Permintaan PBB untuk Menghentikan Perang di Yaman

Sana’a- Suarainqilabi- Sejak Maret 2015, Arab Saudi telah melancarkan perang brutal terhadap rakyat Yaman dalam bentuk koalisi dengan UEA, dan sejauh ini telah membunuh dan melukai puluhan ribu warga Yaman. Upaya internasional untuk menghentikan perang ini sejauh ini gagal.

Dalam hal ini, utusan PBB Martin Griffiths dalam urusan Yaman pada hari Sabtu, 7 Maret, dalam konferensi pers menyerukan penghentian operasi militer di negara ini dan interaksi pihak-pihak yang terlibat konflik setelah tiba di provinsi Ma’rib Yaman.

“Semangat petualangan militer dan upaya untuk mendominasi Yaman tidak ada gunanya. Karena tujuan-tujuan ini tidak akan tercapai secara militer dan di medan perang,” ungkap utusan PBB untuk urusan Yaman mengatakan kepada operasi-operasi militer koalisi Saudi dalam sebuah pernyataan yang jelas.

Griffiths menekankan bahwa tidak ada alternatif selain kompromi politik, yang dapat dicapai melalui negosiasi gencatan senjata sesegera mungkin.

Terlepas dari upaya PBB untuk menciptakan gencatan senjata dalam perang yang memusnahkan rumah warga Yaman dan negosiasi politik untuk mencapai kesepakatan antara para pihak yang terlibat konflik, dalam praktiknya, anggota koalisi Saudi telah berulang kali mengabaikan perjanjian gencatan senjata, dimana yang paling menonjol adalah pengabaian gencatan senjata di pelabuhan al-Hudaidah di Yaman utara.

Ribuan warga Yaman telah terbunuh dan ratusan ribu lainnya terluka dalam lima tahun terakhir sebagai akibat serangan Saudi dan sekutu mereka. Masalah yang disebabkan oleh pengepungan Yaman dan pemboman berkelanjutan atas pusat-pusat sipil telah menyebabkan kekurangan makanan dan obat-obatan, dan ribuan wanita Yaman hamil telah menderita atau kehilangan nyawa mereka dalam beberapa tahun terakhir karena kekurangan gizi.

Mengingat masalah-masalah ini, PBB menekankan penghentian segera dan tanpa syarat dari operasi militer di Yaman dan dimulainya langkah-langkah untuk mengurangi ketegangan. Meskipun utusan PBB di Yaman melaporkan reaksi positif dari pihak-pihak yang bertikai, ia juga menekankan bahwa tindakan harus diambil karena rakyat Yaman tidak bisa berharap lebih.

Sikap perlawanan Yaman dalam hal ini cukup jelas. Menurut Juru Bicara Gerakan Rakyat Yaman (Ansarullah) Mohammad Abdussalam, utusan PBB harus menahan diri dari rencana yang mencurigakan karena proses negosiasi politik mengharuskan penghentian agresi dan blokade.

Pada saat yang sama, penyusunan waktu perjalanan Griffith cukup berarti mengingat perkembangan terakhir di Yaman. Kemenangan baru-baru ini dari perlawanan Yaman, khususnya di provinsi Jawf, telah mendorong Saudi untuk meminta sekutu Barat mereka menghentikan perkembangan saat ini dalam mendukung perlawanan Yaman. Pasukan Ansarullah Yaman telah mengambil kendali atas pusat kota Yaman Jawf beberapa hari yang lalu dalam operasi penting dan strategis yang diluncurkan beberapa minggu lalu, menandai dimulainya invasi Saudi pada Maret 2015, ibukota provinsi utama negara ini.

Pendudukan provinsi Jawf sebenarnya akan meningkatkan inisiatif gerakan Ansarullah dan membuka front baru melawan koalisi Saudi. Perlawanan Yaman sekarang berusaha untuk membebaskan provinsi Ma’rib. Sementara itu, disintegrasi pasukan mantan Presiden Yaman Abdul Mansur Hadi di Jawf telah memberikan pukulan berat pada legitimasi dan kredibilitas pemerintah Yaman yang mengundurkan diri, dan banyak komandan dan suku lain tidak mempercayai pemerintahannya.

Utusan PBB di Yaman juga bersikeras bahwa dia bertemu dengan perwakilan pejabat lokal dan pemimpin suku di provinsi Ma’rib, dan tujuannya adalah untuk membujuk pemerintah yang bertekad untuk menerima kontrol Ansarullah atas provinsi Jawf dan untuk menahan diri dari tindakan militer untuk menguasainya kembali sebagai balasan jaminan tidak ada serangan gerakan ini ke provinsi Ma’rib.

Tujuan Griffith pada titik waktu ini tampaknya adalah untuk mencegah kelanjutan aksi militer di kedua pihak yang berperang dengan bertujuan mengurangi ketegangan dan mempersiapkan putaran baru perundingan politik. Namun, pengalaman masa lalu telah menunjukkan bahwa koalisi Saudi dan pasukan Mansour Hadi hanya bekerja lebih ke arah perang di Yaman. [] Pars Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *