Prediksi Lonjakan Kasus Infeksi, Bikin Ngeri!

Oleh : Umi Rizkyi (Komunitas Setajam Pena)

Covid-19 tak kunjung hengkang dari dunia ini, terutama di negeri kita tercinta Indonesia. Malah berbagai spekulasi dan prediksi korban terinfeksi Covid-19 akan terjadi perlonjakan menjelang dan pasca lebaran ini. Setelah hampir dua pekan pasca lebaran pun Covid-19 tak jua kunjung pergi.

Bahkan dari media asing pun menyoroti soal lonjakan kasus Covid-19 harian Indonesia menjelang hari raya Idul Fitri lalu. Seperti yang dilansir kompas.com (23/05/2020), The Guardian Indonesia mencatat lonjakan angka kasus infeksi Covid-19 jelang perayaan Idul Fitri.

Hingga Senin (01/06) total angka kasus positif COVID-19 di Indonesia secara kumulatif menjadi 26.940 kasus. Total angka kematian COVID-19 saat ini adalah 1.641 orang. Total angka kesembuhan dari COVID-19 adalah 7.637 orang. (detik.com, 01/06/2020)

Bahkan pada Kamis (21/05) negara melaporkan terjadi lonjakan tertinggi hingga 973 infeksi baru. Sungguh ini adalah masalah yang membuat ngeri. Apalagi saat ini Indonesia dikabarkan juga mengalami kesulitan perekonomian. Dan sekaligus mengalami perayaan Idul Fitri yang berbeda. Meskipun Presiden melarang mudik, namun ribuan orang dilaporkan melakukan perjalanan pulang kampung pada lebaran lalu. Tidak mengacuhkan sama sekali potensi penularan Covid-19.

Juga dilansir kompas.com (23/05/2020), ABC Australia menyoroti bagaimana masjid-masjid di Indonesia mengijinkan muslim melakukan shalat Idul Fitri berjamaah. Banyak muslim didapati memadati mal, pasar, pusat perbelanjaan tanpa menghiraukan sosial distancing apalagi physical distancing.

Persatuan ulama Indonesia mengarahkan agar shalat Idul Fitri di rumah untuk menghentikan laju penularan Covid-19. NU adalah organisasi terbesar di Indonesia telah menulis fatwa pada Rabu 20/05/2020 bahwa shalat Idul Fitri tidak boleh dilakukan di manapun kecuali di rumah masing-masing. Dalam fatwa disebutkan bahwa di bawah hukum Islam, hukum melindungi jiwa dari penularan penyakit berbahaya adalah prioritas dibandingkan dengan kewajiban shalat Idul Fitri berjamaah di masjid.

Pakar epidemiologi dari Universitas Indonesia Pandu Riono juga menyampaikan, banyaknya orang-orang tidak mengerti mengapa harus ada di rumah, membatasi aktivitas dan tidak boleh keluar. Semua orang berbicara soal sosial distancing tapi mereka tidak mengerti apa artinya. Apa itu Covid? Saya tidak melihat Covid-19 apapun. Menurutnya tidak banyak yang memiliki kerabat atau sanak keluarga yang tewas karena Covid-19 dan mampu memahaminya.

Dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI, wakil ketua umum PB IDI Dr Adib Khumaidi mengingatkan semua pihak untuk mewaspadai kemungkinan terjadinya lonjakan kasus Covid-19 usai hari Raya Idul Fitri. Hal itu bisa terjadi, sebab masih banyak masyarakat yang tidak mematuhi protokol kesehatan selama merayakan lebaran. Dia menjelaskan perayaan lebaran tanpa mengikuti protokol kesehatan akan memunculkan klaster baru kasus covid-19 dan tentu peningkatan potensi lonjakan kasus di Jakarta karena arus balik pemudik dari daerah. Padahal dalam beberapa waktu terakhir sudah terjadi angka penurunan angka penularan di ibu kota. (republika.co.id, 25/05/2020)

Berdasarkan data di atas, banyaknya pihak mulai dari IDI dan juga epidemi adanya prediksi melonjaknya kasus infeksi menjelang dan pasca lebaran. Sayangnya, pemerintah tidak cukup merespon dengan kebijakan antisipasi. Apalagi Indonesia mencapai rekor pertambahan kasus harian hingga 900. Seharusnya hal ini menyadarkan pemerintah bahwa perlu perombakan kebijakan agar memprioritaskan penanganan kesehatan, apapun resikonya. Jika hal itu tidak dilakukan maka, upaya apapun yang ditempuh baik untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi maupun menormalkan kondisi sosial hanya akan memperparah kondisi krisis. Beginilah kebijakan penguasa dalam jerat kapitalisme, hanya memprioritaskan materi dan suburnya korporasi, tapi seolah mengabaikan rakyat sendiri.

Hal ini berbeda dengan sistem Islam. Dimana Islam mewajibkan negara menjadi penanggung jawab atas penanganan wabah. Dan menjamin setiap kebijakan yang diambil tentunya lahir berdasarkan pada hukum syara’. Dan dijalankan dengan mekanisme yang sebaik-baiknya. Ilmu dan sains juga ditujukan semata-mata memberikan kemaslahatan bagi seluruh rakyatnya, kaya, miskin, tua muda, laki-laki perempuan, baik muslim maupun non muslim. Betapa indah dan solutifnya Islam dalam menangani berbagai masalah. Termasuk menangani wabah virus corona ini. Semoga Islam akan kembali kepada pemiliknya yaitu kaum muslim. Dan diterapkannya seluruh aturan Islam secara kaffah di seluruh aspek kehidupan manusia. Aamiin!
Wallahua’lam bishowab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *