Pertemuan Parlemen Muslim Dunia Hasilkan Empat Poin Kesepahaman

JAKARTA –SuaraInqilabi– Pertemuan Parlemen Muslim Dunia atau International Islamic Forum of Parliamentarians (IIFP) ke-4 yang digelar di Jakarta sejak 13-15 Februari 2020 menghasilkan empat point kesepahaman. Hal ini diharapkan dapat memperkuat peran IIFP dalam kerja sama antaparlemen dan dunia internasional.

Point pertama, IIFP akan terus memperluas keanggotaannya dengan aktif berkomunikasi dan berkirim surat resmi kepada anggota parlemen muslim, khususnya di negara-negara yang bukan mayoritas muslim, seperti Eropa dan Amerika. Hal ini dimaksudkan agar perspektif dan kontribusi IIFP semakin luas dan dirasakan dunia.

Kedua, anggota IIFP berkomitmen untuk mempromosikan dan menampilkan wajah Islam yang ramah, bersahabat, dan berkemajuan dalam interaksi dan peran-peran parlemen khususnya, sehingga benar-benar mampu mewujudkan Islam yang rahmatan lil alamin (rahmat bagi semua mahluk alam).

Ketiga, melalui peran-peran parlemen IIFP terus mendorong upaya perdamaian dunia di wilayah-wilayah yang berkonflik serta menunjukkan keberpihakan dan kepedulian atas permasalahan kemanusiaan universal yang menimpa masyarakat dunia terutama kepada masyarakat dan bangsa yang tertindas, seperti di Palestina, Rohingya, dan Uighur.

Keempat, IIFP mendorong agenda perbaikan atau reformasi pemerintahan dan pelayanan publik juga pelestarian lingkungan yang berorientasi pada pemenuhan kesejahteraan dan pencapaian kemajuan peradaban di negara masing-masing dan dunia internasional. Dalam hal ini, anggota IIFP berusaha menjadi yang terdepan (menjadi teladan) dalam mewujudkannya melalui peningkatan profesionalitas dan akuntabilitas kinerja parlemen.

Selaku tuan rumah, Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPR RI mengucapkan selamat dan berharap hasil-hasil yang dicapai dapat memperkuat peran IIFP dalam memperkuat kerja sama antaparlemen dan dunia internasional.

Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwaini menjelaskan, IIFP dicetuskan di Indonesia pada 2007, dimana saat deklarasi dihadiri delegasi anggota parlemen dari 28 negara dan diresmikan langsung Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono.

“Sejarah IIFP itu sangat istimewa bagi Indonesia. Semangatnya saat itu adalah anggota parlemen muslim di seluruh dunia dapat berbagi pandangan dan pengalaman serta bekerja sama erat dalam menghadirkan kedamaian dan kesejahteraan masyarakat dunia melalui peran-peran kolektif parlemen,” kata Jazuli, Minggu (16/2/2020).

Maka itu, Fraksi PKS selaku panitia dan tuan rumah punya tanggung jawab moral untuk kembali merevitalisasi peran IIFP sebagai forum yang berkontribusi bagi kemaslahatan dunia. “Selama tiga hari penuh anggota parlemen muslim yang hadir bertukar pikiran tentang isu-isu hak asasi manusia dan kemanusiaan universal. Di samping itu kita juga membahas isu-isu demokratisasi, reformasi, pelayanan publik, hingga lingkungan hidup,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua IIFP Abdul Majid Menasrah (Aljazair) menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Jazuli Juwaini. “Terima kasih kepada Fraksi PKS atas kepanitiaan acara yang dinilai berhasil optimal dan kepada Indonesia atas keramahannya dalam menyambut delegasi IIFP dari negara-negara peserta. Semua fasilitasi dan keramahan itu membuat IIFP merasa berada di rumah sendiri. Terima kasih,” pungkas Abdul Majid.

Anjuran Al-Quran untuk Menjaga Persatuan dan Menghindari Perpecahan
Persatuan dalam Islam merupakan hal penting yang diinginkan oleh umat. Sehingga kita wajib berjuang untuk menyerukan, menjalankan dan merealisasikanya.

Di dalam Al-Quran, Allah SWT banyak menerangkan hakekat mengenai Persatuan, serta anjuran untuk menjaganya dan menghidari perpecahan.
Q.S. Ali Imran [3]: 19

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِن بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۗ وَمَن يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Kitab kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Barang siapa ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya.”

Q.S. Ali Imran [3]: 103
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ.

“Dan berpegang teguhlah kalian pada tali (agama) Allah seraya berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.”

Anjuran As-Sunnah Untuk Menjaga Persatuan dan Menghindari Perpecahan

Nabi Muhammad SAW juga dalam sabdanya banyak menyebutkan masalah persatuan ini, yang juga berisi anjuran untuk menjaga persatuan dan menghindari perpecahan, di antaranya adalah :

Muttafaq Alaih dari Abu Hurairah
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ يَقُوْلُ: مَنْ خَرَجَ مِنَ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الْجَمَاعَةِ، فَمَاتَ فَمِيْتَتَهُ جَاهِلِيّةِ

Dari Abu Hurairah , dari Nabi bersabda: “Barang siapa yang keluar dari ketaatan dan meninggalkan jama’ah (jama’atul muslimin) lalu meninggal dunia dalam kondisi seperti itu maka dia meninggal dalam kondisi Jahiliyyah.”

H.R. Abu Dawud dan Nasa’i dari Ali bin Abi Thalib
عَنْ عَلِيٍّ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: الـْمُسْلِمُونَ تَتَكَافَأُ دِمَاؤُهُمْ وَيَسْعَى بِذِمَّتِهِمْ أَدْنَاهُمْ وَيَرُدُّ عَلَيْهِمْ أَقْصَاهُمْ وَهُمْ يَدٌ عَلَى مَنْ سِوَاهُمْ

Dari Ali , dari Nabi bersabda, “Darah kaum muslimin itu setara, orang yang paling dekat menjaga kehormatannya dan yang paling jauh melindungi keamanannya. Mereka adalah satu kekuatan dalam menghadapi orang lain.”

Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dengan tegas mengatakan, kesatuan umat Islam adalah realita dan pasti akan terwujud, bukan sebuah khayalan .Namun, kesatuan itu tidak akan datang begitu saja. Untuk mewujudkannya perlu kerja keras dan perjuangan yang berkesinambungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *