Penderitaan Rakyat Yang Berlanjut

Oleh : Fastaghfiruu IlaLlah

 

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat Jawa-Bali telah diperpanjang. Akan tetapi kebijakan ini belum membawa perubahan dalam menekan laju penyebaran virus Covid 19. Bahkan tak terkendali dan jauh dari kondisi aman. Selain tidak menunjukan hasil yang signifikan, pembatasan paksa pemerintah ini telah membawa penderitaan rakyat.

Rakyat semakin tertekan menghadapi pembatasan gerak. Sekat sana sekat sini, usaha kecil dilumpuhkan, lapak di obrak abrik serta kebijakan ketat didaerah yang tak jelas protokolnya. Rakyat kecil yang bekerja sebagai tukang tambal ban, tukang service hp, service jam, pedagang kaki lima, termasuk yang dibatasi geraknya selama PPKM, padahal mereka adalah para tulang punggung keluarga yang mengais nafkah ditengah himpitan ekonomi dan ganasnya pandemi.

Pertambahan kasus positif Covid-19 dan kematian harian terus meningkat. Fasilitas kesehatan dan rumah sakit rujukan nyaris kolaps. Tenaga kesehatan banyak yang berguguran. Para Ulama pun banyak yang dipanggil mendahului kita. Testing pada rakyat masih jauh dari yang ditargetkan. Vaksinasi pun menunai banyak kontroversi. Sungguh Ibu Pertiwi tengah di rundung duka.

Kebijakan setengah hati dari pemerintah yang menambah situasi runyam dan bukannya menciptakan situasi yang kondusif jelas bertentangan dengan Syariah Islam karena didalamnya terdapat kedzaliman diantaranya yang terjadi bukan hanya melarang atau membatasi aktivitas warga dengan himbauan semua dikerjakan dari rumah. Tapi, pemerintah tidak berani memenuhi kebutuhan rakyat sehingga para tulang punggung keluarga nekat tetap turun ke jalan.

Disamping itu, kedzaliman yang terjadi pemerintah tidak menutup gerbang masuk kedatangan warga negara asing. Sungguh realita yang menyayat hati ketika rakyat didenda berjuta-juta, dibentak saat tengah mengais rezeki di tengah PPKM darurat. Sementara WNA dibiarkan melenggang bebas masuk. Padahal, kita ketahui bersama virus Covid 19 ini bukan berasal dari Bogor, Surabaya atau Bojonegoro (Indonesia). Sayangnya, pemerintah berat untuk menutup pintu kedatangan warga negara asing.

Padahal tugas pemerintah adalah meriayah rakyatnya dan yang mendzalimi rakyatnya haram masuk surga serta bertempat di neraka sebagaimana hadist Nabi :
“Tidaklah seorang hamba yang diserahi Allah untuk memimpin rakyat, lalu ia meninggal dalam keadaan curang terhadap rakyatnya, kecuali Allah haramkan masuk surga” (HR. Bukhari-Muslim).

Karenanya diperlukan penerapan Syariah yang benar dan menyeluruh dibidang pemerintahan sehingga amanah terlaksanakan ditambah keimanan yang kokoh dalam diri. Para pemimpin muslim akan serius meriayah rakyat. Menjaga betul kondisi setiap rakyatnya. Bahkan, bisa jadi mengabaikan kondisi ekonomi negeri sebentar asal rakyat dapat diriayah dengan baik dan benar. Sebagaimana yang terjadi saat masa Umar bin Abdul Aziz.

Tinta kegemilangan mencatat sejarah bahwa di masa Umar bin Abdul Aziz tak ada seorang pun yang berhak menerima zakat. Sampai para pegawai negeri harus bersusah payah mencari ke penjuru negeri namun hasilnya tetap tak ada seorang pun yang berhak menerima zakat. Sampai akhirnya zakat digunakan membayarkan utang rakyat dan membebaskan budak.

Islam memerintahkan lockdown dalam menghadapi pandemi, akan tetapi pemerintah yang alergi dengan lockdown karena takut membuat negara rugi justru harus bersusah-susah menghentikan laju pandemi. Bukankah itu juga harus dievaluasi. Jika saja sejak awal opsi lockdown di ambil. Juga mindset memenuhi kebutuhan rakyat tidak dipandang sebagai beban tapi sebagai kewajiban atas amanah yang diberikan. Mungkin pandemi takkan berkepanjangan.

Inilah realitas jika Syariah Islam tidak diterapkan. Pertimbangan untung rugi yang didahulukan akibatnya pandemi berkepanjangan, anggaran untuk pandemi terus meningkat, walhasil bukannya untung tapi malah buntung. Akan berbeda hasilnya ketika Islam diterapkan, Pertimbangan riayah rakyat dilakukan, pandemi tidak berkepanjangan dan ekses terhadap ekonomi tidak separah sekarang.
Berharap perubahan di sistem saat ini bagai pepatah jauh api dari panggang.

Wallahu a’lam bishshawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *