Potret Keluarga Korban Kapitalisme

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh : Muhaiminah Ibrahim

 

Beberapa waktu lalu, viral berita tentang anak yang menggugat orang tuanya senilai 3 miliar rupiah. Perseteruan antara anak dan ayah ini menjadi sorotan lantaran kasus ini ditangani oleh seorang pengacara yang merupakan anggota keluarga kandung lainnya.

 

(Pikiran Rakyat.com 30/1/21) sang anak diketahui bernama Deden ini tega menggugat ayahnya, Koswara (85) ke Pengadilan Negeri Kelas 1A Bandung, Rabu 20 Januari 2021. Koswara digugat anaknya soal tanah seluas 3.000 meter persegi yang notabene milik Koswara di daerah Cinambo, Kota Bandung, Jawa Barat.

 

Penggugatan ini dikarenakan Koswara ingin menjual tanah untuk kemudian dibagikan ke saudaranya. Koswara juga ingin membangun masjid kecil. Sedangkan di tanah tersebut Deden telah menyewa untuk usaha toko kelontongnya. Selanjutnya diketahui bahwa pengacara yang menggugat adalah anak ketiga dari Koswara meninggal dunia karena serangan jantung sebelum menjalani sidang. Akhirnya Deden dan saudaranya meminta maaf  dan tidak mau berlaku durhaka.

 

Kasus ini bukanlah yang pertama, namun sebelumnya sudah banyak potret kasus anak yang melaporkan orang tuanya. Bahkan memenjarakan orang tuanya lantaran dipicu masalah materi. Seperti beberapa waktu lalu seorang ibu mendekam di sel tahanan Polsek Demak Kota setelah dilaporkan oleh anak kandungnya ke polisi.  Dan di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat seorang ibu dilaporkan ke polisi oleh anaknya karena masalah motor. Tentu sangat miris melihat potret keluarga yang seharusnya harmonis dan saling mengasihi justru harus berakhir di pengadilan dan saling berselisih satu sama lain hanya karena masalah materi.

 

Semua ini bisa terjadi karena penerapan sistem kapitalisme. Sistem dimana hanya mengenal untung, rugi, dan manfaat sebagai standarnya. Sehingga seseorang mampu menggugat bahkan memenjarakan orang tua demi materi. Kapitalisme didasari oleh asas sekularisme yaitu pemisahan agama dari kehidupan. Akibatnya manusia melakukan sesuatu dengan sesuka hati. Tanpa memperhatikan standar benar salah dalam Islam. Karena dalam sistem sekuler kasus gugatan adalah hak keperdataan dimana hak setiap orang untuk menggugat siapapun, baik orang tua maupun saudara kandung.

 

Nilai-nilai liberalisme atau kebebasan, menghilangkan penghormatan terhadap kedua orang tua. Akibatnya terbentuklah di masyarakat generasi durhaka. Dalam ajaran Islam, berbakti kepada kedua orang tua adalah suatu kewajiban. Dan mendurhakai orang tua adalah dosa. Dalam beberapa ayat-Nya Allah telah menyebutkan tentang berbakti kepada kedua orang tua. Salah satu firman-Nya antara lain dalam QS al-Isra : 23 Allah SWT berfirman:

وَقَضٰى رَبُّكَ اَ لَّا تَعْبُدُوْۤا اِلَّاۤ اِيَّاهُ وَبِا لْوَا لِدَيْنِ اِحْسَا نًا ۗ اِمَّا يَـبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَاۤ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَاۤ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ah dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”

 

Allah bahkan melarang seorang anak berkata “ah” kepada orang tuanya apalagi memenjarakan  orang tua. Tentu itu adalah perbuatan yang sangat buruk. Begitulah Islam mengajarkan bagaimana seharusnya perlakuan anak terhadap orang tuanya.

 

Nilai-nilai yang rusak ini hanya dapat dihilangkan dengan kembali menerapkan Islam secara kaffah. Penerapan Islam kaffah dapat dilakukan dengan mengembalikan kepemimpinan Islam yaitu Khilafah.

Negara tentu memiliki andil dalam perkara akhlak yang tercipta ditengah masyarakat. Bagaimana tidak, jika Negara lalai dalam menjaga akhlak masyarakatnya diakarenakan menerapkan sistem yang sekuler tadi. Penerapan sistem yang memisahkan agama dari kehidupan membuat standar nilai kebenaran tidak lagi ditinjau dari aturan agama.

 

Rumah atau  keluarga adalah tempat pertama tumbuhnya generasi. Dengan adanya sistem yang merusak menyebabkan generasi yang lahir adalah generasi yang rusak pula. Generasi rusak akan tetap ada hingga digantinya sistem sekuler dengan sistem Islam.

Wallahua’lam bishawab.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.