Politisasi Agama Hanya untuk Kepentingan Partai Politik

Oleh : Ratna Sari (Mahasiswi Bengkulu)

Dalam sistem demokrasi tidak ayal, isu agama sering kali di gunakan hanya untuk kepentingan segelintir penguasa. Tatkala kepentingan dan keinginan nya tercapai mereka melupakan nya, seolah-olah tidak pernah terjadi. Pada pemilu yang telah berlalu, banyak partai yang mengalami kekecewaan yang mendalam, salah satu nya Partai Amanat Nasional atau yang kita kenal PAN.

Pada saat pemilu pada tanggal 17 april lalu, PAN memperoleh sura yang cukup mengecewakan, sehingga menepatkan PAN pada urutan kedelapan. Berbanding terbalik dengan partai penista agama yang memperoleh suara yang begitu banyak.

Wakil ketua MPR RI Zulkifli Hasan menyampaikan kekecewaan nya kepada media, dilansir dari antaranews pada (08/12/2019), beliau mengatakan jualan syurga neraka yang diterapkan pada pemilu 2019 tidak Relevan lagi, karna ternyata masyarakat lebih membutuhkan kebijakan yang berdampak luas. Menurut nya saat delapan bulan berkampanye dengan menjual isu agama dalam hal positif ternyata fublik lebih membutuhkan kebijakan secara langsung.

(https://www.antaranews.com/berita/1199276/zulkifli-hasan-nilai-jualan-surga-neraka-tak-relevan-dalam-politik)

Saat ini dapat kita simpulkan bahwasan nya agama hanya di gunakan untuk kepentingan pemerintah, agama islam di gunkan untuk mendapatkan perolehan suara, dan dukungan. Takkala kepentingan itu tercapai, agama disingkirkan, bahkan justru di kriminal pemerintah. Bobrok nya sistem ini sangat jelas terlihat, serta sekulerisme semakin Nampak. Agama hanya digunkan untuk menarik simpati dan dukungan saja, selebih nya apa bila isu agama tidak mampu mendongrak atau memproleh suara, maka mereka sesuikan dengan keadaan yang sedang diperbincangkan atau sesuai dengan pasar.

Lagi-lagi menjual agama hanya untuk kepentingan para penguasa semata, seharus nya sebagi partai mereka memberikan contoh dan wawasan yang baik bagi masyarakat, sebagimana memberikan wawasan dan pengetahuan tentang islam, memberikan pilihan sesui dengan kacamata islam. Bagaimana keriteria pemimpin yang berhak dipilih, dan yang mana pemimpin yang akan merusak bahkan mencitra burukan Islam. Mewanti-wanti agar masyarakat tidak memberikan sura kepada partai atau pilihan yang salah, yang tidak sesuai dengan islam.

Bahkan saat ini umat islam justru memberiakan pilihan nya kepada partai penista agama, sudah sangat jelas partai politik pada era demokrasi ini gagal memberikan dedukasi yang baik, yang ada justru nenjual agama hanya untuk kesenangan dan kepentingan mereka semata. Lahir nya partai pilitik yang memanfaatkan agama hanya untuk kepentingan mereka merupakan buah dari sistem demokrasi, dimana uang, jabatan dan kekuasaan sering kali membuat mereka bernafsu, berbagai macam cara mereka lakukan, tidak memandang apakah di benarkan agama ataukah tidak, apakah dengan cara yang halal ataukah tidak. Mereka tidak memperdulikan itu, yang ada di pikiran mereka hanyalah uang, jabatan serta kekuasaan yang mereka dapatkan.

Selain itu gagal nya partai politik dalam memberiakan didikan yang baik di tengah-tengah masyarakat merupakan kegagalan yang nyata. Pertain politik tidak mampu bahkan tidak teralalu mementingkan kepentingan rakyat, melainkan kepentingan elit politik itu sendiri. Politisasi agama demi merauk kekuasaan, Agama dijadikan alat untuk mendapatkan suara dan dukungan umat islam. Citra buruk islam semakin rusak oleh para elit politik demi kepentingan mereka semata. Sehingga Stigma negatif jangan membawa agama dalam urusan politik sekarang semakin meraja lela, padahal para penguasa dan partai politiklah yang memanfaatkan dan mempolitisasi agama.

Seharus nya dalam urusan politik agama islam memang ikut berperan, karna islam mengatur urusan politik, bukan justru memanfaatkan agama islam hanya untuk kepentingan penguasa semata. Sehingga pandangan buruk tentang islam merebak dimana-mana. Hanya karna ulah para penguasa yang rakus akan kekuasaan. Wallahu’alam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *