Penanganan Covid-19, Serius-kah?

Oleh: Wirianti Lubis (Aktivis Muslimah Kendari )

Covid-19 atau virus corona, akhirnya singgah di Indonesia juga. Ini menampik pernyataan pemerintah bahwa Indonesia bebas corona. Sudah mulai satu persatu kasus yg muncul, dan hingga saat ini sudah mencapai 172 kasus per 17 Maret 2020, itupun yang terdata, dan meninggal sebanyak 7 orang (m.detik.com).

Penguasa Tak Gerak Cepat

Di banding dunia di luar China, Indonesia malah masuk urutan ke-2 kasus meninggal dibawah Italia. Lambannya pemerintah mengantisipasi hal ini bukan saja karena kekurang sigapan aparat, tapi lebih cenderung ragu tuk mengambil keputusan. Pihak istana kepresidenan mengatakan status penanganan virus corona di Indonesia tak perlu dibenturkan dengan saran yang disampaikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kepada Jokowi. Istana menegaskan status penanganan corona saat ini sudah lebih dari cukup.

Status resmi Indonesia saat ini adalah “status keadaan tertentu darurat bencana wabah penyakit akibat virus corona”, Doni Monardo (Kepala BNPB) menetapkan status. Surat keputusan diperpanjang sampai tanggal 29 Mei 2020, ujarAgus Wibowo Soetarno (kepala Pusat Data, Informasi dan humas BNPB).

Jangankan untuk me’lockdown’ Indonesia, hingga saat ini pun status darurat Nasional belum ditetapkan. BNPB tidak berhak melakukannya karena status ini hanya hak dan wewenang Presiden ( UU no 23. (m.detik.com 18/03/2020). Sungguh, negeri ini seakan tak punya pemimpin. Rakyat menyelamatkan diri masing-masing. Padahal virus ini menyebar dengan begitu cepat.

Covid 19 Mewabah. Saatnya Kembali Kepada Sang Pencipta

Bagaimana sikap kita menghadapi serangan virus covid-19 ini?
Sebagai manusia yang beragama, terlebih mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim, kita tetap melandaskan semuanya kepada aturan Allah melalui utusanNYA junjungan kita Rasulullah Muhammad SAW. Bencana ini memang menakutkan, tapi janganlah kita menempatkannya melebihi takut kita kepada Allah Azza Wajalla.

Rasulullah dan para sahabatnya telah mencontohkan kepada kita dalam menyikapi wabah penyakit. Jika wabah itu ada di suatu daerah, maka jangan orang luar datang ke daerah tersebut dan jangan orang di daerah tersebut keluar dari daerahnya. Ini maksudnya adalah mengisolasi atau menutup akses masuk dan keluar daerah tersebut. Jadi seyogyanya pemerintah jangan ragu untuk me ‘lockdown’ Indonesia sebelum banyak yang jatuh korban.

Di Indonesia, warga daerah sendiri, hendaklah memahami tugas dan tanggung jawabnya masing-masing, untuk yang masih sehat, jaga kesehatan tubuh, kebersihan dan teruslah waspada saat kontak dengan orang lain. Bagi yang datang dari luar daerah terutama daerah yang sudah ada kasus, hendaklah secara sadar mengisolasi diri sendiri untuk tidak dulu kontak atau keluar rumah selama 14 hari guna meyakinkan bahwa virus itu tidak dibawa atau terjangkit padanya. Dan bagi yang sudah dicurigai dengan tanda-tanda umum maka periksa ke dokter, pakailah perlengkapan agar anda tidak menularkan virus pada orang di sekitar anda dengan memakai masker dan sarung tangan. Karena bukan orang sehat yg harus sangat dijaga saja tapi orang yang sudah terpaparlah yang harusnya sadar agar dia jangan menularkan. Masa istirahat hingga per 2 pekan jangan membuat masyarakat jadi ambil kesempatan untuk jalan-jalan. Berdiam dirilah di rumah masing-masing, keluar jika da keperluan mendesak. Ini yang dapat kita lakukan untuk menghindari penyebaran wabah.

Hal lain yang harus kita lakukan yang tidak kalah penting adalah muhasabah diri akan apa yang sudah kita lakukan karena Allah sangat baik pada hambaNYA. Bisa jadi wabah ini untuk menyadarkan kita akan kesombongan yang telah kita lakukan, baik itu pemerintah, pemimpin maupun rakyatnya. Aturan Allah yang sudah banyak kita ubah, termasuk menyepelekan hal-hal wajib dan sunnah dikalangan umat. Sehingga bisa jadi kita mendudukan aturan manusia di atas aturan Allah. Kesombongan bahwa kita bisa selesaikan semua tanpa mengharap bantuan NYA, bahwa kita lah yang mampu mengatur urusan kita sendiri dan lain-lain.

Al Qur’an sudah memperingatkan kita semua :
“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendilri , semuanya telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan NYA kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS Al Hadid (57):22-23).
Jikalau sekiranya penduduk negri-negri tersebut beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. (QS Al A’raf(7):96)
Wabah yang ditimpakan Allah kepada kita bisa jadi cara Allah menegur kita semua untuk kembali menerapkan aturanNYA, karena keputusan pemimpin yang salah bisa berakibat bencana untuk rakyatnya. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *