PM BARU ISRAEL BERKUASA DAN MASA DEPAN PALESTINA

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh: Kuswati

 

Perdana menteri Israel telah berganti dengan yang baru. Rezim Netanyahu resmi tamat seteleh kneset atau parlemen dengan suara 60:59 menyetujui pemerintah baru. Penggantinya adalah Naftali Bennett, seorang politisi nasionalis.

Terpilihnya perdana menteri baru Israel mendapat sambutan dari pemimpin-pemimpin dunia. Terutama presiden Amerika Serikat, yang menegaskan kembali hubungan AS-Israel. Ia berkata “ saya berharap dapat bbekerja sama dengan perdana menteri Bennett untuk memperkuat semua aspek hubungan yang erat dan langgeng antara kedua negara kita”. (sindonews.com14/6/2021).

Dengan bergantinya PM baru, apakah nasib Palestina akan mujur atau makain tersungkur? Apakah kekejaman dan kebengisan Israel selama ini tidak cukup jadi tolak ukur?

Meskipun PM Israel telah berganti dengan yang baru, tidak menutup kemungkinan bahwa nasib Palestina tidak ada perubahan. Justru hanya akan memperparah penderitaan rakyat Palestina. Sebab sekali pun berganti dengan kepemimpinan yang baru namun, karakter dan kebijakan politik Israel tetaplah sama. Penjajah yang tetap pongah meski dunia menghujatnya.

Namun mirisnya penjajahan tersebut tetap mendapat dukungan negara adidaya. Bagi mereka mau netanyahu ataupun Bennett, tidak menjadi soal. Hal ini tampak dari realisasi pemimpin pemimpin dunia atas terpilihnya Bennett sebagai perdana menteri baru Israel.

Respon pertama datang dari sekutu adidaya Amerika serikat. Presiden Amerika serikat  Joe Biden menyambut baik pemerintahan baru yang dipimpin oleh naftali Bennett. Ia mengatakan Amerika serikat tetap berkomitmen menjaga keamanan Israel.

“Rafael tidak memiliki teman yang lebih baik daripada Amerika serikat. Amerika serikat tetap teguh dalam mendukung keamanan Israel”. Kata Biden.(sindonews.com14/06/2021).

Respon berikutnya datang dari Jerman,Inggris, Austria,dan Kanada. Mereka memberi pernyataan yang sama. Memberi selamat atas pemerintah baru Bennett dan siap bekerja sama dalam memperkuat hubungan bilateral.

Dengan melihat realita yang ada, masihkah kita percaya dengan pernyataan manis para pemimpin negara adidaya?

Bagaimanapun ceritanya mereka tetap menjadi pendukung utama zionis Israel. Hal yang mereka sebut perdamaian dunia hanyalah fiktif belaka. Nyatanya, tidak ada realisasi sedikitpun untuk membebaskan Palestina dari entitas kolonial zionis.

Penghianatan negara adidaya tampak jelas Israel diberi tanah Palestina oleh Inggris dalam Deklarasi Balfour pada tahun 1917. Lalu secara legal para penyokong penjajah Israel itu mengesahkan berdirinya negara Israel di atas tanah Palestina melalui deklarasi PBB.

Kini telah jelas bahwa secara faktual merekalah sesungguhnya yang menciptakan benalu di Palestina dengan mendorong kehadiran negara Yahudi di tanah kaum Muslimin.

Fakta ini harus diketahui dan dipahami umat. Jangan pernah menggantungkan nasib Palestina dengan meminta bantuan komunitas internasional. Atau mengharap belas kasih negara adidaya untuk Palestina. Karena hal tersebut hanya menambah penderitaan rakyat Palestina saja.

Sebab Palestina hanya bisa dibebaskan Dengan hadirnya pemimpin kaum muslimin yang akan mengarahkan tentaranya untuk memerangi Israel, yakni khilafah.

Lantas kapan hal tersebut bisa diwujudkan? Ketika kaum muslim memiliki kesadaran politik Islam, itu kebutuhan akan hadirnya sistem Islam kaffah. Ketika kaum muslim menyatakan visi misi perjuangan untuk menegakkan kembali khilafah yang dijanjikan. Tanpa kesadaran politik dan penyatuan visi perjuangan maka perubahan tidak akan pernah terjadi.

Wallahu ‘alam bissawab[].

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.