Peserta Didik Dalam Bidikan Sistem Sekuler

Oleh : Naila Dhofarina Noor S.Pd  (Guru MI di Malang)

“Kita akan membuat terobosan-terobosan yang signifikan dalam pengembangan SDM, yang menyiapkan SDM-SDM yang siap kerja, siap berusaha, yang me-link and match antara pendidikan dan industri nanti di wilayah Mas Nadiem.” (detik.com , 23/10/2019)
Inilah pesan khusus presiden Jokowi kepada menteri pendidikan baru dari Kabinet Indonesia Maju.

Sepintas pesan ini nampak efektif menyolusi banyaknya lulusan yang kesulitan mencari pekerjaan ditengah era industri 4.0 . Frase Siap Kerja pun disounding untuk menjadi arah pendidikan Indonesia dibawah sang menteri termuda, Nadiem Makariem. Terlepas dari sisi bahwa sang menteri adalah role model ’lulusan yang siap kerja’ dengan perusahaan berbasis online ciptaannya, ada yang urgen untuk kita bahas bersama. Suatu hal yang menyangkut masa depan generasi dan tentu kemajuan bangsa. Yakni, soal visi pendidikan bagi generasi.

Indonesia , adalah sebuah negara yang seringkali disebut dalam berbagai kejuaraan tingkat internasional. Bahkan lulusan terbaiknya menjadi kader-kader membangun kemajuan negara lain. Sementara yang kerap kita temui fakta dalam negeri justru soal degradasi adab. Di Manado, seorang guru dikeroyok dan ditikam hingga meninggal dunia oleh muridnya sendiri lantaran ia mendidik agar tidak merokok di lingkungan sekolah (detik.com, 25/10/2019). Tahun lalu, di Sampang, seorang guru dianiaya siswanya hingga meninggal dunia (tribunnews.com , 3/2/2018). Bahkan wali murid juga melakukan tindakan tak beradab, mencakar wajah guru anaknya karena emosi terhadap sikap guru yang dianggap tidak adil pada anaknya (detik.com, 25/9/2019).

Fakta tersebut berkebalikan dengan era 1997an, adab terhadap guru diletakkan diposisi atas sebelum bicara tentang akademik lebih-lebih pekerjaan setelah lulus nanti. Waktu terus bergulir, sistem pendidikan pun berganti-ganti sampai di titik kurikulum 2013 , ada gejolak kebingungan diantara para pendidik maupun pengamat pendidikan: mau dibawa kemana anak-anak kita? Guru pun digiring dalam dunia pendidikan yang mengikuti kemauan para kapitalis. Guru berada di kursi fasilitator daripada menjadi pendidik. Aplikasi yang merupakan benda mati menjadi pendidik bagi peserta didik. Pandai mencari pengetahuan lewat internet, pandai menciptakan karya namun minim kesadaran sebagai manusia yang merupakan makhluk sosial lebih-lebih makhluk berTuhan. Wajar saja, output pendidikan menjadi sosok yang liar, kaku, keras, dan kurang peka yang tentu kental dengan pembentukan karakter sebagai pekerja bukan pemimpin. Pendidikan karakter hanyalah retorika ditengah kejaran pekerjaan –tugas- yang membuat anak tersibukkan dari merenungi hakikat siap dirinya, untuk apa ia diciptakan, dan akan kemana setelah kehidupan ini berakhir. Walimurid pun karena terpaan era industri 4.0 turut memotivasi putra-putri untuk semangat kerja dengan membekali dengan banyak kursus atau keterampilan agar tidak kesulitan mendapat pekerjaan dikemudian hari setelah lulus. Beginilah cara kerja sistem pendidikan sekuler , peserta didik terbidik bukan terdidik. Terbidik menjadi pekerja para pemikir yang materialistis, para kapitalis num kosomg dari sisi ruhiyah sehingga yang terjadi adalah degradasi moral.

Subhanallah. Teringat dengan bagaimana Islam mewajibkan umatnya untuk menuntut ilmu, hingga ke liang lahat. Oleh karenanya, visi pendidikan dalam sistem pendidikan Islam adalah membentuk kepribadian yang bertaqwa dengan menyadari hakikat kehidupan darimana dia berasal, untuk apa dia hidup, dan akan kemana setelah hidup. Visi inilah yang menggiring kepada upaya melejitkan potensi masing-masing peserta didik untuk mempersembahkan yang terbaik untuk sang pemilik kehidupan ini. Dengan begitu, akan mudah dirinya untuk termotivasi memikirkan kehidupan, memperbanyak literasi, dan berlomba-lomba menciptakan temuan-temuan yang bermanfaat untuk masyarakat. Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib , Abdurrahman bin Auf, Salman Alfarisi, Mush’ab bin Umair, Aisyah, Usamah bin Zaid, Muhammad Al fatih, Dholahudin Alayyubi, Nuruddin Zanki, Alkhawarizmi, Imam Syafii, Imam Malik, Arrazi, Ibnu Batutah, Ibnu Sina, Mariam Almasturlabi, Harun Arrasyid, dan lain sebagainya. Mereka adalah sebagian kecil dari output sistem pendidikan Islam yang visioner. Mereka menguasai lebih dari 1 disiplin ilmu dan dengan keilmuan mereka mampu mencetak sejarah emas dan membawa berkah untuk seluruh dunia.

Dengan sistem pendidikan yang visioner, peserta didik akan terdidik menjadi pribadi yang visioner. Mereka terbiasa berpikir sebelum melangkah, memikirkan nasib bangsanya , dan tidak sekedar bercita-cita bekerja di perusahaan atau membangun bisnis di era industri 4.0 selepas lulus pendidikan. Tapi lebih dari itu, ia akan terus belajar hingga akhir hayat demi menyempurnakan peran besarnya sebagai manusia, sang khalifah fil-ardl. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *