Perbandingan Objektivitas Hukum Sekuler dan Hukum Islam

Oleh: Abu Mush’ab Al Fatih Bala (Penulis Nasional dan Pemerhati Politik Asal NTT)

Hukum dibuat untuk menjaga keadilan di tengah masyarakat. Tanpa hukum, tentu kehidupan rimba yang akan berlaku.

Yang zhalim akan menindas yang lemah tanpa aturan pelindung. Jika hukum itu adil maka yang lemah akan merasa aman dan terlindungi. Yang zhalim pun akan ditindak sesuai kadar kesalahannya.

Namun kadang hukum itu berat sebelah. Tumpul ke atas tetapi tajam ke bawah. Kadang hukum pun bisa berbeda sanksi tergantung siapa yang menjadi objek hukum dan kepentingan politik di dalamnya.

Sanksi yang menimpa pelaku penyiram air keras terhadap penyidik senior Novel Baswedan (NB) dinilai terlalu ringan. Setelah 3 tahun mencari pelaku, ternyata pelakunya hanya dihukum 1 tahun penjara.

Padahal luka karena air yang diduga air keras itu sangat fatal. Wajahnya memanas dan terluka berat akibat siraman air itu. NB mengalami buta permanen untuk mata kiri.

Dan kehilangan sekitar 40-50% untuk mata kanannya. NB sangsi air yang digunakan itu air keras tetapi adalah bahan kimia tertentu yang lebih keras daya rusaknya.

Karena air tersebut ketika mengenai beton, terjadi perubahan warna yang masih bisa diamati selama setahun. Terdapat bau yang sangat menyengat.

Bahkan saksi-saksi merasa kepanasan tangannya ketika memegang baju NB. Namun sayang, keterangan dari para saksi dianggap tak berarti. Para pelaku penyiraman divonis hanya 1 tahun penjara.

Ini berbeda sanksi dengan kasus yang sama di negara lain. Menurut Estu Dyah Arifianti, Pengajar Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera, penyiraman air keras dikenal dengan istilah acid attack. Motif penyerangan pun beragam. Mulai dari dendam hingga perang antargeng.

Namun sanksi untuk kasus ini dinilai cukup berat di negara lain. Di India misalnya, pelaku diancam 10 tahun penjara dan dapat diperpanjang menjadi pidana seumur hidup.

Adapun di Bangladesh, ada dua undang-undang khusus terkait penyerangan menggunakan air keras. Aturan untuk mencegah dan menanggulangi. “Kalau mengakibatkan luka berat, ancamannya 7-14 tahun,” ucap dia (Tempo.co, 14 Juni 2020).

Diduga ringannya sanksi dalam kasus NB ini karena adanya pernyataan “tidak sengaja dilakukan” oleh pelaku terhadap NB. Bukan terencana. Ini yang secara logika terasa aneh dan tak masuk akal.

Mana mungkin ada orang yang tak sengaja melempar air keras ke wajah orang lain? Sebab itu air keras bukan air comberan.

Namun, patut diduga semua ini ada kepentingan politik kelompok tertentu yang tidak senang dengan NB karena sepak terjangnya memberantas korupsi para penguasa.

Ini lah sistem hukum sekuler yang rentan subjektivitas dan ketidakadilan. Ini berbeda dengan sistem hukum Islam dimana siapa pun bisa bersengketa dengan pejabat negara di pengadilan tanpa takut kalah, diintimidasi, dicurangi atau divonis berat.

Seperti kasus sengketa baju besi milik Khalifah Ali Bin Abi Thalib ra dengan seorang warga Yahudi biasa. Pengadilan tidak berpihak kepada sang Khalifah dan memenangkan Sang Yahudi.

Sang Khalifah kalah karena tak punya saksi dan bukti yang kuat. Saksinya adalah putranya yang ditolak kesaksiaannya karena merupakan anggota keluarga Khalifah.

Sang Yahudi menang, tanpa diganggu oleh kekuatan politik. Tanpa disiram air keras atau gangguan fisik lainnya. Sang Yahudi melihat keadilan sistem Islam yang sangat objektif dan memilih masuk Islam.

Tidak seperti hukum sekuler zaman sekarang. Hukum yang tebang pilih dan bisa mengkriminalisasi siapa pun yang lemah meskipun didukung kekuatan umat. []

Bumi Allah SWT, 14 Juni 2020

 

One thought on “Perbandingan Objektivitas Hukum Sekuler dan Hukum Islam

  • 16 Juni 2020 pada 21:43
    Permalink

    Harusnya dilakukan hukum qisas saja bisa diterima semua pihak…..pak novel menyiram air keras lagi (asam cyanida 90 persen) ke muka tersangka. Seterusnya tersangka baru dihukum setahun.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *