PENEMBAKAN MASSAL GUNCANG AMERIKA, TANDA MASYARAKAT SAKIT

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Oleh : Ummu Faiha Hasna (Pena Muslimah Cilacap)

 

Kasus penembakan massal di Amerika Serikat sudah menjadi kasus yang biasa terjadi. Bahkan hingga saat ini kasus semacam itu belum menemukan titik terang, yang ada, jumlah kasus semakin sering terjadi. Dalam sebulan terakhir saja, sudah terjadi empat kali penembakan massal di tempat publik. Insiden terbaru terjadi pada Sabtu, 14 Mei di Supermarket Tops Friendly Market yang ada di lingkungan orang kulit Hitam di Buffalo, negara bagian New York. Aksi yang diduga bermotif kebencian rasial ini menewaskan 10 orang dan pelakunya adalah remaja kulit putih berusia 18 tahun. Sehari setelah penembakan massal menewaskan 10 orang di supermarket di Buffalo, negara bagian New York, Amerika Serikat (AS), insiden penembakan kembali terjadi di sebuah gereja di California pada Minggu (15/5).

Seorang pria bersenjata melepaskan tembakan di Gereja Geneva Presbyterian di kota Laguna Woods, sekitar 80 kilometer tenggara Los Angeles, menewaskan satu orang dan melukai lima lainnya, menurut keterangan Departemen Kepolisian Orange County di Twitter. (Merdeka.com,16/5/2022)

Di bulan April lalu juga terjadi kasus serupa pada hari selasa 12 April 2022 pagi waktu setempat terjadi aksi penembakan brutal di stasiun kereta bawah tanah di New York AS. Selang beberapa hari setelahnya yaitu pada Sabtu, 16 April 2022, juga terjadi insiden penembakan massal di sebuah Mall yang ramai di Colombiana Centre, sembilan orang terluka dan lima mengalami cedera ketika berusaha menyelamatkan diri. Keesokan harinya pada 17 April 2022 juga terjadi penembakan massal di sebuah klub berjarak sekitar 145 km dari Mall tersebut. Aksi tersebut terjadi pada dini hari di klub malam dan menyebabkan sedikitnya sembilan orang yang luka, bahkan di hari yang sama kasus serupa juga terjadi di Kota Pittsburgh Pennsylvania. Penembakan tersebut terjadi di sebuah rumah yang mengadakan pesta. Insiden itu menyebabkan dua orang di bawah umur tewas dan sedikitnya 31 orang cedera. Penembakan tersebut didahului dengan adanya perselisihan yang terjadi sekitar tengah malam. Insiden ini tentu semakin menambah panjang daftar kasus penembakan massal di negeri Paman Sam. Seorang profesor ilmu kriminal di University of Alabama, Adam Lank Ford, mengatakan fenomena kejahatan ini lebih parah terjadi di AS karena mudahnya memperoleh senjata api dibanding negara lainnya di dunia. Adalagi banyak senjata di AS dibanding negara lainnya di seluruh dunia. Diperkirakan 207 juta hingga 310 juta senjata api bersirkulasi di pasar AS. Dengan populasi 319 juta jiwa. Berarti setidaknya satu warga AS memiliki satu senjata api di Amerika Serikat. Kepemilikan senjata api dilindungi secara konstitusional . Namun, pembunuhan termasuk pembunuhan massal yang dilakukan dengan senjata api sangatlah umum. Sejauh ini tingkat pembunuhan dengan senjata api di AS merupakan yang tertinggi diantara negara – negara maju, sebagaimana dilaporkan Britania Raya. Anehnya, sekalipun sudah memakan banyak korban , kepemilikan senjata di negeri ini masih tetap dipertahankan. Dengan klaim kepemilikan senjata bisa juga membuat warga negara yang taat hukum mampu membela diri terhadap penjahat bersenjata. Perdebatan mengenai kepemilikan senjata api di AS pun dengan pembatasan kepemilikannya tak pernah berhenti hingga kini masih terjadi.

Sederet kasus ini sebenarnya adalah refleksi dari kebuntuan mencari solusi antara aksi kriminal penembakan massal yang bertemu dengan kebebasan memiliki senjata. Masyarakat Amerika Serikat adalah masyarakat yang sakit, karena pemikiran, perasaan, dan sistem yang mengatur mereka adalah sistem yang rusak. Akidah sekuler kapitalis yang diambil oleh Amerika sebagai ideologi yang mereka yakini dan jalankan. Padahal ideologi ini adalah ideologi yang merusak dan merusak. Sekularisme menjadikan manusia memisahkan agama dari kehidupan . Efeknya, manusia akan berbuat sesuka hati menurut kenyamanan dan keinginan mereka sendiri. Dari mindset ini pula lahir paham kapitalisme yang berorientasi pada manfaat semata. Alhasil, masyarakat mudah membunuh tanpa alasan hanya karena masalah sepele atau hanya untuk bersenang – senang. Nyawa manusia tidak ada harganya sama sekali sedangkan industri senjata tentu tidak ingin kehilangan konsumen mereka. Negara juga tidak bisa bertindak lebih, karena kapitalisme menjadikan para korporat adalah pemegang kekuasaan sesungguhnya. Oleh karena itu, Amerika Serikat tidak layak menjadi kiblat dunia dalam membangun masyarakat. Sekuler kapitalis yang mereka emban membuat masyarakat sakit dan negara gagal memberi solusi atas problem warganya.

Sangat berbeda dengan sistem ideologi Islam yang secara praktis terwujud dalam sebuah negara yang disebut Daulah Khilafah. Orientasi Daulah Khilafah dalam membangun masyarakat bukanlah asas kebebasan seperti yang dijamin oleh sekuler kapitalis. Khilafah akan membangun masyarakat dengan syariat Islam sehingga pemikiran, perasaan dan peraturan yang terbentuk akan dipengaruhi oleh Islam. Islam memandang bahwa menghilangkan nyawa tanpa hak adalah perbuatan dosa. Maka, baik masyarakat ataupun negara akan bekerja sama saling menjaga nyawa(Hifdz an nafs), masyarakat melakukan dakwah di tengah – tengah mereka tidak akan membiarkan satu darah tertetes tanpa alasan yang dibenarkan syariat. Sedangkan negara akan menerapkan sistem sanksi qishas bagi yang melanggar aturan tersebut. Tak perlu ada kepemilikan senjata , karena dari sistem sanksi itu akan menimbulkan efek Jawabir dan Zawajir . Sebagai Zawajir akan mencegah masyarakat berbuat kejahatan. Masyarakat yang menyaksikan hukuman qishas bagi pelaku pembunuhan akan merasa ngeri. Sedangkan sebagai Jawabir akan menebus dosa pelaku di akhirat dan membuat pelaku jera. Alhasil, penembakan massal sangat mudah diselesaikan jika sistem yang mengatur masyarakat itu adalah Khilafah. Wallahu a’lam bishawab.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.