Pornografi di Balik Kampanye Body Positivity

Oleh : Sri Haryati (Komunitas Setajam Pena)

Pornografi kembali muncul di media sosial dalam bentuk unggahan foto tanpa busana. Pemilik akun yang mengunggah foto tersebut adalah aktris Tara Basro. Hal itu di lakukan dalam rangka kampanye body positivity. Dimana mereka ingin mengekpresikan rasa cinta pada tubuh dan percaya diri dengan keadaan tubuhnya.

BBC News Indonesia, 5/3/2020 melansir bahwa polemik unggahan foto aktris Tara Basro yang mengkampanyekan body positivity kembali menyembulkan pertanyaan tentang hak perempuan mengekspresikan hak atas tubuhnya dan batasan akan pornografi. Namun, unggahan foto aktris Tara Basro yang menampilkan dirinya tanpa busana itu menghilang dari dunia maya Rabu (04/03) setelah sebelumnya sempat diklaim oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) berpotensi melanggar pasal kesusilaan dalam undang-undang informasi dan transaksi elektronik (UU ITE).

Body positivity itu ada dalam rangka memerangi body shaming (olokan/kritik mengenai warna kulit, ukuran badan, bahkan bentuk kaki) yang lagi marak akhir-akhir ini. Bahkan dalam survei yang melibatkan 2.000 orang dewasa, sekitar 56 persen mengatakan pernah menjadi korban body shaming dalam setahun terakhir. Lalu, ada satu dari 10 partisipan yang pernah menjadi korban body shaming.

Seperti dikutip laman Independent pada Rabu, 6 Oktober 2019 lalu, bahwa survei yang dilakukan perusahaan kesehatan WW diketahui bahwa berat badan yang kerap jadi terget ketika seseorang melakukan body shaming. Paling tidak ada enam dari 10 orang yang pernah mendapatkan komentar buruk tentang badannya, entah itu terlalu gemuk atau kurus.

Dalam pandangan liberal hal-hal semacam ini pasti akan terjadi. Karena sudut pandang yang digunakan untuk standart kencantikan meliputi bentuk tubuh, tinggi badan yang menurut ukuran harus ideal dengan berat badan, warna kulit dan masih banyak lagi yang harus di penuhi supaya tergolong cantik. Mereka bukan lagi wanita dengan apa adanya, bukan lagi dengan kecantikan alami yang sudah ada pada dirinya, melainkan dalam penjelmaan impian. Mereka sebagai sosok yang harus memenuhi standarisasi untuk bisa dipandang cantik.

Begitulah, para perempuan akan selalu terpengaruh untuk memeragakan konstruksi dari standarisasi yang telah dibuat oleh sekelompok golongan atau pihak tertentu. Dari situlah yang akhirnya melahirkan body shaming. Barang siapa yang tidak memenuhi standar maka merekalah yang akan mendapat ejekan. Dan dalam pembelaannya mereka mencoba melawan dengan sudut pandang mereka yaitu liberal (kebebasan). Dimana mereka mengekpresikan kekecewaannya dengan menunjukkan tubuh secara transparan melalui foto semi bugil atau bahkan bugil, yang memperlihatkan kekurangan mereka. Seperti Tora Basro yang memperlihatkan stretchmarknya.

Hal ini jelas bertentangan dengan Islam. Sebagai agama yang sempurna maka Islam memberikan solusi yang bisa menyelesaikan seluruh problemantika umat. Lantas bagaimana Islam memandang hal tersebut? Standar kecantikan dalam pandangan Islam adalah:

1. Senantiasa Menutup Auratnya.
Kecantikan wanita terutama kecantikan jasmani sebaiknya dijaga dengan baik dan tidak ditunjukkan pada orang lain selain suami atau pada orang lain yang bukan mahramnya. Wanita yang cantik dalam Islam tentunya mereka yang senantiasa menutup auratnya dan memenuhi perintah Allah SWT yang di sebutkan dalam firman-Nya berikut ini:
“Katakanlah kepada orang laki–laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allâh maha mengatahui apa yang mereka perbuat.” Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (TQS: AN NUR ayat 31).

2. Memiliki akhlak yang baik.
Seorang wanita yang cantik tidak hanya cantik fisiknya saja melainkan baik akhlaknya
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa dan harta kalian, tapi ia melihat hati dan amal kalian” (HR. Muslim, Ahmad dan Ibnu Majah).

3. Rajin menjalankan ibadah.
Selain memiliki akhlak yang baik dan memiliki kecantikan fisik, kecantikan wanita dalam islam juga terpancarkan karena amal ibadah yang ia lakukan dengan ikhlas hanya mengharapkan ridho Alloh.

4. Menjalankan kewajibannya dalam keluarga.
Sesungguhnya perhiasan dunia yang paling cantik adalah wanita termasuk istri yang shalehah. Oleh sebab itu Rasul senantiasa menyuruh umatnya untuk memandang agama, kecantikan akhlak dan budi pekerti adalah yang utama.Wanita shalehah tentunya akan bisa menjalankan kewajiban sebagai istri dan ibu untuk anakya kelak.
“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhisannya adalah wanita shalehah” (HR. Muslim, Ibnu Majah dan An Nasai)

Begitulah Islam memandang wanita. Tampak jelas bukan perbedaan pandang antara liberal di banding pandangan Islam? Maka tidak ada alasan lagi bagi kita untuk mempertahankan liberalisme. Segera beralih pada penerapan Islam kaffah supaya kita selamat dunia akhirat.
Wallahua’lam bishowab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *