Perang Damai Terhadap Corona Versus Sistem Islam Atasi Pandemi

Oleh: Indah Wahyuni

Presiden RI Joko Widodo mengeluarkanr pernyataan yang mengejutkan di tengah penanganan penyebaran Covid 19, yang belum lama ini menjangkiti Indonesia. Melalui akun resmi media sosialnya, Jokowi meminta agar masyarakat bisa berdamai dengan covid 19 hingga vaksin virus tersebut ditemukan. (cnnindonesia.com, 5/7).

_Damai atau Lepas Tangan?_

“Berdamai dengan Corona.” Diksi yang dilontarkan oleh presiden itu menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Damai dengan Corona itu dimaknai dengan terbiasanya masyarakat menghadapi Corona ( covid-19). Bukankah ini sama dengan menerapkan metode Herd Immunity, sebuah sikap politik yang beresiko terhadap buruknya kesehatan pada populasi manusia? Di mana diharapkan setelah wabah berakhir, akan terdapat kekebalan alamiah di masyarakat.

Beberapa ahli Epidemiologi berpendapat, penerapan Herd immunity saat vaksin belum ditemukan adalah bahaya. Mengatasi pandemi dengan metode ini diprediksi akan memakan korban sebesar 1-1,5 % orang bakal gugur. (www.tribunnews.com/2020/05/15).

Bayangkan, berapa juta penduduk yang harus mati pada metode ini. Seruan untuk hidup damai dengan Corona sebelum ditemukan vaksin menegaskan lepas tangan pemerintah untuk penanganan wabah.

Sistem kapitalis yang diemban oleh negara menjadikan penanganan wabah mengacu kepada kepentingan ekonomi. keuntunngan material lebih mengemuka, ketimbang kepentingan kesehatan dan keselamatan jiwa manusia. Lebih memilih pembatasan sosial bersekala besar (PSBB) daripada lockdown. Padahal lockdown merupakan cara yang paling efektif untuk pemutusan rantai wabah.

Penyediaan pelayanan kesehatan yang kurang memadai mengakibatkan wabah masuk dengan mudah ke wilayah Indonesia. Hal ini juga disertai dengan kurangnya pembatasan kasus impor yang menjadi penyebab penularan lokal.

_Konsep Islam dalam Mengatasi wabah penyakit_

Perkara penanganan pandemi bukanlah persoalan teknis medis semata, tetapi perkara yang berkaitan erat dengan cara pandang terhadap manusia, kesehatan, dan keselamatan jiwanya. Pada tataran ini kehadiran Islam sangat dibutuhkan.

Ada tiga prinsip Islam dalam penanggulangan wabah sehingga segera berakhir tanpa korban lebih banyak lagi.

_Pertama_ penguncian areal wabah sesegera mungkin. Ditegaskan Rasullullah Saw, ” Apabila kalian melihat wabah di suatu tempat maka janganlah memasuki tempat itu, dan apabila terjadi wabah sedangkan kamu berada di tempat itu maka janganlah keluar darinya.”(HR Imam Muslim).

_Kedua_ , pengisolasian yang sakit sabda Rasulullah Saw, “Sekali_ kali3 janganlah orang berpenyakit menular mendekati yang sehat.”(HR Imam Bukhari).

_Ketiga_ , pengobatan segera sehingga sembuh. Bersabda Rasulullah Saw, “Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obat.”

Hanya konsep Islam yang memberikan perhatian dan penghargaan tertinggi pada kesehatan dan keselamatan jiwa. Penghargaan yang melebihi aspek apapun termasuk ekonomi.

Hal itu sebagaimana ditegaskan Rasulullah shalallahu ‘Alaihi wasallam dalam sabdanya. “Hilangnya, lebih ringan bagi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.”(HR nasa’i). Juga Firman Allah sunhanahu Wa Ta’ala yang artinya, ” Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya,” (TQS Al Maidah [5]:3)

Lebih daripada itu, Islam merupakan Din yang sempurna ( sistem kehidupan), dan negara (khilafah) adalah bagian darinya. Hal ini menjadikan negara berfungsi secara sehat dan penguasanya hadir dengan karakter yang kuat sebagai pemelihara urusan rakyat, Termasuk kesehatan dan keselamatan jiwa ketika terjadi wabah.

_Wallahu a’lam bishshowab_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *