Peradaban Agung Lahir dari Generasi Emas

Oleh : NS. Rahayu

Miris! Liberalisme saat ini sudah mengarah pada penghancuran peradaban. Bagaimana tidak, Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim ini mulai kehilangan identitas dirinya karena maraknya kerusakan moral. Tingginya kasus kriminalitas, miras hingga narkoba. Tidak hanya di kota-kota besar bahkan telah merambah kota-kota kecil.

Ponorogo merupakan kota kecil yg jauh dari ibu kota ditambah kota ini dikenal dg kota seribu pesantren bukan berarti bisa bebas dari kerusakan moral terutama narkoba. Jika kita lihat data yang beredar di media online maupun cetak, ponorogo merupakan kabupaten yang tinggi terkait kasus narkoba dan miras. Ironis sekali.

Sebagaimana dilansir Jatimnet.com (20/10/20) :

Kepolisian Resor Ponorogo mengungkap 28 kasus tindak kejahatan dengan total 34 tersangka yang diamankan. Sebanyak 18 tersangka merupakan pelaku tindak kriminal dan 16 tersangka kasus narkoba. Kapolres Ponorogo AKBP Arief Fitrianto menilai peredaran narkoba di Ponorogo masih tinggi karena banyak tersangka yang tertangkap.
Dan yang dilansir jatimnow.com (12/3/20) :
Satnarkoba Polres Ponorogo dan jajaran menangkap 19 pelaku pengedar narkoba dan arak jowo (arjo) selama kurun waktu hingga bulan Maret 2020. Polisi turut mengamankan barang bukti (BB) terdiri dari 27.610 butir double L, 1.6 gram sabu dan 21.5 liter arak jowo (arjo).

Melihat tingginya peredaran miras dan narkoba disebabkan adanya hukum sebab akibat, ada permintaan (pengkomsumsi) maka ada penawaran (penyuplai) membuat kota santri ponorogo terkena imbasnya. Hal ini tak lepas oleh pengaruh kehidupan liberal yang semakin bebas diadopsi oleh negeri ini. Sehingga para remajanya menggandrungi kehidupan bebas tanpa aturan agama yang justru mengarah pada meningkatnya kerusakan moral dan akal.

Namun justru kerusakan yang disebabkan miras dan narkoba dianggap sebagai kenakalan remaja biasa. Sedangkan remaja yang rajin ke masjid dan mengikuti kajian senantiasa dilabeli dengan radikalisme dan diawasi aktivitasnya.

Kerusakan yang menjamur ini terjadi; selain didorong oleh faktor eksternal (misal : lingkungan dan pergaulan yang salah), juga dipengaruhi oleh faktor internal yaitu keluarga. Ponorogo merupakan kota yg tertinggi pula tingkat penceraiannya.

Sebagaimana yang dilansir beritajatim.com (22/1/20) :
Sepanjang tahun 2019 lalu, Pengadilan Agama (PA) Ponorogo mencatat ada 2952 perkara perceraian yang masuk. Perkara sudah diputus oleh PA Ponorogo sebanyak 2805 dengan rincian 1513 diantaranya merupakan cerai gugat. Sedangkan 592 perkara merupakan cerai talak. Artinya dalam tahun lalu yang dominan mengajukan permohonan perceraian dari pihak perempuan. Faktor ekonomi menyumbang paling tinggi penyebab perceraian tersebut. Diperingkat kedua penyebab perceraian adalah hadirnya pihak ketiga.

Tingginya angka perceraian disebabkan oleh banyak hal salah satunya dari faktor ekonomi dan perselingkuhan sehingga jelas bahwa intitusi keluarga muslim semakin hari semakin tergerus oleh kapitalis liberal. Yang pasti keluarga broken home mengakibatkan anak tak memiliki pegangan.

Keluarga yang seharusnya menjadi benteng pertahanan generasi (remaja) sebagai ujung tonggak bangkitnya peradaban dikoyak-koyak dalam sistem kapitalis liberal. Bagaimana tidak terkoyak ketika sistem memaksa ibu-ibu yang harusnya menjadi al umm wa rabatul bait (ibu dan pengatur rumah tangga) keluar dari rumah demi menutupi kebutuhan hidup yang kian mahal.

Kerusakan keluarga ini hanya bisa diselesaikan dengan solusi islam. Islam sangat mengatur bagaimana seharusnya rumah tangga itu dibentuk dimana aqidah Islam yang menjadi dasar berkeluarga. Ada hak dan kewajiban suami dan istri yang harus dijalankan, ada visi misi yang hendak diraih bersama (suami, istri dan anak2) yaitu ridlo Allah, SWT.

Islam juga mengatur bagaimana kehidupan remaja. Dengan memiliki keluarga yang menjadi tameng (perlindungan) remaja akan mempunyai pijakan yang kuat dari gerusan kapitalis liberalis. Namun itu belum cukup karena peran Negara sebagai junnah (perisai) bagi individu, keluarga dan masyarakat dari gempuran peradapan asing sangat penting. Sehingga bisa membentuk ketahanan keluarga yang sesungguhnya dan mampu membentuk remaja menjadi generasi emas pembangun peradaban islam yang agung. Wallahu’alam bishawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *