yang intensif dan menyeluruh hingga ke seluruh lapisan masyarakat.”

Hal terpenting saat ada kebijakan, pemerintah tidak boleh mengabaikan satu titik utama yang dibutuhkan masyarakat yaitu rasa aman. Aman dalam pangan, aman dalam bertempat tinggal, aman dari persebaran. Sehingga semua akan melahirkan kondisi yang kondusif.

Karakteristik masyarakat Indonesia yang humanis, mau menolong sesama dengan cepat, sebenarnya bisa memberikan ruang kerja sama yang luas dengan pemerintah.

Bukan malah sebaliknya, pemerintah tidak mampu meyakinkan masyarakat, teramat perhitungan, dan banyak mencari alasan. Berbeda dalam menghadapi pengusaha dan pemilik modal, begitu ramah dan siap membuka banyak ruang meski itu membuat masyarakat semakin sengsara dan terkatung-katung tanpa kejelasan.

Wabah Covid-19 telah membuktikan seberapa panjang ketidakseriusan dan kelalaian negara dalam mengemban kewajiban. Masyarakat sudah berjuang keras, bahkan menolong sesama tanpa balas. Setiap waktu ditekan dan disuarakan untuk mengikuti kebijakan pemerintah, sehingga harus lahir sanksi demi sanksi yang seakan-akan mempertegas jika masyarakat adalah sekumpulan manusia yang bebal, padahal mereka semua berani mengambil risiko agar tetap bisa kebal menjalani kehidupan yang jauh sekali dari kesejahteraan sosial.

Bukan masyarakat yang harus ditekan, tetapi langkah pemerintah yang sangat perlu dimaksimalkan. Dalam wabah ini bukan lagi kepedulian sesama yang harus ditata, mereka sudah otomatis menata dari awal wabah terdata, bahkan para medis sudah terbukti mengorbankan nyawa. Hal yang dibutuhkan adalah komando yang tidak omdo. Ketegasan yang bukan menindas, tetapi berasas dan satu tujuan agar wabah segera bisa dientaskan dan aktivitas negeri kembali berseri.

Pandemi ini hadir menjadi sarana muhasabah agar keputusan-keputusan tidak pandir. Sudah seharusnya para pemangku jabatan, pemerintah yang mengemban kewajiban, semua elemen masyarakat yang merasakan guncangan, atau yang masih merasa di titik aman juga nyaman, semakin membuka diri bahwa sistem ini sudah sangat terlihat kecacatannya, melahirkan banyak keputusasaan dan kekacauan.

Tobat dan taat, kembali kepada syariat, akan membawa kita pada jalan keluar problematika, bukan hanya untuk satu negara, tetapi seluruh dunia. Hal yang terlampau mudah bagi Allah membersihkan pandemi ini dari bumi. Bukan hal sulit pula bagi-Nya untuk tetap membuat corona tinggal dalam rentang waktu yang panjang. Mengapa kita masih menutup mata dalam meyakini sistem Islam kafah yang harus kembali berjaya? Tentu itu janji Allah, tetapi seberapa besar kita ikut andil dalam menyuarakan dan bergerak untuk mengembalikan tatanan dunia ke koridor semestinya. Sistem Islam pernah tegak, bukan kekurangannya yang harus menjadi jejak, tetapi membuka cakrawala bahwa peradabannya masih tersisa, catatan sejarah melukiskan tentang bagaimana dunia sejahtera dengan sistem Islam yang kompatibel dengan syariat-Nya.
“Dan kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi dan kepada Allahlah kembali (semua makhluk).” (QS. an-Nuur: 42).

Wallahu a’lam bishowwab.

One thought on “Prediksi yang Melahirkan Friksi

  • 8 Mei 2020 pada 06:33
    Permalink

    Kebijakan yang pincang, membuat keadaan makin tak seimbang. Dipaksa menjadi tahanan hunian, tetapi hak tak diberikan. Rakyat menjerit, lebih baik mati di jalanan daripada mati kelaparan. Bukan karena tak peduli pandemi, tetapi ada keluarga yang menanti meski hanya sesuap nasi.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *