Pondasi Benar, Kedudukan Negara Kian Adi Daya

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh: Nurhayati (Komunitas Menulis Setajam Pena)

 

Sejak Biden diangkat menjadi Presiden Amerika Serikat, bulan ini pertama kalinya mengadakan konfrensi yang berskala besar. Ternyata Amerika masih sebuah negara besar, sehingga bisa membawa misi dan visinya dalam mempengaruhi negara lain. Meskipun di dalamnya sudah ada kegoyahan.

Konferensi Tingkat Tinggi Quad, agenda yang diambil dalam rangka meningkatkan upaya memperkuat aliansi di Asia Pasfik. Pertemuan tersebut beranggotakan negara yang berada di kawasan Asia Pasifik. Jepang, India dan Australia dinilai mewakili negara-negara besar di wilayah itu. Tentunya kita bertanya, mengapa Indonesia yang mempunyai wilayah luas tidak ikut serta?

Negeri ini mempunyaiya potensi luar biasa, dengan kekayaan sumber daya alamnya. Besarnya jumlah penduduk bisa mendukung personel militer dan tenaga kerja. Apakah hal ini dipandang Amerika sebagai sebuah potensi besar?

Satu Kepentingan dibalik Rivalitas

Dunia saat ini dikuasai oleh 2(dua) kekuatan besar, komunis dan kapitalis. Amerika sebagai pengemban Kapitalis sekuler masih memegang estafet kepimipinan, meskipun sudah mulai lelah berlari. Sedang Cina dengan membawa komunisme sudah mulai melaju walau belum melesat jauh. Tetapi langkahnya cukup membuat Amerika tergoncang.

Meskipun kedua negara besar ini seiring sejalan, akan tetapi masing-masing sedang mencari cara agar bisa mempertahankan posisi. Mereka tidak akan berhenti menjaga negaranya agar menempati tempat yang empuk ini. Cina yang selama ini di bawah bayang-bayang Amerika dengan kapitalisnya, mencoba untuk melepas pengaruh itu.

Negara-negara besar yang selama ini menjadi pemasok kebutuhan di Indonesi – Import –merasa was-was dengan hadirnya Cina. Australia dan Jepang yang selalu beriringan dengan Amerika cukup terancam dengan negeri panda. Mereka tidak lagi bisa santai dalam menghadapi tantangan ini.

Dengan adanya upaya Cina melepas bayangan Sang super power, Amerika. Tentu kawasan ini menjadi tidak semulus dulu. Negera tirai bambu ini telah berhasil membawa perubahan di kawasan Asia Pasifik. Perdagangan yang selama ini dikuasai oleh pruduk-produk Amerika dan Jepang, telah berhasil diambil alih oleh Cina. Banyak produk-produk Cina yang beredar di kawasan ini dengan harga yang lebih murah.

Pelopor perekonomian dalam masalah import sekarang dipegang oleh cina dengan nilai impor US$ 3,97 miliar, Jepang dengan nilai impor US$ 1,45 miliar, Amerika Serikat dengan nilai impor US$ 679,9 juta, Korea Selatan dengan nilai impor US$ 669,9 juta, India dengan nilai impor US$ 351,3 juta, Australia dengan nilai impor US$ 342,9 juta, Taiwan dengan nilai impor US$ 335 juta (cnbcindonesia, 12/3/2021).

Demikian juga dalam masalah ketahanan-pertahanan. Kedua negara ini selalu melakukan unjuk kekuatan. Memperlihatkan kehebatan dan kekuatan yang dimiliki oleh masing-masing wilayah. Dan tidak diragukan lagi Negeri Paman Sam mempunyai pangkalan militer yang tersebar di wilayah Asia.

Meskipun antara Cina dan Amerika terjadi perseteruan, tetapi kenyataannya kedua negara ini mempunyai kepentingan yang sama. Impian yang serupa, yakni ingin menguasai wilayah Asia Pasifik. Khususnya Indonesia.

Semua negara tahu akan keunggulan negeri nusantara ini. Wilayah yang sangat dinamis, yang berada di posisi strategis. Berdasarkan letak geografisnya,  Indonesia terletak diantara dua benua yaitu Benua Asia di sebelah utara dan Benua Australia di sebelah selatan. Indonesia juga terletak di antara dua samudera, yaitu Samudera Pasifik di sebelah timur dan Samudera Hindia di sebelah barat dan selatan.

Letak geografis Indonesia cukup strategis karena berada pada posisi silang dunia. Hal ini berarti negara kepulauan ini menjadi persimpangan lalu lintas dan perdagangan internasional. Indonesia menjadi pusat persilangan kegiatan perekonomian dunia, baik perdagangan antar negara industri maupun dengan Negara yang berkembang.

Negeri zambrut Katulistiwa ini ternyata mempunyai jalur pelayaran utama internasional. Pelayaran yang bisa dilalui kapal niaga dan kapal besar lainnya. Selat sunda, selat malaka, selat makasar dan selat Lombok merupaka jalur utama perdagangan dunia.
Dengan mempunyai jalur perdagangan tadi, tentunya akan mempermudah proses ekspor dan import, yang akan mempermudah proses pemasaran barang yang diproduksi di Indonesia. Belum lagi dengan segala kekayaan sumber daya alam, flora fauna tentunya juga menjadi nilai yang tinggi dalam menunjang perekonomian negara.

Segala apa yang ada di negeri elok inilah membuat Indonesia hanya menjadi objek bagi negara lain untuk menguasai. Penjajahan gaya baru melalui perjanjian, investasi, juga perdagangan bebas pun dilakukan. Walaupun dalam pemerintahan berbeda, Cina menggunakan sistem komunis dan Amerika demokrasi, akan tetapi dunia saat ini memberlakukan sistem perekonomian kapitalis, dengan mengedepankan asas manfaat. Dalam perspektif mereka, menguasai suatu wilayah untuk mendapatkan keuntungan. Tanpa memikirkan negeri yang didatangi, apakah mendapatkan kebaikan atau sebaliknya, kerusakan.

Pondasi Shahih Negara

Sebuah Negara apabila menginginkan untuk mempimpin wilayah lain harus mempunyai pondasi. Demikian juga dengan Amerika, ia mempunyai pondasi, yaitu demokrasi-kapitalis. Sedangkan Cina dengan komunisnya. Disaat kedua negara ini menjalin sebuah hubungan dengan pihak lain, aqidah mereka selalu mewarnai setiap keputusan.

Sejatinya ada pondasi alternatif, yang jarang dilihat oleh sebuah pemerintah di dunia, yaitu Islam. Bentuk pondasi yang shahih yang bisa menghantarkan wilayah menjadi adi daya. Akan disegani kawan dan lawan. Tengoklah sejarah pemerintahan pada masa khalifah Umar bin Khathab. Negara yang dipimpin oleh seseorang yang dalam jiwanya terpatri keimanan yang kuat. Menyakini bahwa Islam tidak hanya sebuah agama ruhiyah saja. Tetapi juga menjadi landasan politik.

Dari seseorang yang benama Umar, ternyata Islam bisa menguasai seluruh dunia dan dalam tempo yang tidak lama. Ketika melakukan hubungan diplomatik selalu menawarkan untuk menggunakan Islam sebagai landasan. Kita tidak bisa membayangkan saat Uskup yang memimpin Yerussalem menyerahkan tampuk kepemimpinan pada Islam, melalui Umar bin Khatthab.

Bahkan pada saat menaklukan sebuah wilayah, Islam juga yang melandasi semua perbuatannya. Hingga membuahkan hasil yang menakjudkan. Hasil dari hubungan antar negara dan perluasannya tidak dinikmati oleh penduduk pendatang saja. Bahkan dinikmati oleh warga negara hasil penaklukan. Belum ada dalam sejarah disebutkan ada wilayah yang merasa didholimi pada saat negara Islam melakukan kerjasama ataupun pada saat penahklukan. Bahkan yang ditulis sejarah adalah semua negara merasakan kemaslahatan saat sistem Islam menyapa wilayahnya.

Inilah nikmat ketika negara memakai pondasi yang benar, datang dari Sang pengatur. Islam menempatkan negeri pada tempatnya. Wallahua’lam bishowab

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.