Penistaan Agama Kapan Usai?

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh: Agung Andayani

 

Negeri-negeri pengemban kapitalis demokrasi memiliki ciri khas menggaungkan freedom/kebebasan dimana saja berada. Seperti kebebasan berekspresi, kebebasan berpendapat dan kebebasan beragama. Sayangnya kebebasan yang dibanggakan ini justru digunakan untuk menistakan agama. Dengan dalil atas nama kebebasan berekspresi maupun kebebasan berpendapat.

Pilu memang, di negeri yang mayoritas berpenduduk muslim, namun, agama Islam lah yang sering dinistakan dan dinodai. Seperti menistakan Allah SWT, Nabi Muhammad SAW, Al Quran, dalam gerakan sholat, ajaran Islam, dan sebagainya. Yang membuat tambah pilu adalah mayoritas pelakunya berKTP agama Islam. Di lapangan kasus penistaan agama dari tahun ke tahun terus meningkat. Puncaknya terjadi pada tahun 2020, yaitu ada 20 kasus. Dan ada 51 kasus penistaan agama Islam dalam 10 tahun terakhir dan mayoritas pelaku berasal dari agama Islam yaitu 56,7 persen. (kumparanNEWS, 27/08/21).

Hal tersebut membuat aktivis dan pegiat media sosial, Nicho Silalahi menyampaikan pesan kepada umat Islam, khususnya mengenai penghinaan kepada Nabi Muhammad SAW. Nicho Silalahi menilai bahwa “selama Umat Islam diam, maka pelecehan dan penghinaan kepada keyakinan mereka akan terus terjadi”. Ia mengatakan ini saat merespons pegiat media sosial, Helmi Felis yang mengkritik keras Joseph Suryadi yang diduga menghina Nabi Muhamamd SAW.(makassar.terkini.id, 15/12/21).

Inilah hasil penerapan sistem kapitalis pengusung kebebasan. Dimanapun sistem kapitalis diterapkan disitu akan kita dapati kasus-kasus penistaan penodaan agama. Sebab aqidahnya adalah memisahkan agama dari kehidupan. Dimana agama tidak boleh memiliki peran atau ikut campur mengurusi kehidupan bermasyarakat maupun bernegara. Maka kita akan melihat masyarakat yang individualis dan sekuler.

Oleh karena itu sistem kapitalis sekuler ini tidak bisa kita andalkan untuk melindungi dan menjaga agama. Terutama menjaga aqidah agama Islam. Adakah sistem yang bisa menjaga dan melindungi agama? Jawabnya ada yaitu sistem Islam. Sistem Islam warisan Nabi Muhammad SAW telah berhasil di emban selama kurun waktu belasan abad. Dan terbukti mampu menjaga agama. Negara yang menerapkan sistem Islam akan menutup semua sarana dan prasarana yang memicu penistaan agama. Selain itu jika masih didapati pelaku penodaan dan penistaan agama maka negara akan menetapkan hukuman yang dapat memberikan efek jera.
wallahu a’lam bishawab.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.