Pemimpin yang Merakyat? Betulkah?

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh: Rini Fahmi (Santri Ma’had Darul Bayan Sumedang)

 

MERAKYAT, adalah kata yang kerap kali terdengar di tengah-tengah masyarakat setiap pemilu berlangsung. Berbagai slogan, iklan yang menjurus pada pembangunan citra merakyat yang dilekatkan kepada para calon-calon pemimpin, yang menyiratkan sebuah kesimpulan bahwa para calon memiliki konstitusi yang merakyat.

Berbicara pemimpin yang merakyat, tentu mesti ada ukuran alias timbangan, dan kita selaku rakyat harus mempertimbangkan untuk menghasilkan sebuah kesimpulan apakah pemimpinnya benar-benar merakyat atau hanya pura-pura belaka, karena pada umumnya pemaknaan ini berpotensi menimbulkan pembohongan dan penipuan publik. Pada akhirnya, secara subyektif, sang rezim mengklaim bahwa dirinya merakyat. Tapi secara obyektif dan kolektif, rakyat tak sama sekali merasakan bahwa sang pemimpin adalah pemimpin yang merakyat.

Sejatinya, pemimpin merakyat bukanlah pemimpin yang sering mengklaim dirinya merakyat dengan mengatakan “Aku cinta rakyat”, “Aku membela kepentingan rakyat”, “Jiwa dan raga, kukorbankan untuk rakyat”, dan lain sebagainya. Tetapi semua itu sama sekali tidak menjadi tolak ukur bahwa seorang pemimpin benar-benar merakyat, karena faktanya semua yang disampaikan hanyalah retorika semata, omong kosong yang tak berarti apa-apa, melihat dari kenyataan sikap yang ditunjukkan saat memimpin tak sama sekali memihak pada rakyat, bahkan malah menindas dan menyengsarakan rakyat.

Hal lain yang perlu digarisbawahi, pemimpin juga bukanlah pemimpin yang sekedar dekat dan banyak memberi pada ‘rakyat kecil’ dengan latar belakang pencitraan. Nah, pada poin ini terdapat hal lain yang mesti kita perhatikan terkait apa latar belakang pemberian itu? Dan dari mana asalnya? Bila latar belakang pemberiannya itu keliru dan sumber pemberiannya berasal dari sesuatu yang berbahaya seperti hutang luar negeri dengan bunga yang besar, atau transaksi besar yang merugikan negara, maka itu hanya akan menambah beban di masa yang akan datang, bahkan mengancam jatuhnya negara ke tangan Asing. Pemimpin seperti itu mirip seperti Robin Hood, yang mensejahterakan kaumnya dengan harta yang sumbernya tidak dapat mendatangkan keberkahan.

Islam sebagai agama sekaligus ideologi memiliki pandangan yang khas tentang makna dari merakyat. Merakyat dalam Islam tak sekedar memberikan berbagai hal dan menyatakan mencintai rakyat. Lebih dari itu, kedua hal itu mesti dilakukan dalam koridor syariat yang mengikat seorang pemimpin sehingga benar-benar memberi efek maslahat.

Ketika seorang pemimpin menyatakan bahwa ia mencintai rakyat, maka ia mesti bertanggungjawab atas ucapannya, bukan semata-mata sebagai ketamakan atas prestise, pencitraan, kebanggaan apalagi sebagai pujian, karena Al-Qur’an mengancam dengan keras manusia yang berbuat seperti itu, yakni manusia yang antara lisan dan perbuatannya tidak selaras. Firman-Nya: “Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan” (Q.S Ash-Shaff: 1-2).

Wallahua’lam bishawab.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.