Penista Agama Tumbuh Subur dalam Liberalisme

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh : Nabila Sinatrya

 

Penistaan terhadap agama islam kembali terjadi, tentu ini yang ke sekian kali. Beredarnya video seorang pendeta Saifudin Ibrahim yang meminta kemenag untuk menghapus 300 ayat Al-Qur’an karena dianggap sebagai pemicu intoleran dan radikalisme, ia juga mengatakan bahwa munculnya terorisme berasal dari pesantren. Hal ini memicu kegaduhan di ruang publik karena pernyataannya memicu konflik SARA.

Dilansir dari www.cnnindonesia.com/23-03-2022 Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo mengatakan bahwa Polri berkoordinasi dengan atase di Biro Investigasi Federal (FBI/The Federal Bureau of Investigation), Kementerian Luar Negeri dan Direktorat Jenderal (Ditjen) Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) untuk mendalami keberadaan Saifuddin. Ia diduga melanggar Pasal 45A ayat (2) Jo Pasal 28 Ayat (2) UU No. 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU No. 11 Tahun 2008 Tentang ITE dan/atau Pasal 156 KUHP dan/atau Pasal 156a KUHP dan/atau Pasal 14 ayat (1), ayat (2) dan/ atau Pasal 15 UU No. 1 tahun 1946 tentang Peraturan hukum Pidana.

Memang pada akhirnya sebagian dari penista agama dihukum dan dipenjarakan, tapi tak sedikit dari para penista agama hanya mengucapkan kata maaf dan terus mengulanginya dan ini mengkonfirmasi bahwa proses hukum belum mencerminkan wajah keadilannya. Selain itu penyebab mendasar menjamurnya penistaan agama ini adalah karena menganut paham kebebasan (liberalisme). Dimana setiap manusia memiliki kebebasan berekspresi, kebebasan berpendapat, kebebasan bertingkah laku dan sebagainya.

Paham liberalisme ini muncul ketika peradaban barat membawa sekularisme masuk ke dalam tatanan hidup masyarakat sehingga memiliki cara pandang bahwa agama harus dipisahkan dari kehidupan. Akibatnya perlindungan terhadap kehormatan agama dan setiap pemeluknya tidak mendapat jaminan. Marah karena agamanya dihina, bisa dianggap berlebihan, sedangkan undang-undang penodaan agama tidak cukup efektif menangkal penghinaan terhadap Islam.

Hal ini bertolak belakang dengan keadaan ketika Islam diterapkan dalam naungan khilafah, selama kurang lebih 13 abad, kesucian dan kehormatan Islam sebagai agama benar-benar terjaga. Masyarakat yang hidup di dalamnya saling menghormati antar umat beragama, sebagaimana firman Allah SWT “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku” (TQS Al-Kafirun : 6). Tidak mencampuri keyakinan agama lain adalah bentuk dari toleransi. Islam memiliki sikap tegas dan jelas pada pelaku penistaan agama. Pada masa Khalifah Umar bin Kaththab ra., beliau pernah mengatakan, “Barang siapa mencerca Allah atau mencaci salah satu Nabi, maka bunuhlah ia!” (Diriwayatkan oleh Al-Karmani rahimahullah yang bersumber dari Mujahid rahimahullah.

Pernah terjadi pada masa kepemimpinan Khalifah Abdul Hamid II, pelecehan terhadap Nabi Muhammad saw. oleh orang-orang Perancis melalui teater yang mereka gelar. Khalifah Abdul Hamid II kemudian memanggil duta besar Prancis untuk meminta penjelasan atas hal tersebut. Beliau berkata pada duta Prancis, “Akulah Khalifah umat Islam, Abdul Hamid! Aku akan menghancurkan dunia di sekitarmu jika kamu tidak menghentikan pertunjukan tersebut!” (muslimahnews.net/ 19/03/2022). Begitulah gambaran ketika Islam dijadikan sebagai landasan negara dalam naungan Khilafah, kehormatan dan kemuliaan Islam akan terjaga. Wallahu a’lam bishawab.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.