Penguasa Juga Butuh Adab Bukan Melulu Pencitraan.

Oleh: Nahdoh Fikriyyah Islam (Dosen dan Pengamat Politik)

 

Adab lebih tinggi dari ilmu. Adab dulu baru ilmu. Begitulah kalimat yang menjadi naasehat dalam Islam. Sebelum mendapatkan ilmu, generasi salafus saleh terlebih dahulu diberi adab oleh para guru maupun orangtua kemudian menimba ilmu. Adab tidak boleh diabaikan dalam diri seorang muslim.

Ironisnya, adab kini telah menjadi sesuatu yang hampir punah. Manusia berlomba-lomba mencari ilmu setinggi-tingginya tetapi lupa mengawalinya dengan adab terlebih dahulu. Karena tujuan mencari atau menimba ilmu di zaman modern ala Barat ini adalah meraih materi. Baik pekerjaan dengan gaji yang menggiurkan maupun jabatan yang ditawarkan. Jika seseorang punya ilmu dalam artian memiliki ijazah sebagai pertanda ia pernah menuntut ilmu secara formal, alangkah sayangnya jika tidak mampu memiliki pekerjaan dari ilmu tersebut. Begitulah pandangan masyarakat hari ini.

Ketika mereka yang memiliki ijazah pendidikan dan menjadi pejabat  daerah maupun negara, tentulah mereka mayoritas orang-orang yang berilmu di bidangnya. Idealnya begitu. Namun fakta menunjukkan, tidak semua pejabat memiliki ilmu dalam jabatan yang dipimpinnya. Tetapi anggap saja mereka bisa belajar kemudian hari. Tidak masalah. Menuntut ilmu bisa kapan saja dan dimana saja.

Sayangnya, gambaran nyata menunjukkan bahwa para pejabat atau penguasa hari ini, sekalipun orang-orang yang dianggap berilmu, tetapi masih jauh dari adab. Bukan rahasia umum lagi, jika pejabat atau penguasa ingin ditemui rakyatnya, sulitnya luar biasa. Ketika sudah bertemu, terkadang bicara juga ogah-ogahan bahkan dengan bahasa arogan seperti tidak butuh lagi pasca kampanye.

Padahal saat suara rakyat dibutuhkan, mereka berlagak bak pahlawan dan malaikat penolong dengan seribu aksi pencitraan. Setelah yang didapat sudah ada di tangan, good bye! Dan hal itu sudah lumrah bahkan membudaya di negeri ini.

Tidak terkecuali seorang kepala negara yang seharusnya memiliki adab tinggi dan patut dicontoh oleh jajarannya serta rakyatnya. Bukan memperlakukan rakyat terhina apalagi dianggap tidak perlu  menunjukkan adab. Seolah-olah menunjukkan bahwa jabatan adalah pembeda manusia yang besar dan kecil.

Seperti berita yang dikabarkan sekitar minggu lalu terkait polemik kerumunan warga karena kedatangan Presiden memantau vaksinasi secara langsung. Dan yang jadi sorotan selain kerumunan ditengah wabah adalah pembagian kaos oleh Presiden yang konon dilempar keluar hingga ada yang sampai telah jatuh ke parit (CNN Indonesia, 03/09/2021) Sebelumnya hal yang sama juga pernah terjadi saat membagikan buku pada warga yang dilempar dari mobil.

Memang bukan hanya kejadian pada Presiden itu saja, namun sudah banyak terjadi. Peristiwa pencitraan seperti bagi-bagi sembako yang berdesak-desakan, panas-panas hingga menyebabkan warga pingsan juga sudah sering terjadi. Warga rela mengorbankan dirinya demi mendapatkan sembako meskipun harus bertarung dengan kesehatan dan bahkan nyawanya bagi yang sudah berusia lanjut.

Tetapi kelihatannya, cara pembagian sembako  seperti itu terus diulang-ulang. Kenapa tidak mencari jalan lain untuk membagi sembako yang lebih efektif dan efisien? Serta kehormatan dan keselamatan warga dapat terjaga? Tidak adakah rasa empati para pejabat atau penguasa negeri ini melihat warganya menderita antri desak-desakan?

Sebagai pejabat dan penguasa yang masih berstatus seorang Muslim, harusnya mengindahkan adab dalam melayani rakyatnya. Bukan sekedar memenuhi catatan kebaikan dari hasil pencitraan yang sebenarnya tidak akan berbuah pahala. Padahal, santunan seperti sembako atai pakaian yang dibagi oleh pejabat atau penguasa adalah bagian dari ri’ayah umat. Dan termasuk kewajiban pemimpin.

Jika kewajiban dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab serta beradab, maka pahala akan mengalir dan menjadi amal shaleh. Seperti halnya kewajiban yang lain, semisal shalat, zakat, menuntut ilmu, bekerja bagi laki-laki dan sebagainya memiliki adab-adab di dalamnya.

Apalagi dalam sistem demokrasi yang dipakai negeri ini. Bukankah para penguasa menduduki jabatan mereka karena rakyatlah yang mengantarkannya? Tentu sangat wajar jika mereka yang menjabat hasil pilihan rakyatnya bersikap sangat beradab dan memuliakan warganya. Jangan hanya meminta dukungan, lalu men-setting drama pencitraan agar terlihat peduli dan merakyat. Setelah itu rakyat ditinggalkan, diabaikan dan dianggap sepele bahkan diberlakukan tidak beradab main lempar-lempar saja.

Itulah realitas wajah pejabat atau penguasa di sistem demokrasi-kapitalis. Hanya memandang manusia tinggi rendah dari jabatan atau kedudukan dan materi. Pejabat atau penguasa dianggap raja  sementara rakyat hanya dijadikan ladang pencitraan. Sangat berbanding terbalik dalam sistem Islam yang pernah tegak selama lebih 13 abad. Para pemimpin dan pejabat negaranya telah menjadi contoh bagi dunia bagaimana cara memuliakan rakyat.

Mereka adalah orang-orang yang berilmu dan menjunjung tinggi adab. Serta orang-orang yang shaleh. Karena mereka memegang prinsip sunnah-sunnah Rasulullah SAW dalam memimpin. Serta menjadikan syariat Islam dalam genggamannya. Islam mengajarkan bahwa pemimpin, penguasa atau pejabat negara adalah pelayan ummat.

Namanya pelayan, harus melayani dengan baik dan menjunjung adab. Ilustrasi sederhananya, seorang pembantu dalam rumah tangga atau pelayan di restoran, melayani tuan dan tamunya dengan ekstra hati-hati. Baik ucapan maupun perbuatannya. Begitulah sejatinya pemimpin sebagai pelayan rakyat.

Ketika ingin membagi sembako atau pakaian, ada contoh teladan khalifah Umar bin Khattab yang sangat luar biasa adabnya tetapi wibawanya tetap terjaga. Umar tidak pernah mengumpulkan rakyatnya berdesakan antri menunggu pembagian sembako apalagi melempar pemberian. Tetapi Umar selalu blusukan tiap malam demi memastikan tidak ada warga yang kelaparan. Seperti dalam alkisah ketika Umar menemui seorang ibu yang memasak batu tengah malam.

Umat tidak menyuruh ajudannya untuk memanggill ibu tersebut lalu menemui Umar. Apalagi berdesak-desakan. Umar malah mengambil sendiri sembako, membawanya sendiri bahkan memasaknya sendiri untuk keluarga tersebut. Itu seorang Umar. Kepala Negara yang dijamin masuk surga. Betapa tinggi adabnya memuliakan warganya bukan?

Begitulah pemimpin yang lahir dari sistem Islam. Karena dibekali ketaqwaan yang tinggi dan ilmu yang luas serta sangat menjunjung adab. Pencitraan tidak dibutuhkan karena semua yang harus dilakukan oleh penguasa dalam mengurusi urusan rakyatnya adalah bagian kewajiban. Jika ia lalai, maka dosa dan pertanggungjawaban kelak dihadapan Allah akan ia temui. Wallahu a’lam bissawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *