Pernikahan Massal Pendidikan dan Industri, Siapa Yang Di Untungkan?

Oleh: Shinta PutriPenggiat Muslimah Peduli Negeri

Menteri Pendidikan, Nadhiem Makarim akan mengeluarkan kebijakan baru yaitu pernikahan massal antara pihak sekolah baik Sekolah Menengah Kejuruan maupun pihak universitas di gabung dengan industri.

Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi (Dirjen Diksi) Kemendikbud, Wikan Sakarinto dalam telekonferensi di Jakarta, mengatakan target dari program penguatan itu adalah sekitar 100 prodi vokasi di PTN dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) agar melakukan pernikahan massal pada 2020 dengan puluhan bahkan ratusan industri dengan tujuan utama dari gerakan ini agar program studi vokasi di perguruan tinggi menghasilkan lulusan dengan kualitas dan kompetensi sesuai dengan kebutuhan dunia industri dan dunia kerja.

Dalam hal ini peran pemerintah sebagai pendukung, regulator, dan katalis. Perjodohan massal ini dirasa sangat perlu karena memberi peluang kepada siswa dan mahasiswa untuk menambah keterampilan dan siap menghadapi tantangan di dunia kerja.

Perjodohan massal ini didukung sepenuhnya oleh pemerintah demi kemajuan Sumber Daya Manusia, para siswa di persiapkan untuk bisa bersaing dan terjun langsung kelapangan, sehingga begitu bekerja sudah tidak perlu perusahaan mengadakan training lagi. Yang tentunya akan menghabiskan dana yang lebih besar.

Program dari Menteri Pendidikan ini menunjukkan semakin kokohnya pendidikan berbasis Kapitalisme di Indonesia. Yang hanya mencetak pelajar menjadi seorang tenaga kerja atau buruh, bukan generasi kreatif membuat lapangan kerja sendiri atau menjadi seorang pemimpin pun tidak pernah terbayang dalam benak para siswa.

Kebijakan yang di keluarkan oleh pemerintah memang terkesan baik dan memberi manfaat kepada para pelajar untuk bisa mudah memperoleh pekerjaan. Tetapi di balik kebijakan tersebut yang paling diuntungkan adalah pihak investor pemilik industri itu sendiri. Industri-industri tersebut difasilitasi oleh negara dalam hal pengadakan tenaga kerja yang akan di butuhkan oleh industri tersebut. Para pekerja yang siap pakai, langsung bekerja dan sudah mempunyai kemampuan yang mereka inginkan.

Hal ini sudah di persiapkan oleh pemerintah untuk menarik investor asing, karena sebelumnya Presiden Jokowi mengatakan telah menyediakan lahan 5000 hektar di Batang, Jawa Tengah. Yang di sediakan untuk para investor dengan harga yang sangat murah. Menarik investor target utama untuk memperluas lapangan pekerjaan dan kemajuan di bidang perekonomian. Dan menjadikan rakyatnya hanya sebagai bawahan.

Kewenangan tersebut sejalan dengan kebijakan Menteri pendidikan untuk melakukan penyelarasan antara pendidikan vokasi dengan pihak industri. Hal ini sebagai bentuk pelayanan terbaik penguasa terhadap para investor untuk menanamkan modalnya, sehingga akan banyak investor yang tertarik dengan Indonesia. Budaya ramah tamah yang di miliki bangsa Indonesia telah di terapkan, ramah kepada para investor asing sama juga menggelar karpet merah kepada para penjajah.

Inilah profil negara dengan sistem kapitalisme dimana lebih mengedepankan perolehan materi yang sebanyak-banyaknya meski harus mengorbankan generasinya. Bagaimana Indonesia bisa maju ? Bila generasi penerusnya di setarakan menjadi buruh pekerja orang asing. Indonesia negara yang berlimpah sumber daya alam dan kaya raya cita-citanya hanya mencukupkan generasi penerusnya sebagai tenaga kerja atau buruh saja.

Padahal dalam sistem pendidikan Islam bahwa sekolah itu mencetak seseorang untuk berkepribadian Islam, berakhlak mulia dan mempunyai ilmu teknologi yang tinggi, sehingga bisa menjadi pemimpin dan bisa membuat lapangan pekerjaan sendiri, mandiri, kuat dan tangguh serta beriman dan taqwa kepada Allah Swt, hal ini yang selalu di tanamkan dalam diri para siswa, mereka adalah generasi pengisi peradaban. Tumpuan harapan bangsa.

Konsep pendidikan dalam Islam sudah terbukti di terapkan selama kurang lebih 12 abad lamanya dan telah menghasilkan ilmuwan yang luar biasa seperti Al- Khawarizmi, Al-Razi, Ibnu Sina, Aljabar dll. Keilmuan mereka sangat bermanfaat bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi juga di dedikasikan sepenuhnya untuk masyarakat, negara dan agamanya.

Tidak diragukan lagi bagaimana Islam mencetak pemuda tangguh generasi penerus peradaban. Generasi terbaik kaum muslimin umat terbaik pemimpin dunia cita-cita mulia yang tidak di miliki oleh pemuda generasi bentukan sistem rusak kapitalisme.

Jika kita masih berada dalam sistem kapitalis ini anak-anak kita menjadi korban ketamakan para pemilik modal dan penguasa, di peras tenaganya untuk menggerakkan perekonomian demi menumpuk pundi-pundi kekayaan mereka. Sungguh miris menjadi jongos di negeri sendiri, apakah kita terus ridho dengan kezaliman ini? Maka segera bangkit kaum muslimin di Indonesia sebelum negeri ini benar-benar diduduki penjajah. Campakkan sistem kapitalisme di ganti dengan sistem Islam yang di contohkan Rosullullah dengan khilafah untuk mengakhiri kezaliman para kapitalis dan antek-anteknya.

Wallahu ‘alam bishshowwab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *