Perempuan dan Pendidikan Dibius Ide Sesat ala Sekulerisme

Oleh: Maknathul Aini (Aktivis Dakwah Kampus dan Member Akademik Menulis Kreatif)

Berbicara soal perempuan seperti tidak kehabisan kata, dimana ia setara dengan harta dan tahta, serta tidak kalah penting ia tidak pernah lelah untuk dipersoalkan. Pun di masa kini masih riuh rendah suaranya. Namun seiring perputaran waktu, tidak semua wanita bisa bertahan terhadap godaan dunia. Tidak sedikit wanita yang tergadaikan pemikiran dan kehormatannya.

Sosok perempuan yang banyak sisi diulik untuk mengokohkan keeksistensiannya. Yang sayangnya tersebabkan dengan tercekoki oleh ajaran sekuler-liberal yang mereka adopsi sehingga tidak sedikit pula dari mereka ternodai akan fitrahnya sebagai perempuan sejati.

Lantas dimanakah letak posisinya sebagai perempuan atau muslimah mulia yang tersematkan dalam dirinya?
Memang kita akui sosok perempuan sekarang sudah mengalami pergeseran yang sangat tajam nan jauh. Dimana hal tersebut terjadi semenjak arus emansipasi dihembuskan. Semenjak itu pula perempuan didorong akan misinya untuk mengejar peran sama persis dengan laki-laki ( kesetaraan gender). Padahal sadar tidak sadar paradigma KG sesat ini terlahir dari ideologi sekuler, yang menganggap agama sebagai faktor penghambat kemajuan para kaum hawa.
Padahal, justru dengan terkungkungnya ide feminisme atau KG tadi adalah gerbang dari kehancuran dari suatu peradaban, dimana perempuan terbelok jauh dari fitrahnya. Dengan begitu maka akan terjadi dehumanisasi, eksploitasi, dan juga pelecehan terhadap perempuan. Sehingga harga dirinya hanya diukur dari penampilan fisik, tinggi dan berat badannya, warna kulit, dan pakaian yang dikenakannya, serta jabatannya di ranah publik. Akibatnya lahirlah perempuan yang sejatinya menderita lahir dan batin.

Dimana sosok perempuan sekuler saat ini tak ubahnya seperti perempuan di Barat yang memang lebih dahulu menerapkan sekularisme. Disana, perempuan memang sangat liberal, mereka berhak menuntut apa saja yang menjadi kehendaknya, termasuk meninggalkan kodratnya sebagai sosok perempuan mulia yang sangat jauh dari fitrah sebagaimana Islam memposisikannya.

Pun di tengah arus kesetaraan gender kini sosok perempuan juga dianggap dan dipandang sukses jika dari segi materialistik mampu ia lakoni, entah itu kedudukannya sebagai wanita karir, beruang, dan juga gaya hidupnya yang super hedonis. Jadi tidak heran kenapa demikian karena sungguh yang menjadi standar kebahagiaannya hanyalah materi bukan semata-mata bagaimana cara meraih rida Ilahi.

Dengan begitu wajar sosok perempuan sekarang terus mengejar karir, sebagaimana pria yang mencari nafkah. Jika sudah begitu maka hal itu menjadi sebuah titel yang dibanggakan dan sebuah prestasi dalam dirinya. Padahal sosok perempuan tidak seharusnya mengungguli laki-laki dalam hal tersebut, karena sudah keluar dari fitrahnya.

Sebaliknya, tidak sedikit pula yang menganggap bahwa saat perempuan melaksanakan fitrahnya dalam rumah tangga dicap tidak keren, terpaksa, tertindas dan sebagainya. Profesi ibu rumah tangga dipandang sebagai nasib para perempuan berpendidikan rendah dan menganggap untuk apa seorang perempuan bersusah payah menempuh jenjang pendidikan tinggi jika ujung-ujungnya hanya berakhir di rumah.
Dengan sudut pandang masyarakat kebanyakan mengenai kesuksesan tadi, maka itulah yang membuat kaum perempuan minder. Pendidikan tinggi yang sudah bersusah payah mencapainya, tapi ujung-ujungnya mendekam di dalam rumah. Image ibu rumah tangga (ummu wa robbatul bait) yang mulia sudah tidak bergengsi lagi di mata umum, menjadikan perempuan kehilangan arah dan akhirnya terus meronta-ronta untuk mengejar karir gemilang selayaknya pria.

Memang di tengah arus kesetaraan gender yang mengejek bahwa menjadi ibu rumah tangga itu tidak produktif, tidak dapat menghasilkan uang, seolah-olah seabrek fulltime di rumah adalah penjajahan.tidak sedikit ketika para perempuan ditanya bekerja dimana? Dengan rasa tidak percaya diri menjawab, saya hanyalah Ibu rumah tangga saja, padahal ia sarjana yang seharusnya bisa bekerja menghasilkan uang sehingga disebut perempuan yang produktif.

KG sebagai penyokong liberalisme pada kaum perempuan ini telah mampu menghembuskan angin segar yang mendorong para perempuan keluar rumah untuk bekerja dengan tidak menafikan alasan lainnya. Namunyang perlu diingat bahwa ide kesetaraan gender ini telah meliberalisasi keluarga muslimah juga, sehingga menghancurkan interaksi antara suami dan istri serta anak-anak di rumah tangga tidak bisa dihindari.

Wajarlah demikian sebab kapitalisme memang memutar hidup ini dengan uang, kehidupan yang serba mahal, biaya kesehatan dan juga pendidikanpun kian melambung tinggi nan mencekik akhirnya nafkah keluarga tidak bisa dibendung oleh seorang ayah saja namun butuh bantuan seorang ibu.

Perempuan bekerja dan tidaknya adalah pilihan, karena hukum baginya adalah mubah. Yang wajib adalah ummu wa robbatul bait, dan itulah pilihan yang istimewa dan patut jadi kebanggaan kaum perempuan. Karena sejatinya pendidikan tinggi bagi perempuan bukanlah untuk menyaingi titel suaminya namun untuk mencetak dan mendidik generasi rabbani yang siap menjadi estapet perjuangan Islam tentunya.

Sungguh bodoh jika peradaban sampah ini masih dilanggengkan dan disanjung sebagai sistem terbaik di bumi pertiwi Indonesia kita tercinta ini. Yang semestinya perempuan pintar nan cerdas tidak mau dirinya dipoles menjadi perempuan sekuler.

Namun bersyukurlah, bagi sebagian perempuan masih eling dan menjalani hidup sesuai nilai-nilai Islam. Masih banyak pula perempuan yang bangga menjalani profesi ibu rumah tangga yang akan tersematkan sebagai perempuan-perempuan yang berkarir syurga.

Memang, berkiprah di ranah publik tidak dilarang. Bahkan banyak para perempuan atau muslimah berkiprah untuk masyarakat. Ada yang mengabdikan ilmunya untuk mencerdaskan kaum perempuan agar menjadi peletak dasar perubahan menuju masyarakat islami.

Semua itu karena mereka semata-mata paham Islam dan ingin menjauhkan diri dari nilai-nilai sekularisme. Mereka para perempuan mulia tidaklah dipandang dari segi penampilan fisik, dan sebagainya. Tidak pula diperkenankan untuk menjalani profesi yang dapat terjadi dehumanisasi dirinya. Namun betul-betul ia adalah menyibukkan diri dengan ibadah menuju ketakwaan, karena itulah bekal utama dalam menjalani kehidupan.

Lalu pertanyaannya siapakah perempuan muslimah mulia tersebut? Ia adalah bukan wanita biasa, tapi ia sosok mulia dan memuliakan orang sekitarnya. Namun yang jadi pertanyaannya juga adakah sosok muslimah mulia di dunia yang fana ini? Tentu saja ada. Dia muslimah mulia, dia bukan dicari tapi diciptakan sehingga ia ada. Sosok muslimah mulia telah hadir dengan keteguhannya memegang ideologi, semua problem dijawabnya, sebagaimana Islam yang juga mampu menjawabnya.

Islam benar-benar dijadikan pandangan hidupnya. Sebab hanya islam lah yang mengajarkan segala kebaikan. Yang mana perempuan tercipta dengan segala kelemah lembutannya, kasih sayangnya yang penuh empati, dan pastinya ia muslimah yang taat secara totalitas, memiliki sikap mental yang mulia pula.

Dimana pernah suatu ketika sejarah mencatat, perempuan di masa khilafah mengalami kemajuan yang luar biasa, meski tanpa capek-capek menyertakan perannya. Terutama dibidang ilmu, para perempuan muslimah banyak yang menjadi kaum terpelajar dan terkemuka.

Layaknya Ibu Muhammad Al-Fatih, Ibunya Imam Syafi’I dan banyak tokoh-tokoh lainnya. Ataupun misalnya pada masa para Sahabiyah yang dimana banyak ummul mukminin yang cerdas dan handal (ummi khadijah, ummi ‘Aisyah dan seterusnya).

Tidak sedikit orang Barat pun mengagumi dan terpesona dengan kemuliaan para perempuan muslimah kala itu. Dan wajar banyak perempuan non muslim saat ini juga masuk Islam karena terpesona dengan perlindungan Islam terhadap harkat dan martabat perempuan. Padahal ini hanyalah secuil yang diaplikasikan dari nilai-nilai Islam oleh para perempuan muslimah masa kini, belum secara kafah sebagaimana Negara dalam bingkai khilafah.

Ya, jika khilafah menerapkan seluruh aspek syariah islam, niscaya kemuliaan perempuan muslimah akan semakin tampak nyata. Sebab hanya Khilafahlah yang memuliakan perempuan. Sayang, profil perempuan mulia seperti ini tidak banyak diekspos. Bahkan, ketika membincangkan Khilafah, yang dipropagandakan justru perempuan hanya menjadi selir atau budak penguasa. Sungguh gambaran sejarah yang tidak jujur.

Kini, saatnya mengembalikan harkat dan martabat perempuan, meluruskan kembali ke rel yang benar, mengarahkan kembali pada kodratnya. Dan itu hanya terwujud jika perempuan hidup dibawah naungan khilafah. Sejatinya, Khilafah bisa diwujudkan. Tentu, jika perempuan pun ikut andil memperjuangkannya.
WaAllahu’alam Bishowab wa ilaihil-marji’uwal-maab.

Sumber: Dikutip dari berbagai sumber buku: diantaranya, (Kholda Najiyah: warna-warni muslimah, Ust Fellix Y Siuw: Wanita Berkarir Syurga, dan Ustzdah Yanti Tanjung: Menjadi Ibu Tangguh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *