Pemimpin yang Dinanti dan Dirindukan 

Oleh: Siti Ningrum, M.Pd.

Jutaan manusia berkumpul menyambut ulama yang dinanti-nantikan kepulangannya sejak beberapa tahun silam. Pekik takbir begitu riuh menggema diiringi selawat yang menggetarkan hati.

Penyambutan Ulama besar Habib Rizieq Shihab (HRS) yang tiba di Indonesia hari selasa,10 November 2020 dan bertepatan dengan hari pahlawan. Suasana begitu mengharu biru. Semua menyambut dengan rasa bahagia.
(detiknews, 10/11/2020).

Ulama yang dirindukan oleh umatnya, kini telah hadir kembali ditanah kelahirannya. Pengawalan yang begitu ketat dari aparat kepolisian diturunkan demi menjaga ketertiban. Tak bisa dibendung, massa pun turun ke jalan.

Ulama yang dinanti dan dirindukan tak bisa dimungkiri keberadaannya.  Lama tak bersua tetapi ikatan persatuan tidak akan lekang oleh waktu. Semua rasa bergelora seiring suka cita dan tangis bahagia. Sungguh mengharukan bagi siapapun yang menyaksikan. Meskipun jarak telah memisahkan, namun tak bisa menggoyahkan rasa yang sudah tercipta. Sungguh penantian yang berujung kebahagiaan.

Ulama yang dinanti dan dirindukan oleh umat akan tetap ada di setiap zamannya. Berdiri tegak memperjuangkan sebuah kebenaran. Perjalanan yang berliku penuh onak dan duri tidak akan bisa menghadang laju sebuah perjuangan.

Ulama HRS pun menggebrak perjuangannya dengan mengusung tema “revolusi akhlak”. HRS akan keliling Indonesia untuk tablig akbar dalam rangka berkonsolidasi dengan umat.

Dilansir dari tirta.co.id, Muhammad Rizieq Shihab, pentolan Front Pembela Islam (FPI) yang baru saja pulang,setelah kurang lebih tiga tahun menetap di Arab Saudi. Di mana para pengurus pusat organisasinya akan menggelar tablig akbar ke berbagai daerah di Indonesia. Dia akan berceramah dan mengonsolidasikan kekuatan untuk menggelar sesuatu yang ia sebut sebagai: ‘revolusi akhlak’ (20/11/2020).

HRS mempunyai terobosan baru di saat umat muslim saat ini sedang mengalami kemerosotan akhlak dalam berbagai hal. Liberalisme telah melahirkan kebebasan-kebebasan yang sudah tidak terkontrol. Kezaliman dan ketidakadilan kian nampak secara nyata. Untuk itulah HRS ingin merevolusi akhlak. Beliau bukannya tidak menyadari bahwasanya terobosan baru untuk hal tersebut akan menimbulkan hati para pendengki yang akan membenci, dan perjalanannya pun pasti akan banyak kerikil tajam.

Tidak mustahil suatu saat pembenci akan berbalik menjadi jatuh hati. Seperti Umar bin Khattab yang begitu membenci Nabi Muhammad saw. kala Islam datang, tetapi dengan ketajaman hati nurani Umar bin Khattab akhirnya menjadi pembela Nabi dan nisannya pun berdampingan hingga kini.

Dulu saat Rasulullah saw. hijrah ke Madinah, sangat dinantikan kedatangannya oleh masyarakat Madinah. Penyambutan yang luar biasa membuat hati bergetar dengan iringan salawat dan takbir yang menggema.

Masyarakat Madinah sangat merindukan sosok pemimpin seperti Rasulullah saw. Mereka berbondong-bondong menyambut kedatangan Sang Pemimpin yang akan menerapkan keadilan dan melenyapkan segala bentuk kezaliman serta keangkaramurkaan.

Semuanya ingin memuliakan Rasulullah saw. Rela berebut tempat untuk disinggahi. Dengan kecerdasan dan kebijaksanaannya, beliau tidak menunjuk secara langsung tempat yang akan dijadikan persinggahan di Madinah. Rasulullah saw. tidak ingin menyakiti hati kaum Anshor, maka untalah yang dijadikan sebagai petunjuk akan dimanakah beliau tinggal. Jangankan berbuat zalim, menyakiti hati umat sedikit saja Rasulullah saw tidak mau melakukannya. Keadilan pun selalu ditegakkan meskipun terhadap sahabat atau pun kerabat.

Itulah ciri pemimpin yang layak dijadikan teladan oleh para pemimpin-pemimpin setelahnya. Kemudian Rasulullah saw.menjadi Pemimpin sekaligus sebagai kepala negara di Madinah dan ditakuti oleh negeri-negeri Arab lainnya.

Itulah roda kehidupan yang selamanya akan terus berputar sampai tiba pada suatu penantian yakni yaumil akhir. Dimana takan lagi ada dusta yang terucap, semuanya akan ditampakan meskipun hanya sebesar biji dzarah. Baik itu sebuah kebaikan atau pun keburukan.

Sesuai dengan firman Allah swt dalam QS. Al Zalzalah: 7-8, yang artinya:

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikansekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.”

Manusia takan bisa lari dari masa itu. Semua diri sibuk menghitung amal masing-masing, bahkan akan lupa berapa lama hidup di dunia ini. Kecuali yang diingat hanyalah sebentar saja.

Sesuai dengan yang termaktub dalam QS. Al-Mu’minun ayat 112-114.

“Bertanya(Tuhan): Berapa bilangan tahun kamu berdiam di atas bumi?
Mereka menjawab: Kami telah berdiam di sana sehari atau se­terigah hari. Cobalah tanyakan kepada orang yang pandai menghitung.
_Berkata (Tuhan): Tidaklah lama kamu berdiam di sana, hanya sedikit, kalau kamu ketahui.”

Saat ini umat muslim pun sangat merindukan dan menantikan sosok ulama/pemimpin yang akan mengikuti apa yang telah dicontohkan oleh Rosulullah saw. Mengikuti manhaj kenabian adalah merupakan kewajiban sebab Allah Swt telah memerintahkan hal tersebut. Yakni dalam QS Al-Ahzab : 21.

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.”

Saatnya umat muslim mempunyai sosok pemimpin yang akan mengikuti metode kenabian, menerapkan seluruh syariat-Nya, menegakkan keadilan, dan melenyapkan kezaliman di muka bumi ini dengan izin-Nya.

Wallahu a’lam bishshawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *