Perempuan Pendidik Peradaban

Oleh Wulandari Muhajir

 

Terdapat 15 anak di bawah umur digerebek di salah satu hotel milik artis Ibu kota yang disebut dijadikan lokasi prostitusi online. Belasan anak itu telah dititipkan ke Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) dan Balai Rehabilitasi Sosial Anak Memerlukan Perlindungan Khusus (BRSAMPK) Handayani di bawah naungan Kementerian Sosial.

“Motifnya karena di Covid-19, penghuni cukup sepi sehingga ada peluang agar operasional (hotel tetap) berjalan, ini yang terjadi, dengan menerima kasus-kasus perbuatan cabul di hotelnya, sehingga biaya operasional hotel bisa berjalan,” tutur Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus di Polda Metro Jaya (CNN Indonesia, 19/03/2021).

 

Perempuan dan Kemiskinan

Tidak bisa dipungkiri ide bobrok sistem kapitalisme telah menciptakan jurang kesenjangan ekonomi  antara pemilik modal dan masyarakat biasa. Disatu sisi, kaum kapitalis yang kekayaannya semakin menggurita  dengan jalan menghisap hak-hak masyarakat umum,  utamanya masyarakat kelas menengah kebawah. Sehingga ledakan kemiskinan pun tidak bisa dihindari.

Salah satu yang paling merasakan dampak dari bom kemiskinan tersebut adalah kaum perempuan. Dilansir dari Kumparan (14/03/2021) Persentase penduduk miskin (Head Count Index) perempuan pada Maret 2020 sebesar 9,96 persen. Artinya, 9,96 persen dari seluruh penduduk perempuan di Indonesia berstatus miskin. Angka ini meningkat jika dibandingkan kondisi Maret 2019 (9,63 persen). Juga lebih tinggi dibandingkan tingkat kemiskinan laki-laki yang mencapai 9,59 persen (Maret 2020, BPS).

Perempuan dan kemiskinan ikatannya semakin kuat di masa pandemi. Lapangan usaha terdampak kondisi pandemi, umumnya adalah pekerjaan di sekitar perempuan. Pekerjaan di bidang penyediaan makan minum, industri garmen, perdagangan, kesehatan, termasuk asisten rumah tangga adalah di antara pekerjaan yang “rentan” terpapar COVID-19 maupun “rentan” penutupan aktivitas. Padahal partisipasi perempuan di pekerjaan ini relatif besar. Akibatnya perempuan semakin terdorong semakin jauh dalam jurang kemiskinan.

Selain itu negara kita nyatanya tidak banyak tindakan solutif untuk memproteksi warga negaranya dari keadaan yang kacau ini. Bahkan negara terkesan tidak siap dengan serangan pandemi ini. Alhasil bagi kaum perempuan yang semakin terjepit harus mengambil tindakan yang terbilang ekstrim, termasuk diantaranya melakukan pekerjaan yang sangat menjijikkan, menjual diri. Ini jelas jalan pintas untuk menghasilkan uang demi bisa menyambung hidup.

Kondisi ini semakin diperparah akibat negara kita yang menerapkan sistem sekuler, yang itu artinya peluang bagi pelaku tunasusila lebih besar. Jelas saja, karena tempat-tempat maksiat dan para pelakunya tidak mendapat tindakan tegas dari negara. Sebab negara menganggap perbuatan tersebut adalah urusan pribadi, tidak boleh negara terlalu ikut campur dalam ranah tersebut.

Keadaan tersebut membuat kaum perempuan semakin terperosok dalam kubangan penderitaan. ‘Sekedar pemuas nafsu’ pada akhirnya akan semakin melekat pada diri kaum perempuan. Namun memang demikianlah keadaan perempuan dalam sistem sekuler kapitalisme. Perempuan hanya dianggap sebagai budak penggerak perekonomian. Perempuan dieksploitasi untuk mendongkrak kacauanya ekonomi yang disebabkan sistem sekuler-kapitalisme.

Sistem sekuler-kapitalisme yang menjadikan materi sebagai standar kebahagiaan menyebabkan semakin banyak perempuan tereksploitasi. Tubuh perempuan dijadikan konsumsi publik, tidak lain untuk menarik konsumen. Sebagai contoh, berbagai iklan, majalah, dan media lainya seringkali menjadikan perempuan sebagai objeknya. Sekalipun produk tersebut tidak ada hubungannya dengan perempuan. Bagian tubuh perempuan dipertontonkan untuk menarik calon konsumen, terutama kaum pria.

 

Islam dan Kemuliaan Perempuan

Suatu kutipan menarik mengatakan bahwa “perempuan yang mendidik seorang laki-laki mungkin dian sedang mendidik seorang pemimpin, sedangkan perempuan yang mendidik seorang anak perempuan maka dia sedang mendidik suatu peradaban”. Kutipan ini menunjukkan bahwa perempuan sangatlah penting bagi kaum manusia. Maka dari itu islam sangat menjaga dan memuliakan perempuan.

Cara pandang antara sistem kapitalisme dan islam sangatlah berbeda. Islam tidak pernah memandang perempuan sebagai komoditi ekonomi semata, melainkan sebagai manusia  yang harus dijaga keamanannya serta selalu difasilitasi  secara finansial oleh kerabat laki-laki ataupun negara, seperti dalam firman Allah swt yang artinya:

“kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf. Seseorang tidak dibebani selain menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan ahli waris pun berkewajiban demikian…” (QS. Al-Baqarah: 233)

Penjagaan islam terhadap perempuan memberikan ruang bagi mereka untuk menjalankan peran vitalnya sebagai seorang ibu dan istri, untuk menjaga dan mendidik peradaban. Selain itu islam juga membolehkan perempuan untuk memasuki dunia kerja jika mereka menginginkannya. Dengan catatan para perempuan harus dijamin bebas dari tekanan ekonomi dan sosial dalam bekerja. Mereka juga harus terbebas dari kondisi peran ganda, sebagai pencari nafkah dan pengurus rumah tangga. Agar pekerjaan domestiknya (ibu rumah tangga) tidak terganggu.

Maka dari itu, perempuan membutuhkan visi politik seperti konsep politik dalam islam. Memuliakan dan menjaga perempuan. Perempuan bukan soal dapur, kasur dan sumur, melainkan dari rahim mereka akan lahir generasi yang akan menentukan arah masa depan bangsa maupun peradaban. Dalam islam perempuan adalah tulang rusuk, bukan tulang punggung.

Wallahua’lam bishawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *